_
Home / Sumut / Perhatian Dunia Terhadap Isu Batangtoru Bentuk Dukungan Pelestarian Alam, Bukan Intervensi
istimewa

Perhatian Dunia Terhadap Isu Batangtoru Bentuk Dukungan Pelestarian Alam, Bukan Intervensi

Batangtoru, Waspada.co.id – Beberapa wartawan dari media nasional maupun lokal berkunjung ke daerah Simarboru (Sipirok, Marancar, dan Batangtoru) di Kabupaten Tapanuli Selatan, diinisiasi oleh Koalisi Perlindungan Orang Utan pada 30 April-4 Mei 2019 sebagai tindak lanjut isu pembangunan PLTA oleh PT North Sumatra Hydro Energy (NSHE) yang menuai pro dan kontra baik itu dari aktivis lingkungan hingga masyarakat.

Beberapa hari sebelum kunjungan, muncul isu penolakan keterlibatan pihak asing oleh beberapa elemen masyarakat Simarboru atas megaproyek senilai 1,6 miliyar dolar AS tersebut. Diakui salah satu penduduk lokal yang tinggal di daerah Batangtoru melihat adanya beberapa orang yang berdiri di atas Jembatan Batang Toru sambil membentangkan spanduk bertuliskan “Tolak & Usir Pihak Asing dan Lembaga yang Menentang Proyek Strategis Nasional PLTA Batang Toru”.

“Ya, saya lihat ada sekelompok massa yang membawa spanduk berdiri di atas jembatan tapi tidak lama, tidak ada orasi atau apapun. Besoknya, muncul di media mengenai aksi tersebut. Jadi, sebenarnya memang beberapa kali ada aksi seperti itu, tapi tidak tahu apa motifnya atau hanya kepentingan dokumentasi saja, saya tidak tahu,” ujar penduduk lokal yang enggan disebut namanya, Kamis (2/5).

Selang dua hari sebelum kedatangan rombongan wartawan, muncul artikel penyataan Koordinator Presidium Gerakan Rakyat Antikorupsi (GeRAK) Indonesia, Akhirudin, menuding keterlibatan organisasi asing di balik aksi LSM lokal, seperti YEL dan Walhi Sumut dalam upaya menggagalkan proyek PLTA tersebut.

Photo courtesy Aditya Sumitra

Isu keterlibatan asing ini dan aksi tandingan seperti ini seringkali muncul saat para aktivis lingkungan melakukan aksi maupun kegiatan untuk mengkampanyekan penyelamatan ekosistem hutan seluas 150 ribu hektar tersebut. Beberapa bulan lalu, rombongan Walhi menemukan berbagai demonstrasi menolak aksi aktivis yang menghambat proses pembangunan PLTA di tengah perjalanan ke hutan Batangtoru untuk melihat keanekaragaman hayati.

“Saya tidak terkejut dengan tudingan tentang kepentingan asing. Sudah biasa terjadi dalam kontroversi lingkungan hidup. Ketika argumentasi logis sudah tidak dapat dipatahkan lagi, biasa mereka menuding dengan pernyataan politik. Tentang pembabatan hutan membuka perkebunan kelapa sawit misalnya, sudah jelas telah menyebabkan genosida pada orangutan dan juga menjadi ancaman nyata bagi harimau dan gajah, yang dilakukan malah sibuk tuding sana-sini, bukannya menegakkan hukum,” jawab Hardi Baktiantoro, Principal Center of Orangutan Protection (COP).

Panut Hadisiswoyo, Founding Director Orangutan Information Center, juga membantah anggapan intervensi asing dalam upaya penutupan proyek tersebut dinilai tidak pantas. Bahkan Panut membandingan dengan pendanaan dan kepemilikan proyek PLTA PT NSHE yang berasal dari Tiongkok.

“Ironisnya, apakah pembiayaan proyek oleh Bank of China dan kepemilikan oleh perusahaan hydroelectric raksasa dari Tiongkok, Sinohydro bukan termasuk intervensi asing? Sebagai investor, tentunya memiliki hak dalam kebijakan dari proyek tersebut,” ujar Panut.

Meski Bank of China dan Pemerintah Tiongkok telah menunjukkan minat mendukung proyek ini secara finansial, berbagai protes dari peneliti dan lembaga konservasi seluruh dunia membuat Bank of China akan mengevaluasi pendanaannya terhadap proyek PLTA di Batangtoru.

“Kami berkomitmen mendukung perlindungan lingkungan hidup global dan menegakkan prinsip-prinsip green finance. Bank of China akan mengevaluasi proyek tersebut (PLTA Batangtoru) dengan sangat hati-hati dan mengambil keputusan yang bijak, mempertimbangkan promosi pendanaan hijau sebagai tanggung jawab sosial dan kepatuhan terhadap prinsip komersial”, pernyataan Bank of China yang dilansir dari situs resminya.

“Di saat perhatian dunia tertuju pada Indonesia dan berupaya menyelamatkan lingkungan dari kerusakan permanen yang bisa berakibat fatal tidak hanya bagi Indonesia namun seluruh penghuni bumi, segelintir masyarakat Indonesia sendiri malah sibuk menuding adanya intervensi yang mengganggu kedaulatan dan lain sebagainya. Bukan kedaulatan yang terganggu, tapi sudah jelas sumber daya alam kita yang sudah diganggu akibat kelalaian dan pengabaian perusahaan serta pihak2 yang tidak bertanggung jawab. Jadi ini bentuk dukungan bukan intervensi. Dunia mendukung kami,” lanjut Hardi.

Panut menambahkan pihaknya memperjuangkan bukan semata-mata kepentingan mereka saja, melainkan ada ratusan ekor species langka dan dilindungi di seluruh dunia yang terancam punah, keanekaragaman hayati di ekosistem hutan dan Sungai Batangtoru, dan ribuan masyarakat yang merasakan dampak buruk megaproyek tersebut.

“Kami menunggu respon daripemerintah juga, langkah apa yang akan dilakukan untuk melindungi harta kekayaan Indonesia ini,” pungkas Panut. (wol/rel/data2)

Check Also

Kelestarian Lingkungan Menjadi Elemen Penting PLTA Batang Toru

MEDAN, Waspada.co.id – Senior Advisor Lingkungan PT NSHE, Dr. Agus Djoko Ismanto Ph.D, Agus Djoko ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.