_
Home / Sumut / DKP Provsu Teliti Kematian Massal Ikan di Danau Toba
foto : Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provsu Mulyadi Sim, atupang bersama Kementrian Kelautan, didampingi intansi terkait dari Kabupaten Samosir, yakni Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertanian Samosir, melakukan pengamatan visual di lapangan di Kabupaten Samosir Pangururan, Jumat (24/8/2018). WOL Photo

DKP Provsu Teliti Kematian Massal Ikan di Danau Toba

SAMOSIR, Waspada.co.id – Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sumatera Utara (DKP Provsu) telah mengambil sampel air serta ikan yang mati di Danau Toba, guna meneliti penyebab pasti kematian massal ikan di perairan Danau Toba, Sumut pada Kamis (23/8) kemarin.

Kepala Biro Humas dan Keprotokolan Setdaprovsu Ilyas Sitorus Minggu (26/8)
menyatakan, beberapa tim dari provinsi serta kementerian telah terjun kelokasi melakukan pengamatan visual di lapangan di Kabupaten Samosir Pangururan.

Selain itu, juga tim telah mengambil sampel air dan ikan yang selanjutnya dibawa ke Laboratorium di Medan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut guna mengetahui penyebab kematian massal ikan tersebut.

“Saat ini tim sudah membawa sampel air dan ikan ke laboraturium di Medan untuk lebih akurat hasilnya. Sampel yang diambil kualitas air dan ikan sekarang sudah kita bawa ke laboratorium kita di Medan untuk dilakukan analisa lebih lanjut,” katanya.

Tim tersebut terdiri dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provsu bersama Kementrian Kelautan, didampingi intansi terkait dari Kabupaten Samosir, yakni Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertanian Samosir.

Diterangkan Ilyas, dugaan sementara berdasarkan hasil pengamatan visual di lapangan di Kabupaten Samosir Kecamatan Pangururan bahwa kematian ikan disebabkan kualitas air yang buruk.

Faktor itu terlihat warna air yang kecoklatan dan keruh. Salah satu faktor penyebabnya dikarenakan saat ini sedang memasuki puncak musim kemarau disertai angin yang kencang.

Menurut Ilyas, berdasarkan keterangan dari tim, faktor lainnya adalah kandungan oksigen diperairan Danau Toba yang sangat rendah. Ini dipicu bahan organik di dasar perairan khususnya sekitar Keramba Jaring Apung (KJA) naik ke atas perairan (up-welling).

“Hal ini juga diperparah dari letak KJA yang belum mengikuti Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) seperti kedalaman perairan, padat tebar dan jarak antar unit KJA,” katanya.

Menurut Ilyas dari data yang diperolehnya dengan Kepala Dinas Pertanian Kab Samosir diperkirakan ikan yang mati sekitar 180 – 200 ton dengan asumsi kerugian bila dirupiahkan lebih kurang sekitar 5 – 6 miliar, dan pembudidaya ikan di KJA yang terkena dampak berjumlah 18 orang.

Diketahui, kematian massal ikan di Danau Toba sudah berulang kali terjadi. Pada 2004, ikan mati massal di kawasan Haranggaol karena virus herves koi. Lalu, pada Mei 2016, lebih dari 1.000 ton ikan mati, tetapi diinformasikan bukan karena penyakit. Pada awal 2017 juga terjadi kematian massal ikan di kawasan Tongging dan Silalahi.(wol/data1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.