Home / Sumut / PLTA PT NSHE di Tapanuli Dibiayai dan Dimiliki Tiongkok
istimewa

PLTA PT NSHE di Tapanuli Dibiayai dan Dimiliki Tiongkok

JAKARTA, Waspada.co.id – Menanggapi pernyataan Anggota Dewan Energi Nasional (DEN) yang mewakili unsur pemerhati lingkungan hidup, Sony Keraf, mengenai adanya intervensi asing terhadap proyek PLTA PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE) yang dinilai tidak pantas, Koalisi Perlindungan Orangutan Tapanuli yang terdiri atas Mighty Earth menyatakan melindungi spesies langka, terlebih baru ditemukan dan terancam habitatnya tanggung jawab bersama.

Panut Hadisiswoyo, Founding Director Orangutan Information Center, juga membantah bahwa anggapan intervensi asing dalam upaya penutupan proyek tersebut dinilai tidak pantas. Bahkan Panut membandingan dengan pendanaan dan kepemilikan proyek PLTA PT NSHE yang berasal dari Tiongkok.

“Ironisnya, apakah pembiayaan proyek oleh Bank of China dan kepemilikan oleh perusahaan hydroelectric raksasa dari Tiongkok, Sinohydro bukan termasuk intervensi asing? Sebagai investor, tentunya memiliki hak dalam kebijakan dari proyek tersebut,” ujar Panut dalam rilis yang diterima Waspada Online, Kamis (14/3).

“Bank of China sendiri menyatakan dalam respon terhadap tekanan organisasi lingkungan bahwa Tiongkok mendukung perlindungan lingkungan secara global dan menegakkan prinsip pembiayaan hijau. Ini berarti bahwa Tiongkok mengakui bahwa negara-negara asing memang berkewajiban mendukung pelestarian lingkungan secara global,” katanya.

Waduk yang akan dibangun di Sungai Batang Toru, Sumatera Utara bersama perusahaan dari Tiongkok, Sinohydro dengan dana dari Bank of China ini dinilai mengancam spesies orangutan terbaru dan mata pencaharian penduduk asli di sana.

“Ketika kami mendukung tenaga air dengan teknik run-of-the river, bendungan yang dibangun di Batang Toru tidak sesuai dengan definisi tersebut. Saat pemerintah menggalakan pariwisata melalui kampanye ‘Wonderful Indonesia’, kita semua tidak bisa membiarkan proyek pembangunan PLTA Batang Toru ini mengancam kelangsungan hidup Orangutan Tapanuli – bagian dari warisan alam Indonesia yang menakjubkan dan baru saja ditemukan,” papar CEO Mighty Earth, Glenn Hurowitz.

Kecaman terhadap pembangunan proyek PLTA Batang Toru bukan tanpa alasan. Selain ancaman kepunahan spesies yang hanya hidup di hutan Batang Toru ini, banyak kekhawatiran akan terjadi ketika PLTA tersebut selesai dibangun. Di antaranya lokasi PLTA berada di dalam zona merah gempa, daerah hilir Sungai Batang Toru memiliki tingkat kerawanan banjir yang tinggi, berkurangnya debit air bagi masyarakat bantaran sungai, khususnya di hilir yang merupakan lokasi proyek senilai 1,6 juta dolar AS tersebut.

Orangutan Tapanuli baru dikukuhkan pada awal November 2017 sebagai spesies baru yang berbeda dari Orangutan Sumatera dan Kalimantan setelah ditemukan bayi kembar di Hutan Batang Toru. Para peneliti menilai masih ada harapan menggabungkan habitat Orangutan tersebut di daerah hilir untuk mencegah kepunahan, namun lokasi tersebut menjadi titik utama proyek pembangunan PLTA yang dibangun PT NSHE.

“Saya tidak terkejut dengan tudingan tentang kepentingan asing. Sudah biasa terjadi dalam kontroversi lingkungan hidup. Ketika argumentasi logis sudah tidak dapat dipatahkan lagi, biasa mereka menuding dengan pernyataan politik. Tentang pembabatan hutan membuka perkebunan kelapa sawit misalnya, sudah jelas telah menyebabkan genosida pada Orangutan dan juga mengancam harimau dan gajah,” jawab Hardi Baktiantoro, prinsipal Center of Orangutan Protection (COP).

Melihat potensi alam di Tapanuli, PLTA bukanlah satu-satunya solusi bagi kebutuhan listrik bagi masyarakat sekitar. Masih banyak opsi lain, salah satunya Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Sarulla yang sudah beroperasi dan memiliki total kapasitas sebesar 3×110 MW dan salah satu PLTP terbesar di dunia.

“Kami percaya pemerintah Indonesia mampu melindungi keajaiban alam Indonesia dan spesies yang terancam punah, seperti saat rencana pembangunan pembangkit panas bumi di Taman Nasional Gunung Leuser ditolak pada 2016. Pembicaraan kami dengan pemerintah maupun PT NSHE sudah jelas bahwa kami akan membantu mencari lokasi yang lebih baik dan mengembangkan beberapa alternatif lain, termasuk menambah kapasitas PLTP Sarulla untuk mencukupi kebutuhan energi di daerah Sumut dan sekitarnya,” pungkas Glenn. (wol/aa/rls/data1)

editor AUSTIN TUMENGKOL

Check Also

Langkah Mitigasi Dampak PLTA Batangtoru Sudah Tepat

JAKARTA, Waspada.co.id – Langkah yang dilakukan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang melakukan mitigasi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: