Home / Sumut / Kampanye Negatif Masih Jadi Tantangan EBT
WOL Photo

Kampanye Negatif Masih Jadi Tantangan EBT

MEDAN, Waspada.co.id – Kampanye negatif berkait isu lingkungan masih menjadi tantangan utama pengembangan pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan (EBT) di Indonesia.

Namun, sepanjang pengembang pembangkit listrik EBT taat asas menjalankan seluruh regulasi dan proaktif membangun kolaborasi dengan para pemangku kepentingan, maka pemerintah tetap mendorong pembangunan untuk menyediakan energi bersih dan ramah lingkungan.

Seminar bertajuk “Energi Baru dan Terbarukan, Strategi dan Teknologi” yang digelar dalam peringatan Hari Listrik Nasional ke-73.

Diskusi menghadirkan pembicara Nisriyanto, yang mewakili Ketua Umum Asosiasi Panas Bumi Indonesia Priandaru, dan praktisi pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), Anton Sugiono.

“Meskipun pembangkit listrik berbasis energi baru dan terbarukan ramah lingkungan dan berperan penting dalam menyerap emisi karbon, masih ada organisasi nonpemerintah yang menyebar kampanye negatif. Padahal, listrik tenaga air justru akan merawat kelestarian hutan agar sumber air yang menjadi bahan baku EBT tetap lestari,”tutur praktisi pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT), Anton Sugiono, Rabu (19/9).

Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional, penggunaan energi terbarukan menjadi prioritas sementara energi berbasis fosil seperti solar dan batubara diminimalkan.

“Dalam rencana umum penyediaan tenaga listrik (RUPTL) 2018-2027, kontribusi EBT dalam bauran energi pembangkitan tenaga listrik ditargetkan naik mencapai 23% pada tahun 2025,” ungkapnya.

Beberapa energi primer yang diharapkan meningkat kontribusinya adalah panas bumi, tenaga surya, tenaga angin, dan tenaga air. Termasuk yang kini dikembangkan adalah pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Batang Toru di Tapanuli Selatan yang berkapasitas 4×127,5 MW. PLTA Batang Toru yang dibangun PT North Sumatera Hydrology Energy (NSHE) akan memanfaatkan kolam penampung yang tidak luas sehingga tidak akan mengubah bentang alam dan berdampak minimal pada ekosistem yang ada di sekitarnya.

Ia menambahkan dalam pengembangan PLTA Batangtoru, kata Anton, aktivis organisasi nonpemerintah lingkungan menuding NSHE membuka vegetasi hutan primer. Padahal sesungguhnya, kata Anton, proyek tersebut dibangun di lahan berstatus Areal Penggunaan Lain (APL) yang merupakan bekas tanah pertanian warga, seperti kebun karet tua.

“NSHE pun kemudian proaktif membangun kolaborasi dengan pemangku kepentingan, seperti para pakar Universitas Sumatera Utara dan Institut Pertanian Bogor dan pihak lainnya. Kolaborasi NSHE dengan para pemangku kepentingan diharapkan mendorong percepatan pembangunan PLTA Batangtoru yang ditargetkan beroperasi tahun 2022,” tambahnya.

Pembangkit berteknologi canggih ini didesain irit lahan dengan hanya memanfaatkan badan sungai seluas 24 Hektare (Ha) dan lahan tambahan di lereng yang sangat curam seluas 66 Ha sebagai kolam harian untuk menampung air.

“PLTA Batang Toru sangat efisien dalam penggunaan lahan, terutama jika dibandingkan dengan Waduk Jatiluhur di Jawa Barat yang membutuhkan lahan penampung air seluas 8.300 Ha untuk membangkitkan tenaga listrik berkapasitas 158 MW,” lanjutnya.

Pemerintah menargetkan suplai listrik sebesar 100.000 MW tahun 2025, dengan 23.000 MW di antaranya berasal dari pembangkit listrik berbasis EBT. Hal ini membuat pemerintah menargetkan pembangunan 2.000 MW listrik berbasis EBT setiap tahun.

Sementara menurut, Nisrianto bahwa pemerintah saat ini sangat mendukung pengembangan EBT untuk menggantikan energi fosil secara bertahap.

“Berbagai regulasi dibangun dan pengaturan tarif pun kini semakin positif sehingga investasi EBT untuk memenuhi kebutuhan energi rakyat Indonesia dalam beberapa dekade mendatang semakin bergairah,” pungkasnya.(wol/eko/data2)

Editor: RIDIN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: