_
Home / Komunitas / DPF Ajak Guru Labura Melek TIK
Istimewa

DPF Ajak Guru Labura Melek TIK

LABURA, WOL – Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dalam pendidikan adalah hal yang yang mutlak dikuasai oleh guru abad 21. Di zaman digital sekarang ini, sudah selayaknya guru piawai dalam memanfaatkan teknologi didalam proses pembelajaran di sekolah.

Melihat bahwa siswa-siswi sudah sangat dekat dengan teknologi canggih, tak hanya untuk konsumsi pribadi, namun juga didalam menyelesaikan tugas dari guru di sekolah.

Ketidakmerataan pengetahuan perihal teknologi merupakan satu masalah yang harusnya dapat terselesaikan saat ini. Dihapusnya mata pelajaran TIK dalam kurikulum 2013 juga dikarenakan siswa dianggap sudah mampu dan menguasai TIK lebih dalam. Sayangnya keputusan ini kurang tepat bagi guru sebab ternyata masih banyak Guru yang Gaptek (Gagap Teknologi).

Dinas Pendidikan Deli Serdang beberapa waktu lalu yang menyatakan bahwa ada sekitar 13.000 guru peserta Uji Kompetensi Guru (UKG) yang tidak lulus uji dari 16.000 guru yang turut dalam UKG tersebut.

Fenomena guru gaptek ini membuat Djalaluddin Pane Foundation (DPF) kali kedua mengadakan Seminar Nasional Indonesia Terdidik TIK di Labuhanbatu Utara (Labura), Sabtu (21/5),  setelah sebelumnya sukses melaksanakan di Aula Bani Indonesia, Medan pada awal Mei lalu.

Dengan mengusung tema “Dengan Semangat Teacher Competency Development Program, Mari Bangun Daerah Menuju Indonesia Terdidik TIK”, DPF berharap bisa memotivasi para guru di Labura untuk lebih melek TIK.

Teacher Competency Development Program (TCDP) merupakan  peningkatan kualitas guru dengan memanfaatkan TIK untuk pembelajaran untuk menuju Indonesia Terdidik TIK.

“DPF menyadari, bahwa saat ini pendidikan Indonesia menuntut agar para pengajar kita sudah bisa menguasai metode pembelajaran abad 21, namun kita tidak bisa pungkiri, bahwa masih banyak guru yang terbelengu di metode pengajaran abad ke-19 alias masih menggunakan media pembelajaran yang kaku. DPF hadir dengan program TCDP, yang diharapkan mampu memberi solusi untuk mendukung pembelajaran kreatif di abad 21 dengan memanfatkan TIK dalam kegiatan belajar mengajar,” jelas Rizki Ardhani Situmorang, selaku Plt. Ketua DPF.

Rizki menambahkan, program TCDP tentunya bukan menjadi solusi satu-satunya untuk mewujudkan Indonesia Terdidik TIK di abad 21, untuk itulah Ia mengharapkan banyak dukungan dari banyak pihak untuk mewujudkan pendidikan yang lebih baik.

“TCDP hanya salah satu dari solusi yang ada, saya berharap kedepannya akan banyak lahir program dengan visi misi yang sama. Sejak 2012 DPF sudah menjalankan program TCDP di Labuhanbatu dan Labuhanbatu Selatan. Tahun ini kita ekspansi ke Deli Serdang dan Labuhanbatu Utara, semoga langkah kecil yang kami lakukan ini bisa seperti efek bola salju, dari kecil kemudian bergulir semakin besar,” harapnya.

TCDP sendiri dikemas dengan memberikan pelatihan gratis kepada guru-guru untuk difasilitasi pengajaran yang berbasis TIK, seperti belajar menggunakan media PowerPoint, memanfaatkan media blog dan serta pelatihan-pelatihan yang mendukung agar para pengajar menjadi lebih kreatif di era digital.

Setelah sukses beberapa waktu lalu melakukan seminar di Aula Gedung Bank Indonesia Medan, kali ini Djalaluddin Pane Foundation kembali melakukan seminar di Labuhan Batu Utara(Labura). Labuhan Batu Utara memiliki dua historikal sendiri hingga akhirnya tim Djalaluddin Pane Foundation memilih tempat ini untuk seminar berikutnya. Pertama, saat ini Labura dipandang cukup maju khususnya dalam program pendidikan.

“Kita sama-sama tahu Labura ini bukanlah Kabupaten yang besar, namun fokus kegiatan mereka dilihat cukup serius dari pemerintahan yang ada, terlihat dari gerakan Labura Membaca,” Jelas Rizki Ardhani Situmorang, selaku Plt. Djalaluddin Pane Foundation.

Dalam sambutannya Sukisman, S.Sos, M.Si mewakili Bupati Labuhanbatu Utara menyatakan untuk saat ini di Labuhanbatu Utara sendiri ada 362 sekolah swasta dan negeri yang sudah berdiri dengan komposisi SD 288 sekolah, SMP 46 sekolah, SMA 16 sekolah dan SMK 328 sekolah.

Sedangkan untuk perguruan tinggi yang ada hanya yayasan labuhan batu (ULB), cabang dari ULB yang ada di Rantau Prapat, Kabupaten Labuhanbatu.

“Meski demikian, saya bersama ketua DPRD sudah mencanangkan akan mendirikan Universitas di Labura. Hal ini sebagai komitmen kami untuk meningkatkan taraf pendidikan masyarakat. Rencananya tahun 2016 ini, akan diadakan studi kelayakan dan mempersiapkan dokumen yang berkaitan denngan pendirian perguruan tinggi,” jelas Bupati Labuhanbatu Utara dalam sambutannya yang dibacakan oleh staf ahli Bupati Labuhanbatu Utara.

Dedi Dwitagama, motivator pendidikan asal Jakarta, yang memiliki julukan ‘Guru Era Baru’ mengatakan jika setiap pengajar mampu optimal memanfaatkan TIK dalam kegiatan belajar mengajar, maka kualitas guru pun akan meningkat. “Dengan menguasai teknologi, maka dipastikan para guru juga akan semakin termotivasi untuk meningkatkan kemampuannya untuk menciptakan mutu pembelajaran yang lebih baik bagi siswanya,” ujar Dedi yang turut serta sebagai pembicara di seminar tersebut.

Berkaitan dengan itu, Bambang F. Wibowo selaku pemateri terkait pentingnya sosial media bagi pengembangan guru menyatakan bahwa Indonesia harus bekerja keras mengejar ketertinggalannya dengan negara tetangga. Parameternya sederhana saja yakni dilihat dari kemampuan literasi di Indonesia. Penelitian UNESCO tahun 2012 menyebutkan hanya 1 dari 1000 orang di Indonesia yang memiliki minat baca terhadap buku.

Sedangkan menurut Connecticut State University, Indonesia hanya menempati urutan ke-60 dari total keseluruhan 61 negara yang di survey tentang kemampuan literasi. Dari fakta ini sudah tergambar jelas kualitas pendidikan di Indonesia.

“Jadi teknologi, terkhusus pada sosial media dianggap sangat penting karena dapat memudahkan pekerjaan kita apalagi di abad 21 segala sesuatu sudah menggunakan TIK. Selain itu di zaman teknologi ini, keterampilan yang harus dimiliki semua orang adalah keterampilan teknologi juga media informasi,” jelas Bambang.

Seminar ini  diikuti ratusan guru dan puluhan mahasiswa keguruan se-Labura, dan mendapat dukungan penuh dari stakeholder di Kabupaten Labuhanbatu Utara, Dinas Pendidikan Labuhanbatu Utara, Kemenag Labuhanbatu Utara dan juga Universitas Labuhanbatu.

Besar harapan nantinya DPF melalui program TCDP mampu memberikan efek baik kepada para guru terkhusus di daerah seperti Labuhanbatu Utara.

“Secara khusus, DPF juga berharap agar program ini bisa diterima dihati para guru. Semoga TCDP bisa melahirkan tenaga pengajar yang bisa memanfaatkan teknologi untuk menuju Indonesia Terdidik TIK,” tutup Rizki. (rls/ags/data1)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copy Protected by Chetan's WP-Copyprotect.