Breaking News
_
Home / Sumut / Jual Paruh Burung Rangkong, Penyidik Tetapkan Seorang Tersangka
Burung Rangkong (Hornbill) yang diamankan petugas Polhut Taman Nasional Gunung Leuser (TNGL) di Balai Besar TNGL, Medan, Jumat (26/6). Petugas mengamankan seekor burung Rangkong (Hornbill) yang dipelihara oleh warga di resort Bekancan dusun 5 kampung Antara karena termasuk hewan yang dilindungi. (WOL Photo/Ega Ibra)

Jual Paruh Burung Rangkong, Penyidik Tetapkan Seorang Tersangka

MEDAN, WOL – Setelah melakukan pemeriksaan, Penyidik Pegawai Negeri Sipil Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (PPNS BBTNGL) menetapkan satu orang tersangka, inisial Z dalam kasus penjualan haram 12 parung rangkong.

Sedangkan 1 orang lagi inisial A yang juga sempat diperiksa, sudah dilepaskan karena dianggap tidak terkait.‬ Hal tersebut diungkapkan Koordinator PPNS BBTNGL, P. Turnip kepada wartawan, Senin (29/6).

Dijelaskan, rekan tersangka Zamaas (Z), yakni Albab (A) memang ada indikasi pernah memburu namun di dalam kasus 12 paruh rangkong ini, dia hanya datang dari Pekanbaru dan tidak terlibat.

“Memang dia aktivitasnya memburu tapi di Padang. Dalam kasus ini dia yang datang dari Pekanbaru, kita melakukan penangkapan untuk barang 12 paruh rangkong dia ada di situ tapi dia tidak terkait. Makanya dia tidak kita tetapkan sebagai tersangka,” katanya.‬

‪Namun demikian, untuk tersangka Z, pihaknya tidak melakukan penahanan karena keterbatasan kewenangan PPNS sebagaimana diatur dalam UU RI N0 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam dan ekosistemnya, tidak berwenang melakukan penahanan.‬

‪Sebenarnya pihaknya sudah mencoba berkoordinasi dengan pihak Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) agar tersangka ditahan namun ditolak, hal yang mana menurutnya berbeda dengan Polda di daerah lain yang masih mau menerima penahanan.‬

‪”Selama ini kita tidak bisa menahan. itu karena kita tak punya kewenangan untuk menahan. Kan kemarin polisi mereka mau terima, yang mau melakukan penahanan. terakhir ini polisi tak mau melakukan penahanan. Tapi di polda-polda lain masih mau menerima dan melakukan penahanan. Hanya spesifik Polda Sumut ini, gak mau mereka melakukan penahanan dari kita,” katanya.

Dalam hal ini, tersangka menyerahkan uang Rp 100 juta kepada PPNS sebagai jaminan tersangka akan kooperatif selama diperiksa dan tidak akan melarikan diri ataupun menghilangkan barang bukti. “Dia menyerahkan Rp100 juta, uang itu sudah kita serahkan ke bendahara kantor untuk disimpan.
Itu bukan sebagai jaminan penangguhan penahanan karena kita tak berwenang melakukan penahanan, tapi hanya untuk jaminan dia akan kooperativ,” ungkapnya.‬

‪Dia menjelaskan, pihaknya akan terus melanjutkan kasus ini dan paling lama 1 bulan, berkas dan tersangka dalam kasus ini akan dilimpahkan ke pihak kejaksaan. “Ini sekaligus untuk membuka mata pimpinan kita di Jakarta soal keterbatasan kewenangan kita untuk melakukan penahanan ini,”jelasnya.‬

‪Sebagaimana diketahui, Z (37) dan A (28) ditangkap petugas dari Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL) karena memiliki 12 paruh burung rangkong di rumah Z di Desa Namo Tongan, Kecamatan Kotambaru, Kabupaten Langkat. “Z itu orang setempat, sedangkan A dari Pekanbaru,”ujar P Turnip.

“Dari penyelidikan sementara kami, mereka sudah melakukan praktik ini selama belasan tahun. Mereka sudah lama kita incar dan baru hari ini, tadi jam 1 kita tangkap tangan ada 12 paruh rangkong yang sudah dibersihkan dan siap dijual,” tambahnya.‬

‪Dia menuturkan, dari perdagangan haram ini, para pelaku sudah sangat merusak dan merugikan. Pasalnya, satwa-satwa tersebut diduga kuat berasal dari kawasan TNGL. Dari setiap 1 paruhnya, dihargai sebesar Rp 9 juta. “Di sini kita sita 12 paruh rangkong, 2 senapan angin untuk berburu yang sudah dimododifikasi, 2 handphone. Kita akan lakukan pemeriksaan lebih lanjut. Dengan demikian, 12 paruh rangkong ini nilainya mencapai Rp 120 juta,” katanya.‬

‪Kedua tersangka dijerat dengan pasal 21 ayat 2 juncto Pasal 40 ayat 2 UU Nomor 5/1990, Undang-undang RI nomor 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam dan ekosistemnya (KSDAE) dengan ancaman hukuman penjara minimal 1 tahun dan maksimal 5 tahun. “Keduanya ini kita periksa dulu, dan nantinya akan kita titipkan ke Tanjung Gusta,” katanya.‬

Sementara itu, ‪Menurut Kepala BPTN Wilayah III Stabat Sapto Aji Prabowo, dalam kasus ini, kedua tersangka merupakan pengumpul dari beberapa pemburu yang tersebar di beberapa tempat misalnya di Subussalam dan Kutacane, Aceh. “Keduanya pengumpul, peran spesifiknya, Z ini pengumpul, sedangkan A ini, selain pengumpul, dia juga pemburu dan sekaligus modifikator senapan, bahkan tadi, sebelum keduanya ditangkap, ada seorang bule di situ yang memesan senjata sama dia,” terangnya.(wol/lihavez/data1)

Editor: SASTROY BANGUN

Check Also

Pasokan Listrik di Sumut Surplus 500 MW

MEDAN, Waspada.co.id – Mendukung Sumut dan siap menjadi destinasi industri dan wisata, PLN pastikan pasokan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.