Home / Sumut / Kampanye Negatif Hambat Kemandirian Energi Nasional
Istimewa

Kampanye Negatif Hambat Kemandirian Energi Nasional

MEDAN, Waspada.co.id – Berbagai proyek pembangunan pembangkit berbasis energi terbarukan untuk kemandirian energi nasional terancam oleh kampanye negatif berkait lingkungan.

Ada upaya meniupkan argumentasi keliru untuk menghalangi pembangunan pembangkit listrik berbasis energi terbarukan di Indonesia.

Aksi ini diduga turut melibatkan ilmuwan asing untuk menyerang sejumlah proyek infrastruktur yang merupakan Proyek Strategis Nasional Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

Mereka mengabaikan kolaborasi pemerintah dan swasta mengembangkan energi terbarukan ramah lingkungan untuk memacu pemerataan pembangunan di luar Pulau Jawa.

Pakar konservasi sumber daya hutan dan ekowisata Institut Pertanian Bogor (IPB), DR Ricky Avenzora mengatakan kampanye negatif itu menggunakan praksis dramatisasi data yang tidak tepat.

“Kajian ilmuwan asing yang digunakan banyak yang tidak sesuai kenyataan lapangan,” tutur Ricky, Senin (20/8).

Berbagai dinamika yang ada menunjukkan bahwa relatif sangat banyak organisasi nonpemerintah yang bertindak, dengan dengan interpretasi yang dilebih-lebihkan (hiperbola).

“Indikasi itu misalnya muncul dalam informasi hasil riset yang mendiskreditkan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Proyek PLTA Batang Toru disebut akan memicu deforestasi dengan pembangunan dam raksasa untuk menampung air, jalan akses, dan jaringan transmisi listrik,” jelasnya.

Padahal sebelumnya dalam rapat di DPRD Sumatera Utara pengembang PLTA Batangtoru, PT North Sumatera Hydro Energy, sudah menyatakan, pembangkit yang akan menjawab krisis listrik di Sumatera itu disiapkan dengan teknologi tinggi sehingga tak butuh bendungan raksasa.

Pembangkit berteknologi canggih ini didesain irit lahan dengan hanya memanfaatkan badan sungai seluas 24 Hektare (Ha) dan lahan tambahan di lereng yang sangat curam seluas 66 Ha sebagai kolam harian untuk menampung air.

“Air kolam harian tersebut akan dicurahkan melalui terowongan bawah tanah menggerakkan turbin yang menghasilkan tenaga listrik sebesar 510 MW.

PLTA Batang Toru sangat efisien dalam penggunaan lahan, terutama jika dibandingkan dengan Waduk Jatiluhur di Jawa Barat yang membutuhkan lahan penampung air seluas 8.300 Ha untuk membangkitkan tenaga listrik berkapasitas 158 MW,” ungkapnya.

Sementara menurut Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB, Prof. Yanto Santosa, jika pembangunan pembangkit listrik tersebut sangat mendesak maka yang harus dipikirkan oleh akademisi, pakar dan pegiat lingkungan adalah bagaimana solusi agar dampak operasionalnya minimal terhadap ekologi, termasuk keberadaan orangutan.

“Dilihat urgensinya. Kalau memang sangat penting, jangan dipertentangkan. Tapi harus tetap berjalan dengan solusi dampak minimal bagi orangutan,” tambahnya.

“Semua akademisi dan pakar terkait serta para pegiat lingkungan perlu duduk bersama untuk membahas secara komprehensif dan konstruktif dampak pembangunan PLTA Batangtoru. Biar semuanya jelas dan tidak ada yang ditutupi,” pungkasnya.(wol/Eko/data1)
Edutor: RIDIN

Check Also

KLHK Pastikan PLTA Batangtoru Tak Ganggu Orangutan

BATANGTORU, Waspada.co.id – Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) akan memastikan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: