Home / Ragam / Kenali Cara Kerja Otak Remaja
WOL Photo

Kenali Cara Kerja Otak Remaja

WOL – Ilmu psikologi juga memberikan perhatian khusus pada masa ini karena kejiwaan seseorang menuju kematangan pada masa remaja. Hasil penelitian menunjukkan remaja cenderung mengambil risiko, mengantuk, salah membaca emosi, menyerah pada tekanan lingkungan teman, dan kurang mampu mengontrol diri.

Berani ambil risiko

Sebuah percobaan dilakukan untuk mengukur keberanian dalam mengambil risiko. Percobaan ini melibatkan satu remaja dan satu dewasa di mana masing masing diberikan kantung berisi token merah dan biru plus uang sebesar 5 euro.

Kedua peserta percobaan tidak tahu jumlah token merah dan biru di dalam kantung. Keduanya pun diminta mengambil satu token secara acak. Jika diambil token biru, maka uangnya akan dilipatgandakan. Sebaliknya, mengambil token merah akan menyebabkan uang 5 euronya dikurangi.

Ternyata si remaja lebih cepat dan berani mengambil token terlebih dahulu. Berdasarkan penelitian, ternyata keberanian remaja mengambil risiko bukan karena kebodohan atau minim perhitungan.

Sarah-Jayne Blakemore, seorang profesor neuro kognitif dari Institute of Cognitive Neuroscience, University College London, menemukan bahwa korteks pre-frontal (daerah otak yang berhubungan dengan kontrol diri), kesadaran dalam pengambilan keputusan, memori, penilaian, dan wawasan masih berkembang selama masa remaja.

Butuh waktu tidur lebih banyak

Selama masa remajanya, penyanyi Adele nyaris dikeluarkan dari sekolah karena selalu terlambat. Penelitian menunjukkan bahwa istirahat malam yang baik sangat penting untuk belajar. Siswa yang konsisten mendapatkan tidur malam yang baik mendapatkan nilai lebih baik.

Hal tersebut karena ada peningkatan hormon tidur atau melatonin, di sekitar waktu tersebut. Tapi pada remaja, peningkatan melatonin terjadi larut malam sehingga remaja belum merasa lelah hingga larut malam. Ketika kebanyakan sekolah dimulai pukul 7 pagi, berarti remaja kekurangan waktu tidur.

Sulit baca emosi

Penelitian yang dilakukan oleh ahli neuroscience dari University of Utah, Dr Deborah Yurgelun-Todd cs, menunjukkan bahwa remaja lebih mengandalkan sistem limbik mereka karena korteks pre-frontal masih berkembang yang bertindak lebih seperti reaksi naluriah.

Dalam sebuah tes, orang dewasa diminta menunjukkan gambar wajah seseorang dan memilih emosi yang diungkapkan gambar wajah tersebut adalah rasa takut, syok atau marah. Semua orang dewasa benar mengidentifikasi ekspresi ketakutan, sedangkan setengah remaja mendapat jawaban benar.

Alasan yang mungkin untuk perbedaan ini adalah sistem limbik remaja kurang akurat dibandingkan korteks pre-frontal dewasa. Sistem limbik juga memunculkan peningkatan respon emosional, sehingga remaja cenderung salah membaca emosi dan berlebih-lebihan.

Kurang kontrol diri

Kurangnya kontrol diri ini tidak hanya berhubungan dengan korteks pre-frontal tapi juga disebabkan oleh peningkatan bagian otak yang mencari imbalan dan kebaruan. Menjadi remaja memang gampang gampang susah. Di saat kita dituntut untuk lebih dewasa, kita bisa mulai memahami diri sendiri terlebih dahulu untuk bersikap dengan baik. (wol/aa/teen/data2)

Editor: AUSTIN TUMENGKOL

Check Also

Shell Pasarkan Helix Eco Pelumas Mobil LCGC Di Indonesia

Waspada.co.id – Shell Lubricants secara resmi meluncurkan produk pelumas mesin kendaraan roda empat Shell Helix ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: