Newsticker
WOL / Ragam / Kesehatan / Kenali Pencegahan Alergi Pada Susu Sapi
WOL Photo
WOL Photo

Kenali Pencegahan Alergi Pada Susu Sapi

WOL – World Allergy Organization menyatakan bahwa anak lebih berisiko mengalami alergi dibanding orang yang lebih tua, dengan angka prevalensi pada anak sebesar 4-696 sementara pada orang dewasa hanya 1-396.

Anak lebih berisiko mengalami alergi jika memiliki riwayat penyakit atopik dalam keluarga seperti dermatitis atopik, asma, dan atau rhinitis alergi dari setidaknya salah satu orangtua atau saudara kandung.

Selain faktor genetik, beberapa anak juga lebih berisiko mengalami alergi jika dilahirkan melalui operasi caesar, penggunaan antibiotik saat persalinan, hingga terpapar asap rokok.

Lebih spesifik lagi, data dari Allergy & Asthma Foundation of America menyatakan bahwa alergi protein susu sapi merupakan salah satu alergi makanan yang paling banyak terjadi pada anak-anak. Studi di beberapa negara di seluruh dunia menunjukkan prevalensi alergi protein susu sapi pada anak-anak di tahun pertama kehidupan sekitar 2% sampai 7,596. Angka ini tentunya diikuti resiko yang mungkin mengancam si Kecil.

Prof. DR. Budi Setiabudiawan, dr., SpA(K), M.Kes Konsultan Alergi lmunologi Anak mengatakan bahwa susu sapi ini dapat menyerang sistem gastrointestinal (56-60%), kulit (50-60%), dan juga sistem pernapasan (20-30%).

“Reaksi alergi dapat timbul berupa eksim pada kulit, mengi pada saluran napas, kolik, diare berdarah, hingga konstipasi. Jika tidak segera ditangani dan dibiarkan, keadaan ini dapat menganggu optimalisasi tumbuh kembang si Kecil dan memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan di usia dewasanya.” Tuturnya pada kegiatan Bunda Tanggap Alergi 3 K (Kenali, Konsultasikan, Kendalikan).

Prof. Budi menjelaskan ada berbagai macam gangguan tumbuh kembang yang mungkin terjadi pada si Kecil yang alerginya tidak tertangani dengan baik. Anak bisa tumbuh menjadi picky eaters sehingga mempengaruhi berat badan idealnya dan juga pertumbuhan fisiknya.

“Gangguan hormon akibat alergi juga berisiko memunculkan kegemukan atau obesitas, yang jika tidak dikendalikan akan meningkatkan risiko penyakit jantung koroner dan diabetes di masa depannya.,” terangnya.

Si Kecil yang mengalam reaksi alergi rhinitis dan asma, biasanya menimbulkan resistensi pada saluran napas atas dan bawah, hidung tersumbat, gangguan tidur (sleep disorder), dan mendengkur.

“Tentunya berbagai gangguan yang berisiko dialami si Kecil dapat berdampak pada penurunan kualitas hidup serta proses belajarnya di lingkungan sosial, dan lebih lagi akan mempengaruhi dalam jangka panjang sampai masa dewasanya,” tambahnya.

“Alergi protein susu sapi ini relatif lebih sulit ditangani karena alergen tidak selalu berbentuk susu, melainkan berbagai makanan seperti cake, puding, sup, kue, dan makanan lain yang mengandung susu sapi. Oleh sebab itu kondisi ini memerlukan ketanggapan orangtua untuk mencermati kandungan dalam berbagai makanan dan menangani reaksi alergi pada si Kecil dengan cepat,” tutupnya.( wol/rls/data1)

Baca Juga

WOL Photo/lihavez

Peras Siswa, Preman Ini Dijebloskan ke Penjara

MEDAN, WOL – Hendra Utama (28) warga Jalan Gaharu, Komplek PTPN IX, Kecamatan Medan Timur ...

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.