Home / Pilkada / Pasca Pilkada, Gus Irawan: Rajut Kembali Persatuan
WOL Photo/Ist

Pasca Pilkada, Gus Irawan: Rajut Kembali Persatuan

MEDAN, Waspada.co.id – Ketua DPD Gerindra Sumut Gus Irawan Pasaribu mengimbau kepada seluruh warga Sumatera Utara untuk merajut kembali persatuan yang sempat terputus akibat beda pilihan.

Dia mengungkapkan hal itu kepada wartawan di Medan, Jumat (29/6), menyikapi terpecahnya dukungan masyarakat dalam Pilgubsu 27 Juni 2018. “Tidak bisa kita hindari, banyak sekali pengaduan dan juga cerita dari warga yang pertemanannya putus karena beda pilihan.”

Ada yang di facebook sampai unfriend karena beda pilihan, kemudian dalam satu lingkungan/wilayah pun ada yang tak bertegur sapa, jelasnya. “Cerita itu saya dapatkan di berbagai kelompok masyarakat. Bahkan tensi tinggi mewarnai jejaring sosial. Sampai dengan bahasa yang saya anggap sudah tidak lumrah,” jelasnya.

Tentu setelah event itu terlewati dan sudah ada Eramas sebagai pemenangnya, Wakil Ketua Fraksi Gerindra di DPR-RI tersebut meminta masyarakat lebih dewasa. “Yang kalah harus mengakuilah siapa pemenangnya. Kan kompetisisinya sudah lewat. Kemudian yang menang pun jangan jumawa. Karena merasa menang lantas mengintimidasi yang kalah. Itu juga tidak betul,” jelasnya.

Dia mengharapkan perbedaan pilihan politik adalah hal lumrah. “Sumatera Utara ini harus dibangun dengan sinergi kedua kelompok yang sempat terpecah. Siapa pun yang mengaku anak Sumatera Utara turut berperan dalam pembangunan selanjutnya,” kata dia.

Gus Irawan mengatakan sepanjang tahun ini sampai tahun depan memang sarat dengan agenda politik. “Jika tahun ini ada 171 pemilihan kepala daerah, maka tahun depan ada lagi pemilihan legislatif dan pemilihan presiden,” tuturnya.

Pada prinsipnya, menurut dia, jika masyarakat dewasa dan berfikir realistis tak sampai membenturkan pilihan politik dengan persatuan bangsa. “Kita semua pasti cinta NKRI. Saya kira siapa pun itu yang tinggal di Indonesia pasti mencintai negara tempat lahir dan besarnya.”

“Jadi karena beda pilihan jangan menuding orang yang tak sejalan dengannya tak cinta NKRI. Kita semua lahir, belajar, bekerja bahkan sampai akhir hayat kita pun di Indonesia. Bagaimana kita tak cinta,” jelasnya.

Kemudian tentu saja jangan sampai ada yang menjelek-jelekkan pilihan orang lain karena biasanya apa yang dipilih sudah berdasarkan pertimbangan realisitis, kata dia. “Yang membuat kita sering bertentangan karena ada kesan menyudutkan. Beda pilihan seperti tidak bersaudara lagi.”

Dia khawatir jika sikap seperti itu terus dipelihara akan berdampak sampai pemilihan presiden nanti. “Pengalaman kita Pilpres 2014 kan begitu. Sampai sekarang efeknya masih terasa. Apa kita mau terus hidup saling menyudutkan. Berfikirlah positif. Jangan memaksakan kehendak atas pilihan orang lain. Jaga tolerasi, persatuan dan kesatuan,” ungkapnya.

Gus Irawan Pasaribu juga berpesan agar statement yang dimunculkan tidak menyinggung-nyinggung keyakinan seseorang. “Keyakinan itu harga mati. Jika kita komentari keyakinan seseorang pastilah mereka tersinggung. Dulu kita tidak pernah hidup dalam situasi seperti sekarang. Semua dulu saling menghargai dan menghormati kerukunan antar umat beragama. Karena tidak ada yang mengomentari agama,” sambungnya.

Sekarang, katanya, terutama di media sosial banyak sekali yang mencoba mengomentari keyakinan seseorang tapi yang berkomentar berbeda keyakinan. “Bagaimana yang seperti itu bisa menyatu. Jika sudah berbeda keyakinan jangan berkomentar. Itu yang kita sebut merawat tolerasi dan merajut persatuan. Sehingga sesama kita tetap rukun,” ungkapnya. (wol/ags/min/data2)

Editor: Agus Utama

Check Also

Gus Irawan Ingin Tiap Rupiah APBN Sampai ke Masyarakat

MEDAN, Waspada.co.id – Ketua Komisi VII DPR RI Gus Irawan Pasaribu menginginkan seluruh lapisan masyarakat ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: