Home / Medan / Kompol Fahrizal Sudah Lama Derita Gangguan Jiwa Akut
WOL Photo

Kompol Fahrizal Sudah Lama Derita Gangguan Jiwa Akut

MEDAN, Waspada.co.id – Pengadilan Negeri Medan menggelar persidangan terhadap Kompol Fahrizal mantan Wakapolres Lombok yang menembak mati adik iparnya Jumingan, Senin (8/10).

Dalam persidangan Kompol Fahrizal sudah mengalami gangguan kejiwaan akut atau Skizofrenia Paranoid sejak tahun 2014.

Akibat gangguan kejiwaan ini, terdakwa sempat mendapat perawatan di Klinik Utama Bina Atma di Jalan HOS Cokroaminoto, Medan.

“Perbuatan yang dilakukan terdakwa Fahrizal tidak dapat dijatuhi pidana sebab sudah mengalami gangguan kejiwaan akut atau Skizofrenia Paranoid tiga tahun sebelum peristiwa penembakan terjadi,” ujar Hasrul Benny Harahap dan Julisman, selaku penasehat hukum terdakwa dalam persidangan lanjutan dengan agenda pembacaan nota eksepsi di ruang Cakra 4 Pengadilan Negeri Medan.

Skizofrenia merupakan penyakit gangguan otak yang menyebabkan penderitanya mengalami kelainan dalam berfikir, serta kelainan dalam merasa atau mempersepsikan lingkungan sekitarnya. Penderita skizofrenia memiliki kesulitan dalam menyesuaikan pikirannya dengan realita yang ada.

“Terdakwa pernah menjalani pengobatan ke Klinik Utama Bina Atma pada 5 Agustus 2014, dan kemudian secara berkelanjutan hingga 11 April 2016. Pada waktu itu dokter yang merawat adalah dr Mustafa M Amin dan dr Vita Camelia. Hal ini dapat dibuktikan dari surat yang dikeluarkan pimpinan Klinik Utama Bina Atma yang ditandatangani dr Tapi Harlina MHA tertanggal 16 April 2018,” urainya.

Bahkan setelah peristiwa penembakan terjadi, pihak penyidik Polda Sumut juga melakukan pemeriksaan terhadap eks Wakasat Reskrim Polrestabes Medan ini di RS Jiwa Prof DR Muhammad Ildrem.

Dokter yang memeriksa kesehatan terdakwa yakni, Dr Paskawani Siregar tertanggal 23 April 2018 menyebutkan pelaku mengalami sakit Skizofrenia Paranoid.

“Kejadian penembakan pada 4 April 2018 lalu, yang dilakukan Fahrizal terhadap Jumingan yang merupakan suami dari adiknya Heny Wulandari tanpa sadar atau di luar logika kesadarannya. Terlebih lagi kedatangan terdakwa didampingi istrinya Maya Safira Harahap dari lombok untuk melihat ibunya Sukartini yang baru sembuh,” ucapnya.

Bahkan saat peristiwa terjadi terdakwa mengaku mendengar bisikan gaib, sehingga ia tidak bisa menguasai diri atau kesadarannya pada saat itu. Untuk itulah pihaknya bermohon agar majelis hakim mengabulkan permohonan dan menolak seluruh dakwaan dari penuntut umum.

“Selain itu, pihak keluarga Jumingan dalam surat pernyataan yang disampaikan Jumari dan Sri Wulan selaku kedua orangtuanya, pada 8 April

2018 telah memaafkan Fahrizal atas peristiwa tersebut dan berharap agar Fahrizal bisa diobati untuk penyembuhan penyakitnya karena bila di dalam sel akan semakin memperparah penyakitnya,” paparnya.

Usai membacakan eksepsi, majelis hakim yang diketuai Deson Togatorop menunda persidangan hingga Senin mendatang untuk mendengarkan tanggapan Jaksa Penuntut Umum (JPU) atas keberatan yang disampaikan tim penasehat hukum terdakwa.

Usai sidang, JPU Randi Tambunan dari Kejati Sumut saat dimintai tanggapannya terkait eksepsi terdakwa menyebutkan kasus ini harus dibuktikan di persidangan.

“Biarlah majelis hakim yang memutuskan apakah perbuatan terdakwa tidak dapat dipertanggungjawabkan karena kondisi kesehatannya,” pungkasnya.(wol/lvz/data1)
Editor: SASTROY BANGUN

Check Also

Warga Tak Keberatan Tanah 74 Hektar Helvetia Dieksekusi

MEDAN, Waspada.co.id – Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Medan diketuai Wahyu Prasetyo kembali melanjutkan persidangan terhadap ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: