Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / 50 Tahun Citibank, Digitalisasi Jadi Trendsetter Dunia Perbankan
WOL Photo/Ega Ibra

50 Tahun Citibank, Digitalisasi Jadi Trendsetter Dunia Perbankan

MEDAN, Waspada.co.id – Transisi komunikasi dari era fisik menuju era digital telah menjadi trend perubahan di zaman sekarang apalagi hal tersebut ditunjang dengan teknologi gadget yang semakin sempurna, dengan mudah dapat melakukan banyak hal melalui gadget.

Hal itu diungkapkan CEO Citi Indonesia Batara Sianturi menyikapi transisi perubahan industri perbankan saat ini, bahwa hal tersebut tidak hanya bagi industri komunikasi melainkan berlaku juga bagi perbankan. Di mana yang semula fisik kini beralih menjadi digital.

“Perbankan saat ini mengalami transformasi besar, ada tiga fase perubahan dalam dunia perbankan, sebelumnya 20 tahun lalu sekitar tahun 1990-an merupakan era kompetisi di mana perbankan berlomba-lomba membuka cabang dan memasang ATM hal itu termasuk membanggakan,” ujarnya baru-baru ini kepada Waspada Online.

Namun era berikutnya hal itu ketinggalan sehingga masuk era cooperation dan competition atau disebut co-opetition dimana konsep kerja sama namun tetap bersaing seperti dengan membangun ATM bersama atau membayar kartu kredit bisa dari bank manapun.

“Jika dahulu semua perusahaan perbankan saling bersaing dengan upaya untuk menjadi pertama di market, maka di era ini perspektif persaingan bergeser ke arah kerja sama,” lanjutnya.

Dan sekarang adalah fase lanjutan era collaboration di mana kerja sama tidak terbatas, bank antar bank, bank antar corporate, bank antar individu/konsumen, dan kerja sama dalam bentuk lainnya.

“Artinya jika sekarang konsumen masih datang ke bank, dengan digitalisasi, bank yang datang ke konsumen, dan hal ini tentunya akan memanjakan mereka dan memangkas seluruh biaya-biaya yang dipandang tidak diperlukan,” ujar Batara lagi.

Transaksi keuangan yang terjadi tidak akan memakai uang tunai, semua diproses melalui digital dan mobile. Terjadi transisi perbankan dari cabang ke telepon (analog) dan ke digital. Artinya bank nantinya sudah ada di kantong saku konsumen. Sehingga pembiayaan transaksi jual/beli dapat dilakukan melalui mobile.

Digital is mobile, artinya belum 100% digital jika konsumen tidak memiliki bank di kantong saku mereka, at the palm of their hands padahal semua transaksi dapat dilakukan secara mobile di manapun mereka berada,” lanjutnya.

Dari survei yang telah dilakukan, hampir 70 persen, konsumen tidak merasa penting datang ke toko untuk melakukan pembelian suatu produk lagi, mereka lebih mudah jika dapat memesan melalui mobile mereka.

“Hal ini terjadi di kota-kota besar seperti di Jakarta, mengapa sejumlah pasar modern baik elektronik, fashion dan lain sebagainya banyak tutup? Karena menurunnya jumlah konsumen yang datang,” terangnya.

Banyak konsumen memesan produk baik barang ataupun jasa melalui mobile hal ini tentunya telah memangkas biaya transportasi, konsumsi, dan tidak mau disibukkan dengan hal yang tidak penting.

“Dengan demikian, bagi para penyedia barang atau produk yang melihat kondisi ini lambat laun akan berpindah usaha yang sebelumnya di pasar modern maka usaha dilakukan online. Bagi mereka hal ini juga memangkas biaya-biaya lainnya yang dianggap tidak perlu,” lanjutnya kembali.

Nah, fenomena ini telah menyebabkan perubahan ekonomi yang lebih efisien tidak hanya bidang ritel namun bagi perbankan juga mengalami hal sama.

“Untuk memenuhi kebutuhan itu, Citibank memberikan pelayanan yang lebih prima di bidang digital agar memberikan kepuasan bagi konsumen Citibank,” ungkapnya.

Apalagi kualitas teknologi gadget saat ini semakin sempurna, dengan mudah dapat melakukan banyak hal melalui gadget. Dari mulai menelpon, sms, membaca berita, menonton acara kesukaan, mendengarkan musik bahkan bertransaksi jual beli pun dengan mudah dilakukan.

“Kemajuan dan perkembangan teknologi digital yang semakin pesat ini, para generasi muda dapat memanfaatkan berbagai macam aplikasi baik hardware maupun software yang bisa dimanfaatkan untuk tujuan yang positif sebagai sarana atau wadah menyalurkan kreativitas dan inovasi sehingga bisa menghasilkan value di masa mendatang,” pungkasnya. (wol/eko/wsp/data2)

Editor: AUSTIN TUMENGKOL

Check Also

Aplikasi Sleekr Solusi Pengembangan Bisnis UKM

JAKARTA, WOL – Pelaku usaha industri Usaha Kecil dan Menengah (UKM) terus meningkat setiap tahunnya, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: