_
Home / Ragam / Kesehatan / Lampiaskan Emosi Bisa Buat Bahagia
Ilustrasi

Lampiaskan Emosi Bisa Buat Bahagia

Waspada.co.id – Dengan sakit hati, kaki melangkah ke salah satu ruangan di sudut Kemang, Jakarta Selatan. Di ruangan kecil Temper Clinic berukuran 4×3 meter itu, sebilah linggis sudah tersedia dan siap digunakan untuk menghancurkan semua barang yang ada di sana.

Linggis mengayun kencang. Sebuah botol kaca jadi korban amukan pertama saya. Beling pun bertebaran. Korban kedua, masih botol kaca. Tapi kali ini saya melemparnya dengan sekuat tenaga dan penuh emosi ke arah dinding.

Kini, fokus berganti ke sebuah televisi tabung 21 inci. Linggis kembali diayun kencang. Layar tv pun terbelah.

Namun, sekali ayun belum cukup untuk menghancurkan tv kuno itu. Butuh 20 hingga 30 kali pukulan linggis sampai mekanik tv itu benar-benar terpreteli.

Saya pun menginjak-injak pecahan tv yang sudah berbaur dengan puing beling. Tenang saja, setiap orang yang masuk ke ruangan ini harus memakai sepatu bot karet yang aman dari pecahan kaca. Pelanggan Temper Clinic juga harus memakai baju tertutup yang sudah di siapkan, helm keselamatan, dua lapis sarung tangan, masker, dan kacamata google untuk melindungi diri dari puing kaca yang terpelanting.

Di sudut lain ruangan, masih ada sebuah mesin cetak yang menunggu giliran untuk dihancurkan. Saya pun mencurahkan semua emosi ke printer soak itu.

Tarikan napas panjang mengawali ayunan linggis dengan berat lebih dari 1 kilogram itu. Kali ini, kerja tampaknya lebih berat. Printer bekas ini jauh lebih kuat dibandingkan tv tabung sebelumnya. Setidaknya lebih dari 60 kali pukulan linggis saya layangkan untuk meluluhlantahkan printer itu.

Ruangan yang tadi tadi bersih, dalam 15 menit berubah dipenuhi puing-puing kaca. Rasa lega, puas, dan seutas senyum muncul melihat hasil luapan emosi itu.

Namun, itu belum seberapa. Salah satu pemilik Temper Clinic, Yanuarius Gavin mengatakan, banyak dari pengguna ‘klinik emosi’ miliknya yang menangis saat keluar dari ruangan.

“Ada yang sampai nangis melampiaskan unek-uneknya. Ada yang mengucapkan ‘terima kasih,’ berkali-kali ke penjaga,” kata Gavin saat CNNIndonesia.com mencoba berkunjung ke Temper Clinic, Jakarta, Selasa (20/3).

Temper Clinic merupakan saranan hiburan baru untuk melampiaskan emosi. Konsepnya berupa rage room di mana pelanggan bisa mengeluarkan segala emosi yang berkecamuk di dalam jiwa dengan puas.

Daripada menyalurkan emosi untuk hal-hal yang tak karuan seperti menghancurkan motor di sembarang tempat, lebih baik salurkan emosi dengan benar di tempat ini.

Meski terbilang baru di Jakarta, konsep rage room sudah lebih dulu ada di Amerika Serikat, Jepang, dan China. Ruangan ini ditujukan bagi siapa saja yang ingin melampiaskan emosi karena stres atau beragam masalah. Rage room di negara lain ini bahkan memiliki isi yang lebih lengkap seperti mobil tua, telepon bekas, alat pengeras suara, penanak nasi, hingga manekin.

Temper Clinic di Jakarta ini sendiri terinspirasi dari Yunani. Saat Yanuarius dan dua pemilik lainnya berlibur ke Athena, mereka menjumpai rage room atau ruang kemarahan yang banyak diminati. Orang bahkan rela untuk antre demi meluapkan amarah.

“Waktu ke Athena ada wahana rage room, ada kami pikir ini cocok dibawa ke Jakarta, kota metropolitan yang sibuk, macet dan teman-teman kami pun banyak yang mengaku stres dengan pekerjaan mereka. Jadi, kami buka di Jakarta dengan persiapan satu bulan,” tutur Yanuarius.

Sejak dibuka pada Agustus tahun lalu, Temper Clinic selalu ramai pengunjung. Dalam sebulan, klinik ini bisa memesan 90-120 televisi tabung yang sudah tidak terpakai. Menurut Yanuarius, mayoritas pengguna Temper Clinic merupakan perempuan dengan persentasi mencapai 60 persen perempuan dan 40 persen laki-laki.

Yanuarius mengaku akan terus memberikan inovasi di Temper Clinic. Dalam waktu dekat, mereka akan mengeluarkan fitur atau paket baru untuk melampiaskan emosi.

Lewat Temper Clinic ini, Yanuarius berharap orang Indonesia bisa merasa bahagia dan terbantu dengan adanya wahana melampiaskan emosi ini.

Tak ada salahnya mencoba ruang kemarahan ini melampiaskan emosi yang terpendam, sakit hati yang tak terobati dengan meluapkannya pada benda-benda rongsok ini. Lalu, sejenak merasa puas, lega, dan bahagia karena setiap orang berhak untuk bahagia.

Selamat Hari Kebahagiaan Internasional! (cnnindonesia/data2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: