_
Home / Fokus Redaksi / Hikmah Ramadhan: Inilah ‘Saudara-saudara’ Setan
Ilustrasi

Hikmah Ramadhan: Inilah ‘Saudara-saudara’ Setan

Waspada.co.id – DI bulan Ramadhan, setan-setan dibelenggu. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam:

“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Namun, ternyata setan memiliki saudara-saudara yang bebas berjalan-jalan dan jumlahnya tidak sedikit di bulan Ramadhan. Siapa mereka?

Allah Subhanahu wa Taala berfirman:

“Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudaranya setan” (QS Al Isra : 26-27)

Ketika menjelaskan ayat ini, para mufassir sepakat bahwa sikap boros atau mubazir bukanlah dinilai dari berapa banyak harta yang dibelanjakan. Bukan pula berapa banyak uang yang dihabiskan. Tetapi, dinilai dari untuk apa harta atau uang tersebut dibelanjakan. Sebab, meskipun banyak membelanjakan harta namun belanjanya di jalan kebaikan (misalnya sedekah atau infaq fi sabilillah), maka tidak termasuk boros dan tidak termasuk saudara setan.

Sebaliknya, meskipun yang dibelanjakan sedikit namun di jalan yang haram atau sia-sia, maka ia termasuk boros dan menjadi saudaranya setan.

“Seandainya seseorang menginfakkan seluruh hartanya untuk sesuatu yang benar, maka ia tidak termasuk orang yang berlaku boros,” ujar Mujahid, ulama mufassir generasi tabiin, “Sebaliknya walaupun ia hanya membelanjakan sebagian kecil hartanya untuk sesuatu yang sia-sia, maka ia telah berlaku boros.”

Abu Bakar pernah menginfakkan seluruh hartanya pada saat perang Tabuk. Sedangkan Umar bin Khattab menginfakkan separuh hartanya. Meskipun sangat banyak yang diinfakkan, mereka berdua tidak disebut boros. Sebab pengeluarannya di jalan yang benar.

Demikian pula Rasulullah memperbanyak sedekah di bulan Ramadhan hingga diistilahkan seperi “angin” karena siapapun yang mendekat pada Rasulullah akan bisa menikmati sedekah beliau.

Di bulan Ramadhan, khususnya menjelang Idul Fitri, sering kali sebagian orang terjebak pada pengeluaran yang sia-sia. Tidak memperbanyak sedekah, malah membeli barang-barang yang tidak diperlukan. Misalnya sudah punya HP baru, beli yang terbaru demi gengsi. Sudah punya banyak baju baru dan berbagai asesoris, masih juga menambah baju dan asesoris yang mahal dan sebenarnya tidak diperlukan, demi penampilan waktu mudik. Ada juga yang membeli petasan atau barang-barang lain yang terbuang sia-sia. Nah, apakah kita juga termasuk saudaranya setan? (inilah/ags/data1)

[Sumber: Bersamadakwah]

Check Also

Telkomsel Gelar Masak Takjil Bareng Serempak di 14 Kota Sumatera

MEDAN, Waspada.co.id – Mengusung semangat “Sebarkan Kebahagiaan”, pada momen Ramadhan 1440 Hijriah ini Telkomsel Area ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.