Home / Fokus Redaksi / Antisipasi Paham Radikal, Guru Harus Dekat Dengan Siswa
WOL Photo/M. Rizki

Antisipasi Paham Radikal, Guru Harus Dekat Dengan Siswa

MEDAN, WOL – Mulai masuknya paham radikalisme ke dunia pendidikan ataupun kalangan remaja, membuat Kepala Dinas Pendidikan Kota Medan, Marasutan Siregar, angkat bicara.

Pasalnya, paham yang dapat membuat seorang siswa mampu merubah prilakunya pasca menerima doktrin dari senior ataupun orang yang baru saja dikenal, berpengaruh buruk terhadap tumbuh kembangnya jiwa si anak.

Dikatakan, organisasi resmi yang diakui Dinas Pendidikan di sekolah-sekolah adalah OSIS dan Palang Merah Remaja (PMR). Kesemua oraganisasi tersebut tidak terlepas dari pengawasan kepala sekolah, selaku pengambil kebijakan teredah di Dinas Pendidikan.

“Makanya kita meminta kepala sekolah untuk memantau segala aktivitas siswa yang ada di sekolah mereka masing-masing. Untuk mengatasi kenakalan remaja, kita (Dinas Pendidikan, red) juga meminta supaya pembinaan karakter itu benar-benar dilaksanakan,” jelasnya kepada Waspada Online, menyikapi aksi teror yang dilakukan alumni SMA Negeri 4, Ivan Armadi Hasugian di Gereja Stasi Santo Yosep Jalan Dr Mansyur, Minggu (28/8).

Lebih jauh Marasutan menerangkan, program di ajaran baru tahun ini, Dinas Pendidikan mempunyai tiga komponen program yang harus dijalankan masing-masing sekolah. Yang pertama, setiap guru maupun kepala sekolah tidak lagi bergegas menuju ruangan mereka ketika jam pelajaran usai. Mereka harus berdiri di pintu gerbang menyalami semua murid yang hendak pulang ke rumah masing-masing. Sehingga terjalin hubungan kekeluargaan antara guru dan siswa.

Yang kedua, sebelum dan sesudah mata pelajaran dimulai harus berdoa terlebih dahulu. Tujuannya yakni, untuk membina iman dan mental para siswa. Segala sesuatunya itu harus dikembalikan kepada sang Maha Pencipta, Tuhan Yang Maha Esa.

“Yang ketiga, siswa nantinya akan membuat literasi bacaan yang tersedia di setiap sudut kelas. Ke depannya literasi tersebut akan dirangkum, sehingga siswa menjadi terbiasa membuat sinopsis. Di samping itu, siswa juga mampu memfilter informasi apa yang datang pada mereka. Dan pada kenaikan kelas, 10 terbaik akan di umumkan pihak sekolah. Kesibukan inilah yang akan kita ciptakan kepada siswa yang akan kita mulai September mendatang,” urainya, Selasa (30/8).

Mengenai keterlibatan alumni SMA Negeri 4 tersebut, Marasutan tidak dapat berbuat banyak. Sebab pelaku sudah lebih dahulu meninggalkan bangku sekolah. “Kalau pelaku masih berstatus pelajar, akan kita telusuri ke sekolah yang bersangkutan. Pembinaan seperti apa yang kurang di sekolah itu maupun sekolah negeri lainnya,” imbuhnya.

Sementara itu, anggota Komisi A DPRD Medan, Mulia Asri Rambe, menilai gerakan radikalisme sudah tidak lagi mengenal usia atau lokasi dalam merekrut calon pengantin (pelaku bom bunuh diri, red). Sebab, anak di usia muda sangat mudah menerima faham-faham baru yang mengarah kepada tindakan kriminal. Oleh karenanya, peran serta orang tua sangat penting dalam hal memantau gerak gerik tingkah laku si anak.(wol/mrz/data2)

Editor: SASTROY BANGUN

Check Also

Pekerja Baliho Nyaris Tewas Tersengat Listrik

MEDAN, Waspada.co.id – Seorang pekerja pemasangan spanduk baliho yang belum diketahui identitasnya, Selasa (14/8) sore, ...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.
%d bloggers like this: