Home / Ragam / Gaya Hidup / Dianggap Lebih Sehat, Tren Camilan Bertekstur Tipis Mulai Merambah Industri Kuliner Tanah Air
Makanan ringan

Dianggap Lebih Sehat, Tren Camilan Bertekstur Tipis Mulai Merambah Industri Kuliner Tanah Air

agregasi
agregasi

 

MANUSIA membutuhkan makanan dan minuman untuk bertahan hidup dan menjalankan aktivitas sehari-hari. Ini disebabkan karena makanan memiliki berbagai nutrisi esensial yang memberikan berbagai manfaat kesehatan, termasuk menjadi sumber energi.

Namun seiring berkembangnya zaman, perilaku manusia pun mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Pada awalnya setiap orang hanya mengonsumsi makanan pada waktu waktu tertentu seperti sarapan, makan siang, dan makan malam.

Kebiasaan ini kemudian mengalami perubahan seiring berkembangnya teknologi dan munculnya akses internet. Hal tersebut juga sempat diungkapkan oleh Rick Lawrence, selaku Category Director of Biscuit Mondelez South East Asia.

Menurutnya, tanpa disadari internet berhasil mengubah perilaku orang-orang dalam mengonsumsi makanan, terutama untuk urusan makanan ringan atau yang selama ini kita kenal dengan istilah ‘ngemil’.

“Tren ngemil banyak digandrungi oleh para generasi muda yang aktif dan bersemangat. Mereka membutuhkan makanan selingan yang bisa dikonsumsi di sela-sela kesibukan,” tutur Rick Lawrence, dalam peluncuran Oreo Thins di The Pallas, SCBD, Jakarta Selatan, Kamis (19/4/2018).

Lebih lanjut Rick mengatakan, melihat permintaan konsumen terhadap produk camilan terus meningkat, saat ini berbagai produsen makanan tengah menerapkan tren makanan bertekstur tipis (thin food).

Bukan tanpa sebab, tren ini muncul untuk memenuhi permintaan konsumen yang meminta produk camilan sehat, dan praktis untuk dinikmati dalam suasana apa pun.

“Berdasarkan data perusahaan kami, orang-orang cenderung menyukai camilan berbentuk biskuit karena dianggap lebih sehat,” imbuhnya.

Hal senada juga diakui oleh Dian Ramadianti, selaku Brand Manager Treats Mondelez Indonesia. Ia mengungkapkan, tren camilan berbentuk tipis ini sebetulnya sudah terjadi di berbagai negara di dunia. Dengan kemajuan teknologi, tren tersebut dengan cepat menyebar hingga akhirnya masuk ke Indonesia.

“Tidak hanya di makanan, tren ‘thin’ ini juga sudah merambah ke benda-benda lainnya, serperti smartphone. Tapi kalau berbicara soal makanan, tren ‘thin food’ sebetulnya telah diterapkan oleh Amerika Utara, negara-negara Eropa, hingga Inggris. Demand-nya sangat tinggi karena porsinya sudah disesuaikan dengan kebutuhan,” tukasnya.

Check Also

Buah Nangka, Selain Harum Juga Bermanfaat Bagi Kesehatan

Waspada.co.id – Geng Sehat suka buah nangka? Tidak hanya enak, buah ini juga bermanfaat bagi kesehatan. ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: