Home / Ragam / Gaya Hidup / Anak-Anak Melanggar Hukum, Jangan Samakan Haknya dengan Orang Dewasa!
Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

Anak-Anak Melanggar Hukum, Jangan Samakan Haknya dengan Orang Dewasa!

 

SIFAT nakal anak-anak memang terkadang melampaui batas, bahkan berujung kepada tindak pidana. Terlepas anak menyadari aturan hukum atau kesalahannya, anak yang terlibat hukum tetap harus diberi perlindungan dan dijaga hak-haknya.

Sayangnya, tidak semua masyarakat dan penegak hukum mengetahui dan melindungi hak anak tersebut. Padahal, anak sebagai subjek hukum meskipun terbukti bersalah, menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak, tetap memiliki perlakuan yang berbeda di hadapan hukum, tidak sama dengan orang dewasa.

Hasan, SH, Asisten Deputi Perlindungan Anak Berhadapan dengan Hukum, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA), menjelaskan, lama hukuman bagi anak sebenarnya separuh dari hukum orang dewasa, tidak ada hukuman mati, dan hanya boleh ditahan saat anak berusia 14 tahun.

“Anak-anak yang terlibat tindak pidana memiliki syarat, misal dibina di luar, berhak memperoleh pendidikan, layanan masyarakat, diawasi, diberikan pelatihan kerja, pembinaan, dan moral agama supaya jadi orang benar,” paparnya.

Tidak hanya penerapan pada jumlah masa pidana saja, menurut Hasan saat masih dalam masa penyidikan pun anak memerlukan perlakuan yang berbeda dengan orang dewasa. Perbedaannya mulai dari penegakan hukum, penyidikan, dan semua proses hukumnya sampai ke masa pidana.

Menurutnya, ada perbedaan pengaruh, kognitif, dan psychosocial, agar anak dilindungi dari eksploitasi, rentan dari perlakuan yang tidak mengindahkan hak asasi, diperlakukan secara kasar, dan diancam. “Anak yang terlibat tindak hukum pun rentan dengan perlakuan tidak menyenangkan antar napi, sering mengalami kekerasan, sehingga perlu mendapat pembinaan khusus dari negara,” imbuhnya.

Hasan melanjutkan, saat terlibat tindak pidana anak perlu diberikan penanganan secara tepat dan cepat. Ketika dalam masa proses hukum mereka pun perlu mendapat pendampingan, seperti yang dirumuskan dalam Undang-undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak, yang tujuannya melindungi hak-hak anak terutama yang bersentuhan hukum.

“KPPPA memiliki upaya pencegahan agar anak tidak berkonflik dengan hukum. KPPPA mengupayakan supaya anak tercegah dari tindak pidana, mengatasi akar permasalahan mengapa anak melakukan tindak pidana, supaya tidak berkonflik dan mengulanginya lagi, tidak terlibat proses peradilan, dan terlibat hukum,” ujar Hasan.

Oleh karena itu, dia berharap masyarakat mampu mencegah anak berkonflik dengan hukum dengan mencari masalah yang kemungkinan terjadi.

“Kalau misal tawuran masyarakat harus mencari tahu apa yang perlu dilakukan agar tidak terjadi tawuran lagi. Selama ini kita lihat masyarakat diam, kami harap masyarakat lebih peduli terhadap perlindungan anak khususnya agar anak tidak berkonflik dengan hukum,” tandasnya.

Check Also

Rumah Makan Unik di Dunia, dari yang di Atas Pohon hingga Bawah Laut!

  PERKEMBANGAN industri kuliner berkembang pesat. Banyak bermunculan nama-nama restoran yang mengadopsi konsep yang unik. ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: