Home / Warta / Ekonomi dan Bisnis / Panen Raya Tiba, Harga Beras Tinggi
(WOL Photo/Ega Ibra)

Panen Raya Tiba, Harga Beras Tinggi

MEDAN, WOL – Dari semula masalah fundamental seperti data yang amburadul sehingga kebijakan sulit diambil dan cenderung menuai kontroversi.

Pernyataan mengenai surplus beras juga tidak seragam sehingga kebijakan yang diambil justru masih bisa diperdebatkan. Walau demikian yang perlu digaris bawahi adalah harga beras masih bertahan mahal belakangan ini.

“Ini yang menjadi landasan serta diambil jalan keluar dengan cara melakukan impor. Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa impor 100 persen salah. Data terakhir justru menyebutkan bahwa musim panen yang sudah mulai kelihatan di sejumlah wilayah di Sumut, tidak membuat harga beras turun,” tuturnya.

“Saat ini di pasar justru ada kenaikan harga beras medium sebesar Rp500/kg-nya. Saat ini, harga beras jenis C4 mengalami kenaikan. Ini menjadi pertanyaan besar dan sedang saya lakukan kajian mendalam. Mengapa di saat panen sudah mulai dilakukan, harganya justru naik. Beras medium saat ini dijual di kisaran harga Rp11.500 per kg, dari sebelumnya sebesar Rp11.000 per kg,” tutur Ekonom Sumut, Gunawan Benjamin (27/2).

Inikan aneh jadinya. Sehingga kalau impor dilakukan, memang bisa meredam gejolak harga beras di pasar. Semua pihak harus turun tangan menghadapi persoalan ini. Dan sebaiknya ada campur tangan pemerintah untuk melihat fenomena yang terjadi belakangan.

“Berdasarkan pemantauan kita, wilayah Kabupaten Asahan atau Tanjung Ledong sudah memasuki masa panen saat ini. Namun masih belum tampak ada penurunan harga. Saya melihat ada dua kemungkinannya jika melihat tren harga beras yang tak kunjung turun saat musim panen tiba,” jelasnya.

Pertama ada dugaan penimbunan sehingga proses penggilingan terganggu, dan kedua ada gangguan cuaca sehingga proses pengeringan mengalami gangguan, khususnya di kilang-kilang kecil.

“Ini masih dugaan semata. Sebaiknya pemerintah melakukan sidak untuk mengetahui secara rinci masalah beras tersebut. Kalau penimbunan, pada dasarnya setiap kilang memang membutuhkan (menimbun) stok gabah untuk mengatur operasional kilang tersebut,” lanjut Gunawan.

“Wajar sebenarnya, namun bisa ditertibkan bagi pihak-pihak yang mungkin melakukan penimbunan di luar batas kewajaran tersebut. Terkait masalah pengeringan, ini yang kerap dialami oleh kilang-kilang kecil yang tidak memiliki teknologi pengeringan modern. Jadi memang sebaiknya kita telusuri lebih dalam mengenai masalah beras di Sumatera Utara saat ini,” pungkasnya.(wol/eko/data2)

Editor: SASTROY BANGUN

Check Also

Peluang UMKM Era Digital Hadapi Tantangan Tahun Politik

MEDAN, Waspada.co.id – PT Bank Tabungan Pensiunan Nasional Tbk (BTPN) bersinergi dengan Bisnis Indonesia menggelar ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: