Home / Fokus Redaksi / Syamsul Arifin: Kita Doakan Erry Jadi Menteri
WOL Photo

Syamsul Arifin: Kita Doakan Erry Jadi Menteri

MEDAN, WOL – Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), H Tengku Erry Nuradi, menghadiri pengukuhan DPP IKA Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Sumatera Utara di Hotel Polonia Medan, Sabtu (24/2) malam.

Pengukuhan para alumni KNPI ditandai orasi kebangsaan serta penobatan mantan Gubsu Datok Sri Syamsul Arifin sebagai Wali Rakyat. Dalam kesempatan itu, Syamsul mengajak seluruh mantan kader ikut bekerja menjadikan provinsi ini maju dan diperhitungkan.

Menurutnya, tidak ada pengabdian yang pensiun, meskipun tidak lagi duduk di organisasi kepemudaan tersebut. Apalagi katanya, banyak tokoh yang menduduki posisi penting hingga menteri seperti Boomer Pasaribu.

“Karena urusan rakyat ini tidak banyak, pertama tidak lapar, tidak bodoh dan tidak miskin dan dia punya masa depan. Apa yang dibuat Pak Tengku Erry sudah mantap. Makanya kita mau lihat siapa yang mampu membuat (melanjutkan),” katanya.

Atas prestasi yang telah banyak ditorehkan Erry selama menjabat gubernur, Syamsul pun mengajak seluruh hadirin mendoakan orang nomor satu di Sumut itu menjadi menteri. Dirinya melihat semangat besar mantan Bupati Sergai tersebut terus membangun provinsi yang terdiri atas 33 kabupaten/kota ini.

“Saran saya, beliau ini diberi gelar pada Milad KNPI nanti. Kalau kami dari MABMI akan adakan syukuran, apalagi beliau mengantarkan Pilkada Sumut ini dengan baik,” ucap Syamsul.

Begitu juga dengan tahun politik saat ini, Syamsul bergelar Datuk Sri Lelawangasa ini juga meminta semua pihak khususnya tokoh-tokoh alumni KNPI bersama menjadikan Pilgubsu 2018 lebih baik. Tidak menimbulkan konflik apalagi berbau SARA ,sebab banyak yang menginginkan Indonesia terpecah belah, terlebih Sumut salah satu miniatur Indonesia.

Dalam sambutannya, Gubsu mengatakan sialturrahim tokoh-tokoh alumni KNPI Sumut lintas generasi merupakan kegiatan yang dinantikan. Hal ini, selain mempererat hubungan sesama mantan kader, juga bentuk refleksi atas perkembangan dinamika bangsa.

“Sekarang ini banyak yang membagi bahwa dahulu adalah zaman old dan sekarang zaman now. Kalau teknologi secara fisik, mungkin zaman nenek moyang kita dulu juga tidak kalah. Coba lihat Candi Borobudur, yang sekarang belum tentu kita bisa buat. Jadi yang membedakannya adalah teknologi informasi yang kini berkembang pesat, orang tidak perlu ke sana kemari untuk bisa mendapatkan sesuatu, cukup pesan melalui smartphone, itulah bedanya,” ujar Erry. (wol/aa/data2)

Editor: AUSTIN TUMENGKOL

Check Also

Sepanjang 2018, Inflasi Relatif Terkendali

SUMUT, Waspada.co.id – Sepanjang 2018, Sumatera Utara mencatat angka inflasi yang relatif terkendali serta rendah ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: