_
Home / Medan / Poldasu Periksa Wali Kota Siantar
Istimewa

Poldasu Periksa Wali Kota Siantar

MEDAN, Waspada.co.id – Penyidik Subdit II Harda Bangtah Dit Reskrimum Polda Sumut memeriksa Wali Kota Pematangsiantar, Hefriansyah Noor, selama dua jam sebagai saksi perkara dugaan penipuan dan penggelapan, Jumat (6/9).

“Iya, Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor sudah diambil keterangannya, sebagai saksi dugaan penipuan dan penggelapan atas nama pelapor Rusdi Taslim,” ungkap Kasubdit II Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Sumut, AKBP Edison Sitepu.

Kasus yang menyeret nama Wali Kota Pematangsiantar sebagai saksi ini diduga dilakukan oleh Benny Harianto Sihotang, mengenai masalah proyek di tahun 2018. Kasus yang sudah berjalan satu tahun lebih ini akan dipelajari oleh Subdit II Harda Bangtah.

“Kita pelajari dahulu kasusnya, tidak ada kendala, kasus ini baru kita pegang,” terangnya.

“Kita memanggil Wali Kota Siantar sebagai saksi untuk mengetahui bagaimana aturan yang telah disepakati ke dua pihak. Kasus ini baru kita tangani, dilimpahkan dari Subdit IV Renakta Dit Reskrimum Poldasu,” sambung Edison Sitepu.

Diketahui, Wali Kota Pematangsiantar diperiksa sebagai saksi atas perkara tindak pidana dugaan penipuan dan penggelapan sesuai Pasal 378 atau 372 KUHPidana yang diduga dilakukan oleh Benny Harianto Sihotang SE. Pelapor dalam perkara ini adalah Rusdi Taslim tertanggal 15 Februari 2018.

Sebelumnya, Kamis (5/9), Dirreskrimum Poldasu Kombes Andi Rian mengatakan, Wali Kota Siantar Hefriansyah Noor dan Sekda Budi Utari akan diperiksa Jumat (6/9) untuk melengkapi laporan seorang investor bernama Rusdi Taslim. Rusdi Tazlim melaporkan dugaan penipuan yang diduga dilakukan mantan Dirut PD Pasar Horas Jaya Pematangsiantar Benny Sihotang.

Sementara informasi diperoleh, proyek refitalisasi Pasar Horas Siantar diproyeksikan tahun 2018 dengan pagu sebesar Rp24 miliar.

Oleh pihak PD Pasar Horas yang kala itu Dirutnya Benny Harianto Sihotang, SE memenangkan sebuah perusahaan milik Fernando Nainggolan alias Moses bersama Rusdi Taslim.

Seiring berjalannya waktu, Benny Sihotang meminta uang kepada rekanan (Rusdi Taslim). Oleh Rusdi Taslim menyuruh anggotanya bernama Didit Cemerlang yang kemudian uang diberikan kepada Fernando Nainggolan als Moses.

Oleh Fernando Nainggolan als Moses mengirim lewat rekening kepada Benny Harianto Sihotang. Akan tetapi, proyek pembangunan Pasar Horas tidak ada alias fiktif. Akibat kejadian itu, Rusdi Taslim mengaku mengalami kerugian Rp1,7 miliar.

Karena menjadi korban penipuan, Rusdi Taslim melaporkan kasus itu ke Poldasu ditangani Subdit IV/Renakta. Tapi karena dinilai penangananbya terkesan lambat sehingga diserahkan ke Subdit II/Harda-Bangtah.(wol/lvz/data1)

Editor: SASTROY BANGUN

Check Also

Poldasu Siapkan Skema Pengamanan Wilayah Jelang Pelantikan Presiden

MEDAN, Waspada.co.id – Menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden 20 Oktober 2019 mendatang, Kapolda Sumut, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.