Home / Ragam / Gaya Hidup / Anak Laki-Laki Suka Main Boneka dan Make-Up? Ibu Butuh Pertolongan!
Pola asuh (Foto: Thenewyorktimes)

Anak Laki-Laki Suka Main Boneka dan Make-Up? Ibu Butuh Pertolongan!

agregasi
agregasi

 

ANAK laki-laki seharusnya main mobil-mobilan, tembak-tembakan, atau polisi-polisian. Tapi, bagaimana jika anak Anda lebih suka main make-up, boneka, atau salon-salonan? Ini mungkin mengerikan bagi para ibu, mereka takut anak menjadi banci nantinya.

Seorang ibu di New York memiliki anak laki-laki berusia tujuh tahun yang bertingkah seperti anak perempuan. Ia mengelak bahwa anaknya bukan banci. Dia berusaha mengembalikan identitas seksual sebagaimana anaknya terlahir.

Ia hampir frustasi ketika anaknya mengimpikan menjadi Princess Elsa di film Frozen saat pesta Halloween. Ibu ini merasa gagal karena anaknya menolak menjadi tokoh super hero seperti Spiderman atau Batman. Sang ibu merasa gagal menjadi orangtua karena anaknya tak mau diarahkan bermain permaianan anak laki-laki atau ikut kegiatan olahraga. Anak laki-laki suka bermain make-up, dresses, dan boneka. Ibu ini bingung dan tak tahu apa yang harus ia lakukan sehingga ia mengirim surat elektronik ke Goodtherapy, Senin (6/2/2017).

Membaca kasus di surat tersebut, Psikolog Klinis, Erika Myers, MS, MEd, LPC, NCC., memahami bagaimana perasaan sang ibu. Perilaku anak yang tidak semestinya memang dapat membuat anak masuk ke lembah yang lebih berbahaya. Khawatir sang anak nantinya akan diejek oleh lingkungan yang tidak menerima dan menganggapnya aneh.

“Perhatian, kasih sayang dan cinta adalah yang wajib diberikan ibu dan serta seluruh keluarga terdekat kepada anak tersebut. Anak seperti itu perlu dukungan mental agar dia tahu bahwa orangtua mencintainya,” tulis Erika.

Bahkan jika anak laki-laki tertarik dengan kegiatan yang bersifat feminin belum tentu dia banci. Langkah selanjutnya orangtua harus melindungi anak dari ejekan orang-orang yang dapat melemahkan mental anak.

“Perangi kesukaan anak dengan kesukaannya yang tidak biasa dengan konsekuensi. Beri dia pilihan ingin kostum Elsa atau Spederman. Jika dia memilih Elsa, jelaskan bahwa konsekuensinya dia akan diejek atau dipanggil “cewek”. Tapi, ketika anak sudah memilih dan menerima konsekuensi, orangtua perlu mengajarkan kepada anak untuk membantah. Minta anak berkata, “Bukan, aku anak laku-laki” ketika teman-temannya mengejek,” sambungnya.

Menurut Erika kalau hanya persoalan lebih suka kostum saja itu hanya pilihan. Sebab, ada perbedaan antara preferensi jenis kelamin, identitas gender, dan orientasi seksual. Jika anak lebih memilih mainan dan benda-benda yang secara tradisional dikaitkan dengan jenis kelamin, buka berarti bahwa seorang anak akan memiliki preferensi seks yang sama. Hanya saja anak memiliki perasaan yang lebih sensitif.

“Sama halnya ketika anak perempuan tidak suka main boneka. Beberapa anak perempuan suka bermain permainan anak laki-laki dan suka berolahraga, tetapi bukan berarti mereka lesbian atau biseksual. Hanya orang dewasa saja yang melabeli seperti itu,” paparnya lagi.

Untuk menavigasi anak-anak berpotensi menjadi LGBT atau tidak bukan dari mainan atau hobi yang mereka suka. Anak-anak masih dalam masa pertumbuhan dan memilih. Dibutuhkan seorang ahli untuk memeriksa kecenderungan identitas anak.

Check Also

Cumi Balado ala Restoran Seafood, Begini Cara Membuatnya

  CUMI menjadi salah satu menu favorit di restoran seafood. Namun, Anda tak perlu membeli ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: