Home / Uncategorized / Komisi VII: Pembangkit Labuhan Angin dan Pangkalan Susu Tetap Tak Maksimal
WOL Photo/Ist

Komisi VII: Pembangkit Labuhan Angin dan Pangkalan Susu Tetap Tak Maksimal

MEDAN, WOL – Di sela reses yang dilakukan oleh Ketua Komisi VII DPR RI ke wilayah Tabagsel, dia menyempatkan untuk meninjau lagi potensi pembangkit listrik tenaga uap Labuhan Angin di Tapanuli Tengah. “Dan hasilnya sangat mengecewakan,” kata dia.

Gus Irawan Pasaribu, ketua Komisi VII DPR RI, kepada wartawan di Medan, Senin (9/4), mengungkapkan sepanjang reses kali ini dia mengagendakan banyak kunjungan ke daerah-daerah, termasuk serap aspirasi dan meninjau beberapa proyek pembangkitan listrik.

“Saya coba kunjungan ke Labuhan Angin itu mendadak saja sebenarnya. Sebab waktu kita kunjungan ke sana satu setengah tahun lalu, pembangkit listrik yang punya kapasitas 2×110 MW itu hanya satu yang berproduksi, satunya lagi sedang overhaul. Jadi daya pada saat itu yang keluar 50 MW saja,” jelasnya.

Jadi saat kunjungan satu setengah tahun lalu kemampuan dayanya di bawah 50 persen, jelas Gus Irawan. “Perbedaannya, waktu satu setengah tahun lalu yang saya tinjau satu mesin saja yang overhaul. Kemarin waktu saya tinjau ini dua unitnya malah overhaul major. Perbaikan total. Kemudian satu unit yang dioverhaul satu setengah tahun lalu tak pernah juga berproduksi karena sering rusak,” tuturnya.

Atas kondisi tersebut, dia mengatakan kondisi pasokan listrik di Sibolga dan Tapteng tak bermasalah karena sambungan listrik tetap interkoneksi. “Melihat overhaul yang dilakukan ini saya desak PLN agar menyelesaikan semua proses itu secepatnya. Kita tunggu mereka selesaikan itu,” tuturnya.

Jangan karena pasokan listrik Sumut sudah surplus lalu mereka berleha-leha dan lambat menyelesaikannya, ungkap Gus Irawan yang juga wakil ketua Fraksi Gerindra di DPR-RI. “Nanti malah kedua pembangkit itu sama sekali off karena pengerjaan yang lambat,” tuturnya.

Menurut Gus Irawan Pasaribu, laporan PLN ke Komisi VII DPR RI hingga saat ini pasokan listrik Sumut ada surplus 140 MW. “Kapasitas Labuhan Angin itu kan 2×220 MW. Kalau daya mampunya katakanlah 170 MW atau ada deficit 30 MW, harusnya sebagian wilayah daerah Taut ada pemadaman,” jelasnya.

Namun yang paling mengkhawatirkan Gus adalah PLTU Labuhan Angin akan sama nasibnya dengan PLTU Pangkalan Susu. “Sebab kedua mesin ini kontraktornya sama-sama dari China dan setahu saya perusahaan yang sama juga,” tuturnya. “Ini saya mau tinjau yang PLTU Pangkalan Susu. Tapi tidak usah dikasi tahu kapan. Nanti pokoknya akan kita evaluasi dan paparkan,” kata dia.

Pangkalan Susu itu, menurutnya, selalu bermasalah. “Begini, setiap kali ada pemadaman di Sumut kan saya selalu terinformasi. Begitu saya cross check ke PLN jawaban mereka bahwa ada masalah di Pangkalan Susu. Kenapa masalah? Sebagai mesin baru, ibaratnya kata mereka pembangkit ini seperti bayi. Harus belajar jalan dulu, karena masih sangat muda,” kata Gus mengutip penjelasan PLN.

“PLTU Labuhan Angin katanya sudah terlalu tua sehingga tak bisa beroperasi maksimal. Padahal usianya belum terlalu lama. PLTU Pangkalan Susu kata mereka masih terlalu muda jadi tak bisa maksimal juga. Terus kapan mereka matang-matangnya? Labuhan Angin saja tak pernah kapasitas penuh,” kata dia.

Gus Irawan menyatakan ada yang salah dengan pembangunan dua pembangkit ini karena tak mampu memenuhi daya maksimal. “Nanti akan kita komparasi secara berkelanjutan sampai dimana prosesnya. Sehingga ada perbandingan untuk melihat kemampuan dua mesin pembangkit buatan China tersebut,” tegasnya. (wol/ags/min/data1)

Editor: Agus Utama

Check Also

Komisi VII Wacanakan Penjualan BBM Kemasan

MEDAN, Waspada.co.id – Komisi VII DPR RI yang membidangi energi dan lingkungan hidup mewacanakan untuk ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: