Breaking News
Home / Warta / Indonesia Hari Ini / 22 Alat Pendeteksi Tsunami di Indonesia Tak Berfungsi sejak 2012
(Foto: Reni Lestari/Okezone)
(Foto: Reni Lestari/Okezone)

22 Alat Pendeteksi Tsunami di Indonesia Tak Berfungsi sejak 2012

agregasi
agregasi

 

JAKARTA – Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan alasan potensi tsunami relatif lambat dideteksi usai gempa di Tasikmalaya tadi malam.

Sebelumnya, Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sempat menyatakan gempa berkekuatan 7,3 skala richter (SR) terjadi di 43 km barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat, pada pukul 23.47 WIB, Jumat, 15 Desember 2017.

Tidak lama setelah gempa terjadi, BMKG kemudian mengeluarkan peringatan dini tsunami. Gempa yang berpusat di titik koordinat 8,03 Lintas Selatan (LS) dan 108,04 Bujur Timur (BT) dengan kedalaman 105 km tersebut dinyatakan berpotensi menimbulkan tsunami. Pukul 02.30 WIB, BMKG mencabut peringatan dini tersebut sekaligus melakukan pemutakhiran kekuatan gempa menjadi 6,9 skala richter.

Sutopo mengatakan, deteksi dini tsunami akan lebih pasti, akurat dan cepat jika Indonesia memiliki buoy, atau alat sensor yang dipasang di tengah laut.

“Dua jam tadi malam masyarakat kondisinya mencekam. Panik karena menunggu apakah terjadi tsunami atau tidak, karena kita tidak memiliki buoy tsunami,” kata Sutopo di kantornya, Jalan Pramuka, Jakarta Timur, Sabtu (16/12/2017).

Buoy mampu mengirimkan sinyal adanya gerakan muka air laut yang dibangkitkan gempa menjadi tsunami. Sutopo menjelaskan, sebenarnya Indonesia memiliki 22 buoy, dibangun pascatsunami Aceh 2004 dan tersebar di sejumlah perairan. Namun sejak 2012, seluruh buoy tersebut tidak terfungsi bahkan hilang karena aksi vandalisme dan kurangnya anggaran pemeliharaan.

“Sejak 2012 kondisi buoy sudah tidak beroperasi karena mengalami vandalisme, mengalami keterbatasan anggaran untuk pemeliharaan dan maintanance. Sehingga 22 buoy tsunami sejak 2012 tidak beroperasi,” katanya.

Jika Indonesia memiliki buoy, lanjut Sutopo, dalam kondisi gempa tadi malam, kepastian mengenai potensi tsunami bisa diketahui dua kali lebih cepat. Tapi, ia memastikan, buoy hanyalah satu bagian dari sistem deteksi dini tsunami di Indonesia. Tanpa buoy pun, deteksi dan peringatan dini tsunami tetap berjalan.

Sementara, deteksi dini tsunami yang dilakukan BMKG semalam menggunakan pemodelan dan pemantauan manual di pantai selatan Jawa. Selama dua jam pemantauan di bibir pantai diketahui tidak ditemukan adanya tanda-tanda tsunami sehingga peringatan dini pun dicabut.

“Dengan buoy tsunami, akan lebih pasti menyampaikan kepada masyarakat akan datangnya tsunami atau tidak terdeteksinya tsunami. Dan kita memerlukan peralatan-peralatan ini, jadi ke depan ini perlu dibangun kembali, diadakan kembali untuk menyelamatkan masyarakat Indonesia yang rawan dari tsunami,” pungkas Sutopo.

Check Also

BMKG

Peringatan Dini Tsunami, BMKG Minta Warga Waspada

YOGYAKARTA, WOL – Gempa bumi baru saja terasa terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Di ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.