Home / Warta / Indonesia Hari Ini / Hasil Akhir Vaksin MR Tak Mengandung DNA Babi, Kok Bisa?
Ilustrasi

Hasil Akhir Vaksin MR Tak Mengandung DNA Babi, Kok Bisa?

Waspada.co.id – Masih hangat polemik status vaksin Measles Rubella (MR) yang hingga kini masih menjadi topik pembicaraan masyarakat Indonesia. Meski produk vaksin MR produk dari Serum Institute of India (SII) yang dipakai di Indonesia dibuat dari bahan yang berasal dari babi, namun Kementerian Kesehatan RI telah menegaskan bahwa vaksin MR tidak mengandung DNA babi.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) sendiri juga telah mengeluarkan fatwa yang berisi bahwa meski dibuat dari bahan yang berasal dari babi, vaksin MR dibolehkan (mubah) karena ada kondisi keterpaksaan (dlarurat syar’iyyah) dan belum ditemukan vaksin MR yang halal.

Namun, banyak orang yang masih bingung, mengapa hasil akhir vaksin MR tidak mengandung babi meski dibuat dari bahan yang berasal dari babi?

Perlu diketahui, produksi vaksin sendiri bukan seperti pembuatan obat racikan, melainkan prosesnya yang sangat rumit sehingga membutuhkan waktu hingga 20 tahun lamanya.

Nah, masyarakat perlu mengenali tahapan produksi vaksin agar memahami proses dan kandungan di dalamnya. Berikut proses pembuatan vaksin dipaparkan oleh Peneliti Vaksin PT Biofarma sekaligus anggota ALMI, Dr. Neni Nurainy, di Jakarta Pusat, Jumat 21 September 2018.

1. Penyiapan media
Pengambilan bibit vaksin terbaik (virus atau bakteri) sebagai antigen. Bisa juga dari toxoid dari organisme seperti difteri atau tetanus. Jenis lainnya bisa berasal dari organisme yang dibiakkan dengan media jamur.

Jumlah bibitnya memenuhi kebutuhan pembuatan vaksin. Sediakan juga media tumbuh untuk bakteri dan virus tersebut.

2. Inokulasi dan kultivasi
Penanaman virus atau bakteri pada suatu media yang sudah dimurnikan. Menumbuhkan virus dan bakteri ke dalam reaktor untuk penanaman skala besar dengan tripsin. Perlu tripsin utk melepaskan selnya.

3. Panen
Panen saat jumlah bakteri atau virus sudah memenuhi target.

4. Inaktivasi
Melakukan pelemahan virus atau bakteri. Inaktivasi dengan bahan kimia dan energi panas. Seperti racun dari difteri berubah jadi toksoid.

5. Pemurnian-purifikasi
Melakukan pemurnian virus yang sudah tumbuh. Dilakukan dengan proses purifikasi, yaitu proses untuk menghilangkan zat-zat yang tidak relevan dengan produk vaksin sehingga proses ini sangat selektif.

Filtrasi dilakukan dengan memberi tekanan tertentu agar larutan yang ingin dimurnikan masuk melalui membran penyaringan, “dicuci” hingga jutaan kali. Sehingga pada akhirnya tersisa hanya komponen yang diinginkan.

Seperti pada beberapa vaksin yang bersinggungan dengan enzim tripsin babi. Dicuci hingga jutaan kali sehingga hanya tersisa komponen yang diinginkan.

6. Formulasi
Memformulasi vaksin yang telah dimurnikan dengan zat zat tambahan. Tiga tahapan yaitu preservatif, adjuvant, dan stabilizer. Adjuvan berfungsi untuk memperkuat respons imun, stabilizer berfungsi menstabilkan vaksin seperti dalam suhu ekstrem, dan preservatif berfungsi sebagai pengawet. (viva/ags/data2)

Check Also

MUI Tetap Perbolehkan Vaksin Rubella, Ini Penjelasannya

JAKARTA, Waspada.co.id – Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) memutuskan memperbolehkan vaksin Measless Rubella (MR) ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: