Home / Pemilu / 2 Bulan Kampanye Hasil Survei Tak Banyak Bergerak, Jokowi-Ma’ruf 53,2%, Prabowo-Sandi 31,2%

2 Bulan Kampanye Hasil Survei Tak Banyak Bergerak, Jokowi-Ma’ruf 53,2%, Prabowo-Sandi 31,2%

JAKARTA – Dua bulan setelah masa kampanye dimulai, elektabilitas kedua capres dan cawapres pun tak banyak bergerak jika dibandingkan dengan posisi elektabilitas sebelum kampanye.

Dalam hasil survei Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Agustus 2018, elektabilitas Jokowi-Maruf sebesar 52.2%. Sementara elektabilitas Prabowo-Sandi sebesar 29.5%.

“Dan mereka yang masih belum menentukan pilihan sebesar 18.3%. Saat ini, November 2018, elektabilitas Jokowi-Maruf sebesar 53.2%, elektabilitas Prabowo-Sandi sebesar 31.2%, dan mereka yang masih belum menentukan pilihan sebesar 15.6%,” kata Peneliti LSI Denny JA Rully Akbar dalam rilis survei terbarunya, Kamis (6/12/2018).

Pada bulan September dan Oktober 2018, LSI Denny JA juga merekam naik-turunnya suara kedua kandidat. Namun naik turunya suara kedua kandidat selama dua bulan masa kampanye tidak terlalu signifikan.

“Jarak kedua kandidat masih tetap diatas 20% dengan keunggulan Jokowi-Maruf dibandingkan Prabowo-Sandi,” kata Rully.

Rully memaparkan bahwa berbagai isu dan program yang disampaikan ke publik oleh dua kubu yang bertarung di Pilpres 2019 ternyata mayoritas tak punya efek elektoral yang signifikan terhadap pemilih secara luas.

“Isu-isu tersebut lebih banyak menjadi sensasi dalam diskursus publik selama masa kampanye dan tak banyak berpengaruh pada naik turunnya suara capres,” ujarnya.

LSI Denny JA pun melakukan survei popularitas isu yang paling diketahui oleh publik sepanjang masa kampanye. Seperti isu Tampang Boyolali dengan popularitas isu sebesar 28.8%. Dari mereka yang tahu pernyataan Prabowo tentang Tampang Boyolali, sebesar 65.8% menyatakan tidak suka dengan pernyataan tersebut. Sementara mereka yang menyatakan suka hanya sebesar 9.3%.

“Kunjungan Prabowo ke Gempa Lombok diketahui oleh 27.4% pemilih. Dari mereka yang tahu kunjungan Prabowo tersebut, sebesar 91.4% menyatakan suka, sementara sebesar 3.2% menyatakan tidak suka,” ucapnya.

Kemudian, rapat tahunan IMF di Bali juga diketahui oleh 19.2% pemilih. Mereka yang tahu adanya rapat tahunan di Bali, sebesar 49.5% menyatakan tidak suka dengan kegiatan tersebut, sementara 33.5% menyatakan suka dengan rapat tahunan IMF tersebut.

Selain itu, pernyataan Prabowo Subianto yang mengatakan jika terpilih sebagai Presiden maka tidak akan melakukan kegiatan impor juga cukup menyitaa perhatian publik sekitar 18.7% pemilih.

“Dari mereka yang tahu atau pernah mendengar pernyataan Prabowo tersebut, sebesar 44.8% menyatakan tidak suka, sementara sebesar 45.7% menyatakan bahwa mereka suka dengan pernyataan tersebut,” papar Rully.

Menurut Rully, upaya Prabowo-Sandi untuk melakukan rebranding terhadap sosok Prabowo dengan memunculkan isu the new Prabowo, ternyata hanya diketahui oleh 13.0% pemilih. Kemudian, dari mereka yang mengaku pernah mendengar isu tersebut, sebesar 54.9% menyatakan suka dan hanya sebesar 34.0% yang menyatakan tidak suka.

“Isu bahwa rapat tahunan IMF memberikan dana bantuan dua milliar kepada korban gempa Palu dan Lombok, diketahui oleh 12.1% pemilih. Dari mereka yang mengetahui kegiatan tersebut, sebesar 82.1 % menyatakan suka dengan kegiatan tersebut. Dan hanya sebesar 10.3% yang menyatakan tidak suka,” lanjut Rully.

Ia menambahkan, pidato politikus sontoloyo yang diucapkan oleh Presiden Jokowi ternyata hanya diketahui oleh 11.7% pemilih. Dari mereka yang tahu atau pernah mendengar, sebesar 21.4% menyatakan suka dengan pernyataan tersebut.

“Sementara 60.1% dari mereka yang pernah mendengar kasus tersebut menyatakan tidak suka dengan pernyataan politik sontoloyo,” imbuhnya.

Sementara itu, isu Yusril menjadi pengacara tim Jokowi-Ma’ruf rupanya hanya diketahui oleh 5.8% pemilih. Dari mereka yang mengetahui isu tersebut, sebesar 42.5% menyatakan suka dengan isu tersebut. “Sementara sebesar 36.8% dari mereka yang pernah mendengar kasus tersebut, menyatakan tidak suka,” tandasnya.

Dalam survei November 2018 ini, LSI Denny JA menanyakan sejumlah isu yang muncul selama periode kampanye pilpres. Survei dilakukan pada tanggal 10-19 November 2018. Survei menggunakan 1200 responden di 34 propinsi, dengan metode wawancara langsung. Margin of error survei ini adalah +/- 2.9%. Selain survei, LSI Denny JA juga melengkapi survei ini dengan riset kualitatif dengan metode FGD, indepth interview, dan analisis media.

Dalam rilis survei mengenai isu dan program capres ini, LSI Denny JA juga melengkapi data dengan hasil dari media dan social media monitoring yang dilakukan di Strategic Room LSI.

Check Also

Jokowi Diuntungkan Pindahnya Markas Pemenangan Prabowo di Jateng

JAKARTA, Waspada.co.id – Tim Kampanye Nasional Joko Widodo-Ma’ruf Amin tak khawatir soal wacana pemindahan pos ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: