_
Home / Ragam / Film / Film Kartini, Sosok Pemberontak Pejuang Wanita
foto: liputan6

Film Kartini, Sosok Pemberontak Pejuang Wanita

JAKARTA, WOL – Sosro Kartono (Reza Rahadian) adalah tempat Kartini (Dian Sastrowardoyo) bisa bermanja dan berkeluh kesah tentang kebebasan. Dari kakaknya itu pula, Kartini mendapat kunci membuka jendela dunia.

Kartini pun berkenalan dengan Cecile de Jong (Carmen van Rijnbach) yang menulis mengenai Hilda van Suylenburg (Alinda Wit), tokoh feminis Belanda. Inilah yang kemudian mengantar Kartini menjadi perempuan yang pemikirannya melampaui kaum pada zamannya.

Sutradara Hanung Bramantyo memperlihatkan Kartini berkenalan sekaligus seolah bertemu secara fisik dan mengobrol dengan tokoh feminis itu seperti teman dekat. Dibatasi dinding kamar dalam pingitan, Kartini bisa berkelana. Pikirannya merdeka seperti yang dipelajari dari rangkaian huruf-huruf Belanda tersebut.

Kebebasan itu yang kemudian ditularkan Trinil, nama kesayangan Kartini, kepada adik-adiknya: Kardinah (Ayushita Nugraha) dan Roekmini (Acha Septriasa), ketika masa pingitan kepada mereka datang.

Tiga bersaudara itu menjadi sangat dekat dan kompak meski harus melawan kungkungan adat ningrat yang mendera. Kartini sebagai sosok yang merindukan “kekebasan”, ingin tahu, berpikiran maju, tapi tetap bergelut dengan kegelisahan hati dan belenggu adat, berhasil ditampilkan dalam film Kartini yang bakal segera tayang di bioskop.

Hanung sebagai sutradara dan penulis naskah menggambarkan Kartini dalam kegalauan sebagai pembuka adegan film yang digarap lebih dari dua tahun itu. Selanjutnya dia menyeret penonton pada adegan kilas balik Kartini kecil, yang sering dipanggil Trinil.

Gadis kecil yang sudah memulai pemberontakannya ketika dipisahkan dari ibu kandungnya, Ngasirah (Nova Eliza), agar dia menjadi raden ajeng dan bisa sekolah. Gadis muda yang sedih saat pingitan harus dijalani menunggu pinangan lelaki yang hendak menikahinya.

Hanung melakukan riset panjang selama lebih dari dua tahun dari buku-buku tentang Kartini karya Joost Cote, Pramoedya Ananta Toer, Armijn Pane, dan Elisabeth Keesing. Dari situ Hanung mendapat informasi sepak terjang putri Bupati Jepara tersebut dengan segala kesulitannya.

“Bukan bertarung melawan orang lain, tapi keluarga besar dan aturan lingkungannya,” ujar Hanung baru-baru ini memberi tafsir kekinian, termasuk ketika Kartini memutuskan menerima lamaran Bupati Rembang.

Dian Sastro juga berhasil memperlihatkan sosok Kartini sebagai pribadi yang hangat dan maju di antara kungkungan tradisi. Nama-nama Deddy Sutomo yang berperan sebagai ayah Kartini dan Christine Hakim sebagai ibu kandung Kartini tentu tak usah diragukan lagi kapasitasnya.

Christine dengan segudang pengalamannya mampu menghadirkan sosok ibu yang terbelenggu adat, tapi tak menyerah melindungi dan berjuang untuk anak-anaknya. Penonton pun ikut terseret dalam suasana haru dan menyentuh.

Ini bukan pertama kali sosok Kartini diangkat ke layar lebar. Sebelumnya, ada film garapan Sjumandjaja yang sangat kental nilai feodalistik dan berfokus pada Kartini saja. Sosok Kartini dengan pemikirannya yang maju juga diperlihatkan dalam film Surat Cinta untuk Kartini, yang sayangnya hanya terlihat sebagai bumbu drama percintaan.(wol/aa/tempo/data1)

Editor: AUSTIN TUMENGKOL

Check Also

Akhir Pekan, The Reiz Condo Lakukan Kegiatan Ngopi Bareng

Waspada.co.id – The Reiz Condo secara berkala melakukan kegiatan untuk konsumen dan calon konsumen. Kali ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: