_
Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Utamakan Pelayanan, Grab Kampanyekan Program #AntiNgaret
WOL Photo/Eko Kurniawan

Utamakan Pelayanan, Grab Kampanyekan Program #AntiNgaret

MEDAN, Waspada.co.id – Utamakan pelayanan kepada pelanggan, Grab Indonesia kampanye program #AntiNgaret di delapan kota besar di Indonesia, salah satunya adalah Kota Medan pada Selasa (13/8).

Ken Pratama selaku City Manager 2-Wheel Medan Grab Indonesia menyampaikan bahwa budaya ngaret sepertinya sudah tidak asing lagi dan sangat familiar didengar di telinga masyarakat Indonesia.

“Istilah ngaret berasal dari kata dasar ‘karet’ yang digunakan oleh kalangan anak muda untuk menggambarkan sesuatu yang ‘molor’ dari waktu yang telah direncanakan. Istilah ini memang sering dipakai dalam menggambarkan seseorang yang tidak tepat waktu atau nggak on time,” tuturnya.

Budaya tersebut menciptakan kebiasaan di mana orang merasa terlalu nyaman mengulur waktu dan menyebabkan berkurangnya produktivitas.  Akan tetapi, ada juga sebagian justru tak ingin terjebak dalam kebiasaan terus-terusan mengulur waktu. Mereka yang disebut sebagai pejuang #AntiNgaret ini selalu berusaha maksimal agar mencapai tujuan tepat waktu.

“Dan ini yang menjadikan GrabBike sebagai armada pendukung mereka yang terus mengejar berbagai hal yang berarti, tentunya ketepatan waktu penjemputan. Dengan jumlah armada yang memadai serta informasi estimasi waktu kedatangan mitra pengemudi saat memesan, pengguna dapat tiba di tujuan lebih cepat,” ungkapnya.

Hal ini sejalan misi baru Grab untuk mendorong Indonesia maju dengan meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan menciptakan akses kepada layanan harian berkualitas tinggi dan juga aman.

“Program #AntiNgaret ada di delapan kota besar di Indonesia, yakni Semarang, Yogyakarta, Medan, Bandung, Makassar, Surabaya, Palembang, dan Jabodetabek,” sebut Ken lagi.

Antropolog sekaligus Ketua Departemen Antropologi Sosial FISIP USU, Dr Fikarwin Zuska MAnt, menambahkan budaya ngaret telah menjadi kebiasaan sebagian besar masyarakat dan dianggap ‘tradisi’ yang sulit untuk ditinggalkan.

“Asumsi bahwa orang Indonesia tak bisa lepas dari ngaret kini sudah menjadi stereotype, khususnya ketika membuat janji. Dampaknya, produktivitas terganggu,” tambahnya.

“Untuk bisa meminimalisir kebiasaan yang sudah menjamur sebagai fenomena sosial ini, masyarakat perlu mawas diri untuk mengubah kebiasaan ini. Selain itu, mereka juga bisa memanfaatkan transportasi online sebagai armada pendukung mencapai tempat tujuan dengan nyaman dan cepat,” tandas dosen FISIP USU tersebut. (wol/eko/data1)

Editor AUSTIN TUMENGKOL

Check Also

Gurning Siap Bersaksi di Komdis PSSI

MEDAN, Waspada.co.id – Pelatih PSMS Medan, Abdul Rahman Gurning, siap memberikan kesaksian di hadapan Komisi ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.