_
Home / Medan / Nasabah Meninggal Dunia, Bank Diduga Tagih Kartu Kredit Dengan Cara Teror
(Ilustrasi Kartu Krerdit)

Nasabah Meninggal Dunia, Bank Diduga Tagih Kartu Kredit Dengan Cara Teror

MEDAN, Waspada.co.id – Bank Mega melalui divisi collection cabang Medan melakukan penagihan kartu kredit kepada nasabahnya yang sudah meninggal dunia dengan menggunakan teror dan ancaman.

Hal itu diungkapkan A Nasution, pihak yang dihubungi Bank Mega melalui staf collectionnya bernama Jihan, Kamis (31/10). Menurut Nasution, proses itu bermula atas tagihan kartu kredit keluarga yang sudah meninggal dunia beberapa waktu lalu.

“Rabu lalu, saya dihubungi staf Bank Mega yang namanya Jihan. Atasan dia katanya Dian Rossya berkantor di Jl KL Yos Sudarso meminta penyelesaian tagihan kartu kredit senilai Rp37 juta,” jelas Nasution.

“Waktu dia telepon, katanya cuma diberi waktu sampai Kamis (31/10) harus dibayar Rp4.360.000. Saat di telpon, sudah saya jelaskan akan usahakan untuk bayar,” tuturnya.

Namun yang unik setelah itu Jihan malah terus menerus meneror lewat whatsapp dan kata-kata yang tidak pantas dan menghardik.

“Saya masih simpan ini semua chat WA-nya. Saya sudah ingatkan Jihan, agar bicara itu baik-baik saja. Toh saya juga mau menjawab telepon dan whatsapp. Tapi kalau dia whatsapp terus-terusan bukan kerjaan saya juga harus meladeninya terus-terusan,” ungkapnya.

Dia mengaku heran saja dengan cara Bank Mega tersebut yang masih memelihara cara primitif, kekerasan, dan perbuatan tidak menyenangkan.

“Kalau saya lihat dalam perlindungan bagi pemilik kartu kredit dalam Surat Edaran Bank Indonesia Nomor 14/17/DASP tentang penyelenggaraan kegiatan alat pembayaran dengan menggunakan kartu (APMK) sebagai aturan pelaksana dari Peraturan Bank Indonesia No. 14/2/PBI/2012 tanggal 6 Januari 2012 tentang Perubahan Atas PBI No. 11/11/PBI/2009 tentang Penyelenggaraan Kegiatan APM, ada juga hak perlindungan atas nasabah di situ,” jelas Nasution.

Aturan itu memang menegaskan beberapa larangan kepada penagih seperti dilarang memakai ancaman/kekerasan/mempermalukan, dilarang memakai kekerasan fisik atau verbal dan dilarang meneror (terus menerus dan mengganggu). Jika penagihan menggunakan sarana komunikasi dilarang dilakukan secara terus menerus yang bersifat mengganggu.

Misalnya, jika debt collector menagih melalui telepon, sebaiknya penagihan dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja yang dinilai tepat untuk menagih, bukan terus menerus sepanjang hari. Jika pemilik kartu kredit sudah merasa terganggu, sebaiknya memberitahu bank penerbit kartu kredit.

“Kalau melihat aturan itu, harusnya ya pihak collection Bank Mega ini sudah melanggar edaran BI itu. Bahkan seharusnya penagihan kartu kredit dilakukan kepada pemegang kartu saja bukan kepada orang lain,” jelasnya.

Saat hal itu dikonfirmasi ke Jihan bagian collection Bank Mega apakah memang begitu cara penagihan, melalui WA nya dia malah jawab: nggak usah banyak bicara pak, sekarang jawab ini. Lalu menyatakan kalau dia ditugaskan oleh atasannya Dian Rosyya.

“Bapak kalau mau bayar silakan bayar, kalau mau komplen silakan datang,” katanya dalam pesan singkatnya.

“Saya mau coba konsultasi dulu dengan lembaga perlindungan konsumen, bertanya ke kawan-kawan di OJK serta ke komisi yang membidangi perbankan di dewan perwakilan rakyat. Bukan apa-apa, biar mereka juga menjalankan aturan dan punya etika,” kata Nasution lagi.

Hingga kini, pihak bank belum memberikan tanggapan atas hal tersebut. (wol/ags/data2)

Editor M AGUS UTAMA

适适

Check Also

Hak Penyandang Disabilitas Belum Terpenuhi, DPRD Medan Bakal Buat Perda

MEDAN, Waspada.co.id – Ketua Persatuan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Sumut, Muhamad Yusuf, menyebut Pemko Medan ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.