_
Home / Sumut / Ponpes Jabal Noor Deliserdang Bahas Isu Radikalisme dan Islam
Foto: Waspada.co.id

Ponpes Jabal Noor Deliserdang Bahas Isu Radikalisme dan Islam

SUNGGAL, Waspada.co.id – Sebagai pemuda Islam yang mendalami ajaran agama, kita harus mampu menjadi benteng pertahanan untuk keutuhan persatuan bangsa Indonesia dan agama Islam. Umat Islam harus bersatu, jangan saling menyalahkan satu sama lain, dan tak boleh saling mengejek, kita harus bekerja sama dalam hal yang kita sepakati dan berlapang dada dalam hal-hal yang kita berbeda pendapat.

Demikian disampaikan oleh Ustadz Sibawaih, Lc, M.A., pada Seminar Anti Radikalisme yang digelar Himpunan Mahasiswa Anti Radikalisme bekerjasama dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), di Pondok Pesantren Jabal Noor, Kecamatan Sunggal, Kabupaten Deliserdang, Minggu sore (28/10).

Ustadz Sibawaih menegaskan bahwa Islam adalah agama lemah lembut dan kasih sayang yang mencintai perdamaian namun juga mengajarkan ketegasan dalam beberapa kondisi. “Misalnya ketika saudara perempuan kita diganggu orang, maka kita harus melindunginya dan tidak boleh hanya diam saja,” tutur Dosen Universitas Islam Negeri Sumatera Utara ini.

Ustadz Ridwan, S.Pdi., narasumber lainnya dalam diskusi yang mengusung tema “Mengenal Bahaya Radikalisme di Indonesia” itu, menjelaskan bahwa “Radikalisme” adalah perubahan yang dilakukan dengan cara kekerasan, ekstrim, dimana suatu kelompok ataupun individu menginginkan gerakan kerusuhan yang ujung-ujungnya menimbulkan kekacauan. Radikalisme bisanya datang dari kesalahan seorang murid mencari guru.

“Maka, kita harus tahu kapasitas dan kapabilitas guru kita yang akan kita ambil ilmunya sehingga ilmu yang kita pelajari dan yang akan kita amalkan nantinya menjadi ilmu yang berkah, karena sebagai pelajar Islam kita harus mampu menjadi panutan masyarakat, tempat bertanya masyarakat dalam ketidaktahuan mereka, dan jangan menjadi pemecah belah umat,” tegasnya.

Sementara Pengurus Al Washliyah Medan, Ustadz Yusriza, M.A menjelaskan bahwa saat ini banyak yang berfikir kalau ada orang pakai jubah, langsung disebut radikal, padahal itu bukan radikal. “Bukan pakaian yang membuat orang menjadi radikal, tapi pemikiran dan tindakan yang sesat. Itu lah radikalisme. Sekarang banyak orang yang menganggap agama Islam menciptakan terorisme. Padahal Islam sendiri tidak pernah mengajarkan untuk membunuh orang kafir yang tidak menggangu kita. Bahkan Islam mengajarkan kasih sayang terhadap binatang, apa lagi manusia,” ujarnya.

“Jadi untuk menghindari faham radikalisme, kita harus senantiasa meningkatkan keimanan kita, karena faham radikal hanya akan masuk pada orang-orang yang beriman lemah,” pungkasnya.(wol/data2)

Editor: RIDIN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.