_
Home / Ragam / Kesehatan / Diet Nasi Sebulan Turunkan Berat Badan, Patut Dicoba!
Istimewa

Diet Nasi Sebulan Turunkan Berat Badan, Patut Dicoba!

Waspada.co.id – Bagaimana cara Anda menurunkan berat badan? Diet khusus, rajin olahraga, atau pantang nasi?

Saya berpikir, mungkin cara yang paling mudah untuk menurunkan berat badan adalah dengan tak makan nasi. Apa sih susahnya enggak makan nasi? Toh masih bisa ‘diganti’ dengan makan yang lainnya kan?

Oke, sebagai permulaan, saya mulai tak makan nasi selama sebulan. Jujur, selain saya anggap paling ‘mudah,’ cara ini juga saya pilih karena melihat pola makan salah satu teman saya yang tak lagi makan nasi bertahun-tahun. Dan untuk usianya, badannya terbilang proporsional.

Ini perjuangan saya demi bisa menurunkan angka timbangan dan mengurangi bobot tubuh, setidaknya sampai 2 kilo.

Hari pertama:
Hari pertama tak makan nasi. Semuanya masih baik-baik saja. Niat saya masih sangat kuat dan gigih untuk tak lagi makan nasi.

Potongan salad dengan dressing wijen sangrai yang tengah hit, jadi pilihan saya.

Hari kedua:
Semua masih terasa baik, tak ada masalah. Salad masih jadi menu. Namun kali ini ada sayur dan camilan kalau masih lapar.

Hari ketiga sampai satu minggu pertama:
Tak ada masalah berarti. Salad, buah, sayuran, dan cemilan juga masih disantap tanpa bosan. Tak ada masalah kesehatan, seperti lemas, pusing, atau lainnya yang terjadi akibat mengurangi asupan karbohidrat dari nasi ini.

Minggu kedua
Setelah seminggu tak makan nasi, saya mulai berpikir untuk bagaimana caranya untuk mencari alternatif sumber karbohidrat lain pengganti nasi dan juga menambah protein.

Hari kedelapan:
Saya mencari berbagai menu alternatif lain.
Sesekali cheat day dalam seminggu. Saya makan nasi di akhir pekan. Kalau tidak nasi, saya juga makan mi instan. Lumayan, untuk mengingat kembali rasanya. Dan, rasanya enak (tentu saja).

Hari ke-9:
Tak terasa sudah hari ke-sembilan. Rasanya masih kuat untuk tak makan nasi. Di hari ini saya mulai berpikir untuk menambah menu lainnya. Bosan kan untuk menyantap salad saja.

Hari 10:
Akhirnya saya mulai membuat menu lainnya yang bisa disandingkan dengan salad. Kentang yang dibuat mash potato ataupun digoreng.

Hari 11:
Ketika lapar pagi hari, saya mulai makan oat. Oat dengan susu coklat dan tambahan pisang di dalamnya. Makan siang saya masih tetap makan salad dengan saus wijen.

Hari 12-14:
Menu sarapan adalah oat dengan susu bubuk cokelat. Oat ini memang saya stok di kantor agar saat lapar bisa langsung dimakan.

Saya mulai merasakan tubuh sedikit lebih ringan. Perlahan-lahan perut yang agak buncit pun mulai ‘mundur.’ Kenapa yakin? tentunya melihat celana dan perut yang tak lagi memberontak untuk ‘keluar.’

Minggu ketiga
Pertahanan saya mulai melemah. Merasa bobot tubuh sudah berkurang, saya mulai membiarkan diri untuk sedikit-sedikit makan makanan lainnya. Gorengan di pagi hari.

Hari 16:
Menunya menjadi salad dengan kentang dan dada ayam panggang berbumbu. Malam terasa lapar, sayur tumis atau sayur kuah jadi pilihan.

Hari 17-20:
Akhir pekan waktunya cheat day. Bagaimana rasaya kalau makan nasi lagi?

Saat cheat day, beberapa kali saya makan sedikit nasi. Namun, perut rasanya sudah mulai terbiasa untuk tak makan nasi. Sehingga saat makan nasi, hanya tiga sendok makan saja, perut sudah terasa begah.

Makan nasi sudah terasa eneg di mulut.

Hari 21:
Tak lagi makan salad, tapi menggantinya dengan bihun atau jenis mi beras tipis. Dengan sayuran dan juga telur tentunya.

Hari 22:
Agar tak sarapan oat terus, buat sarapan saya makan telur rebus dua buah. Saya bahkan sampai membeli perebus telur instan demi bisa makan telur rebus dengan cepat dan mudah.

Hari 23:
Hari tanpa nasi masih berlanjut. Bihun goreng atau rebus dengan telur dan sayur jadi pilihan. Tapi sesekali hanya ayam goreng kremes dengan sambal atau ketoprak dan gado-gado.

Hari 24:
Sarapan hari itu dibuka dengan ketupat sayur. ‘Cheat day’ saat yang tak tepat. Sekilas bukan nasi, tapi ketupat. Sebenarnya sama saja, tapi yah, maklumi saja.

Siangnya memilih untuk tak makan siang untuk menebus nasi yang dimakan siang itu.

Malamnya, makan gorengan.

Hari 25-30:
Karena beberapa hari mulai longgar pantang nasi, maka mulai terpikir untuk mengombinasikan diet nasi dengan jenis lainnya, yaitu mengurangi garam. Toh perut masih terlihat tak lagi maju. Toh beberapa orang mengatakan saya terlihat lebih kurus (terasa memotivasi buat diet kan).

Namun beberapa kali sempat makan aneka kue dan minuman boba serta kopi. Ah toh bukan makan nasi.

Kesimpulan:
Sejak awal niat pantang nasi adalah untuk diet. Sebelum diet saya menimbang berat badan. Saya tak akan menyebut berapa berat badan saya di sini.

Tapi dalam satu bulan, target saya sebenarnya tak muluk-muluk. Saya hanya ingin turun berat badan setidaknya 1-2 kilogram saja. Anggapan tak muluk ini karena saya membaningkan teman-teman lain yang juga diet dan mengatakan kalau mereka bisa turun 2 kilogram dalam dua minggu.

Namun kenyataannya, di akhir program diet, timbangan badan saya justru melonjak. Oh tidak, malah naik 1 kilogram. Kok bisa ya, padahal saya merasa tubuh jadi agak ringan dan perut sedikit ‘mundur.’

Pada akhirnya saya mulai kilas balik pantang nasi saya. Memang benar saya tak makan nasi, tapi yang saya tak perhitungkan adalah kalori makanan pengganti nasi.

Ketika bicara pada seorang ahli gizi dan dokter pencernaan, mereka mengatakan bahwa kemungkinan permasalahannya terjadi karena saya masih makan gorengan, makanan dan minuman yang terlalu manis dan berkalori tinggi, misalnya terlalu banyak kopi, teh bergula. Selain itu olahraga juga tak boleh dilupakan.

Mungkin tak perlu olahraga berlebihan, tapi setidaknya memperbanyak tubuh bergerak. Bagi pekerja kantoran seperti saya, duduk terpaku di meja dan menghadap laptop sembilan hari sudah biasa. Inilah yang harus diubah.

“Percuma saja enggak makan nasi tapi masih makan gorengan tiga buah sekali makan,” begitu kata ahli gizi yang saya ajak ngobrol.

Bisa dipahami karena saya juga memang tak tertib untuk melakukan pantang nasi. Masih banyak pengecualian dan juga justru mengganti nasi dengan makanan yang terlalu berkalori.

Selain itu, rasanya juga sedikit percuma tak makan nasi karena masih tetap makan roti dan juga mi instan.

Jika ingin menurunkan berat badan dengan pola makan pantang nasi ini, ada baiknya untuk lebih konsisten dan juga serius untuk mengurangi kalori dari berbagai makanan dan minuman yang dikonsumsi. Oiya, kurangi dan kalau bisa eliminasi gorengan dan makanan tak sehat dari daftar makanan Anda sehari-hari.

Oiya, tak selamanya salad juga sehat dan rendah kalori. Cek dulu saus dressingnya. Beberapa saus dressing juga tak selalu ramah untuk berat badan.

Dan ingat, tetap olahraga ya. (cnnindonesia/ags/data1)

Check Also

17 Tips Anti Ngantuk Walaupun Tanpa Kafein

Saat menghadapi pekerjaan tiba-tiba kantuk melanda. Saat mengikuti mata kuliah di dalam kelas, rasanya tak ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.