_
Home / Harapan baru pasca reshuffle kabinet jokowi

Harapan baru pasca reshuffle kabinet jokowi

WOL – Presiden Jokowi telah melakukan reshuffle kabinet di istana Negara Jakarta pada Tanggal 12 Agustus 2015. Reshuffle kabinet ini dilakukan untuk meningkatkan kinerja dan performa tugas-tugas para menteri sebagai pembantu presiden kedepannya. Untuk meningkatkan koordinasi, komunikasi dan perbaikan ekonomi. Ada kecenderungan reshuffle kali ini lebih fokus kepada menko. Bila pemerintah bekerja dengan baik, berarti perbaikan hidup rakyat dapat meningkat. Reshuffle kabinet harus menjadi cambuk bagi para menteri untuk meningkatkan produktivitasnya.

Reshuffle kabinet sepenuhnya hak prerogatif presiden. Keputusan reshuffle tergantung dari hasil evaluasi kinerja para menteri yang dilakukan secara objektif oleh presiden. Yang menjadi pertanyaan adalah, apa yang kemudian jadi landasan argumentasinya sehingga dilakukan reshuffle kabinet. Sebuah kabinet, idealnya merefleksikan strategi politik dan kebijakan presiden. Jadi reshuffle dilakukan bukan karena desakan publik atau tekanan partai politik, tapi dari hasil kinerja para menterinya.

Rakyat menginginkan perubahan di kabinet (reshuffle) agar kehidupan bisa lebih baik yaitu dengan stabilnya harga kebutuhan pokok. Tapi harus diingat bahwa elit juga sangat menginginkan reshuffle kabinet. Baik itu elit parpol ataupun elit pengusaha. Elit parpol pasti bertujuan untuk menambah jumlah kader mereka di kabinet. Sedangkan elit pengusaha mendorong reshuffle agar mereka sendiri atau kroninya bisa menjadi menteri untuk tujuan melindungi kepentingan bisnis mereka. Pada konteks ini Presiden harus bijak membuat keputusan agar kepentingan rakyat yang dikedepankan.

Kemungkinan tujuan reshuffle kabinet jokowi kali ini adalah untuk meningkatkan kepercayaan rakyat kepada pemerintah yang dinilai mulai menurun. Belakangan ini sorotan banyak ditujukan kepada tim ekonomi di kabinet. Pemicunya antara lain dengan terus naiknya harga-harga bahan kebutuhan pokok. Sebuah survei merilis bahwa lebih dari 66 persen rakyat tak puas dengan kinerja di bidang ekonomi. Selain itu Menteri Perdagangan juga mendapat sorotan publik dengan naiknya harga daging sapi serta mengalami kelangkaan di pasar.

Setelah lama ditunggu akhirnya Presiden melakukan reshuffle terhadap enam kementerian. Pro dan kontra biasa terjadi dengan adanya perubahan komposisi kabinet yang baru. Enam menteri yang baru dilantik Jokowi yakni, Darmin Nasution yang menjabat Menko Perekonomian, Rizal Ramli yang menjabat Menko Kemaritiman, Pramono Anung yang menjadi Seskab, Sofyan Djalil yang menjadi Kepala Bappenas, Luhut Binsar Pandjaitan yang menjadi Menko Polhukam, dan Thomas Lembong yang menjadi Menteri perdagangan.

Tantangan dan Harapan
Tantangan menteri bidang perekonomian memang sangat berat. Tapi secara umum situasi global merupakan tantangan yang sangat berat buat tim kabinet Jokowi. Kondisi global sangat mempengaruhi keadaan di dalam negeri. Ditambah lagi saat ini adu pengaruh Tiongkok dan Amerika Serikat kian terasa. Bahkan telah terjadi perang valuta, dimana ada negara yang melakukan devaluasi dengan tujuan mendorong ekspor negaranya dan mengurangi impor. Artinya prospek barang ekspor Indonesia semakin sulit masuk.
Isu di dalam negeri adalah mengurangi impor untuk mendukung kebijakan kedaulatan pangan, termasuk impor daging sapi dan lainnya. Kelangkaan daging sapi di pasar sehingga harga melambug tinggi adalah salah satu eksesnya. Pemerintah harus meningkatkan tata kelola logistik dan ketersedian pasokan agar kebijakannya tidak didikte oleh para spekulan yang berorientasi pada keuntungan semata. Kadang pada konteks ini ini pemerintah sering mengalah dan terpaksa membuka keran impor yang merugikan petani.

Wacana-wacana swasembada yang selalu di gaungkan pemerintah harusnya dapat menjadi prioritas di dalam negeri. Diantaranya swasembada gula, dan daging serta kebutuhan pokok lainnya. Para menteri yang duduk di kabinet harus bisa melakukan kerjasama antar lembaga dan membuang jauh-jauh ego sektoral. Kalau tidak maka akan muncul masalah-masalah seperti sebelumnya. Mungkin ini juga yang menjadi fokus Jokowi, yaitu masalah koordinasi. Dapat kita lihat komposisi menteri yang banyak di reshuffle adalah Menko (Menteri Koordinator).

Belakangan ini ada kecenderungan rendahnya penyerapan aggaran pemerintah, sehingga pergerakan roda perekonomian melambat. Serapan anggaran harus cepat keluar. Uang APBN secepatnya harus keluar untuk belanja modal, dan  belanja barang. Ini akan mempengaruhi ekonomi di masyarakat, termsauk konsumsi di masyarakat. Sekarang ini rata-rata serapan anggaran APBN, dan APBD lambat. Contoh Pemprov DKI Jakarta juga menurun pada Tahun 2014 dibandingkan 2013. Harus  diingat pembelanjaan APBD dan APBN dan dana yang dimiliki BUMN juga harus dibelanjakan di sektor yang tepat sehingga berkontribusi pada penggerakan roda ekonomi nasional.

Sektor pangan merupakan salah satu problem yang ada saat ini. Dapat kita lihat masalah yang ada di pangan mempunyai kaitan dengan sektor lain. Beberapa masalah terdekat di antaranya ancaman kekeringan lahan pertanian dimana-mana, harga daging melambung, dan inflasi. Yang ujungnya target pemerintah yaitu ketahanan pangan dan kedaulatan pangan dapat terwujud dengan cepat. Kalau masalah perut dapat teratasi kemungkinan pemeritahan Jokowi akan langgeng hingga masa akhir jabatannya atau bahkan bisa terpilih pada periode berikutnya. Selamat bekerja para Menteri yang baru.(***)
Oleh: Mohd. Nawi Purba, STP, MM (Wirausahawan), tinggal di Medan

Check Also

Panjat Pinang, Tradisi Kemerdekaan Tak Lekang Oleh Waktu

PERCUT SEITUAN, Waspada.co.id – Memeriakan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74, berbagai cara unik dilakukan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.