Home / Ragam / Hiburan / Kenang Perjuangan Cut Nyak Dhien, Lewat Monolog Sha Ine Febriyanti
WOL Photo

Kenang Perjuangan Cut Nyak Dhien, Lewat Monolog Sha Ine Febriyanti

MEDAN, Waspada.co.id – Pertunjukan seni merupakan media paling efektif untuk menyuarakan, mempresentasikan atau menyampaikan sebuah opini.

Semakin baik apresiasi masyarakat terhadap seni, maka semakin maju peradaban sebuah bangsa. Berangkat dari hal tersebut, Sha Ine Febriyanti tergerak untuk berbagi talenta di bidang seni pertunjukan untuk mengadakan roadshow yang menghadirkan Pentas Monolog Cut Nyak Dhien dan mengadakan workshop di sepuluh kota di Indonesia didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation.

“Sebagai seorang pejuang dan juga seorang ibu, Cut Nyak Dhien, melalui cerita sejarahnya banyak memberikan inspirasi bagi saya. Inilah yang menggerakan saya untuk memperkenalkan cerita beliau kepada khalayak ramai. Dari Cut Nyak Dhien, kita belajar tentang keberanian, prinsip serta perlawanan sekuat-kuatnya dan tak henti,”tutur Sha Ine Febriyanti, Aktor dan Sutradara Monolog Cut Nyak Dhien kepada Waspada Online di Taman Budaya Medan, Selasa (28/8).

Selain mengadakan pementasan, ada juga menghadirkan workshop yang ditujukan bagi generasi muda yang memiliki bakat dan minat terhadap seni teater khususnya monolog namun terkendala akses dan informasi seputar pementasan.

“Dalam workshop, peserta akan diberikan edukasi mengenai seni peran dan kreasi khususnya teater monolog. Berbagi semangat, inspirasi, peluang, dan persiapan yang harus dimiliki oleh seorang pelakon seni khususnya dalam berteater dan tentunya menumbuhkan semangat bibit-bibit baru pelaku seni dalam bidang seni teater yang akan muncul dari generasi muda,” terangnya.

Monolog Cut Nyak Dhien mengangkat sisi perempuan Cut Nyak Dhien sebagai seorang istri dan ibu yang juga goyah ketika kehilangan menghampiri kehidupannya. Dikenal sebagai seorang perempuan pejuang perkasa, Cut Nyak Dhien tak pernah menunjukkan kepedihan hati maupun dukanya saat ditinggal pergi orang yang dikasihinya, sang suami, Teuku Ibrahim ataupun Teuku Umar.

“Sebagai seorang ibu, Cut Nyak Dhien harus tetap terlihat tegar di depan anaknya, juga di depan mereka yang membutuhkan tuntunan dan kepemimpinannya,” ungkap Ina.

Nama Cut Nyak Dhien sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Sejak berada di bangku sekolah dasar, Cut Nyak Dhien diperkenalkan kepada kita sebagai seorang perempuan pejuang perkasa dari Nanggroe Aceh Darussalam yang pantang menyerah. Dalam monolog ini, Sha Ine Febriyanti akan mengenalkan sisi lain Cut Nyak Dhien yang juga merupakan seorang perempuan, seorang istri dan ibu yang tangguh.

Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation menambahkan
bahwa pentas ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan lebih dalam mengenai sosok Cut Nyak Dhien serta menginspirasi masyarakat luas melalui semangat dan kegigihan yang beliau miliki.

“Kisah ini dituturkan Cut Nyak Dhien dari hutan Sumedang, tempatnya menjalani masa-masa pengasingan hingga tutup usia pada 6 November 1908,” pungkasnya.(wol/eko/data1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: