Breaking News
Home / Fokus Redaksi / Tradisi Corat-Coret Memang Sulit Ditinggalkan
WOL Photo/Ega Ibra
WOL Photo/Ega Ibra

Tradisi Corat-Coret Memang Sulit Ditinggalkan

MEDAN, WOL – Sulit ditinggalkan! Mungkin itulah pernyataan yang tepat untuk disematkan terhadap tradisi corat-coret. Kenapa? Karena masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, bahkan bisa dibilang terkesan lebih parah.

Ratusan siswa tingkat SLTA di hari terakhir pelaksanaan Ujian Nasional (UN), Kamis (14/4), di Kota Medan tetap melakukan tradisi corat-coret hingga seragam, wajah, dan rambut disemprot cat kaleng. Tak hanya itu, kebiasaan corat-coret seragam kerap berlanjut dengan konvoi menggunakan sepeda motor dan mobil.

Konvoi tersebut lalu diakhiri dengan menuju lokasi wisata atau tempat yang dinilai bebas aksi tersebut, di antaranya kawasan Perumahan Tasbih II dan Lapangan Merdeka Medan yang dilakukan hingga larut malam.

Mirisnya, siswa mengendarai motor atau mobil tanpa surat-surat lengkap, bahkan tanpa alat berkendara sama sekali. Lucunya lagi, dari pantauan Kreasi di lapangan, ada beberapa siswa yang terkena razia dan tidak bisa menunjukkan surat-surat langsung meminta tolong kepada orang tua karena kendaraannya ditahan. Tak sedikit pula melawan dan mengandalkan backing (perlindungan) masing-masing.

CORETTercatat, ada sekira ratusan kendaraan yang langsung mendapat Tindakan Langsung (Tilang) dari pihak Satuan Lalu-Lintas Polrestabes Medan. Tentunya, angka ini bisa dibilang cukup parah, karena bayangkan saja macatnya lalu-lintas Kota Medan akibat konvoi siswa tersebut.

Aneh memang, meski beberapa tahun belakangan ini razia rutin digelar pihak kepolisian dan Dinas Pendidikan pun tegas melarang, aksi corat-coret disertai konvoi tetap marak dan sulit hilang.

Harus diakui, aksi corat-coret sulit dikendalikan karena tradisi itu biasanya dilakukan di luar sekolah. Alhasil, kewenangan sekolah sudah tidak berlaku. Namun, di beberapa sekolah ada yang secara tegas memberikan sanksi bagi siswanya yang masih melakukan aksi corat-coret dan konvoi ugal-ugalan. Mulai dari pemanggilan orang tua sampai pada penangguhan ijazah bagi siswa yang bersangkutan.

Mungkin benar, itulah bentuk ekspresi dari kegembiraan usai ujian selama tiga hari. Namun bukannya ada cara yang lebih baik dari hal tersebut. Coba pikir, gimana kalo tiba-tiba piloks yang disemprot itu mencederai mata teman? Atau terjadi kecelakaan lalu-lintas? Bukannya justru itu akan menjadi masalah buat diri kita, orang tua, bahkan orang lain?

Memang UN saat ini tidak lagi menjadi acuan kelulusan, sehingga siswa tidak takut lagi menghadapi pengumuman kelulusan. Namun tanya diri masing-masing, apakah memang pengerjaan UN tersebut kalian lakukan sendiri? Mengingat tahun ini dengan sistem penilaian yang tidak lagi ‘menakutkan’ saja, masih banyak kunci jawaban yang beredar.

Hitung saja kerugian materi dari budaya tersebut untuk membeli baju, spidol, dan cat piloks untuk aksi corat-coret ini. Apapun alasannya, aksi corat-coret baju bukanlah budaya yang positif, melainkan pemborosan. (wol/aa/wsp/data1)

Editor AUSTIN TUMENGKOL

Check Also

foto : zimbio

Beckham Marah Soal Tuduhan Botox

NEW YORK, WOL – Mantan bintang sepakbola asal Inggris, David Beckham, memang diakui memiliki wajah ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.