Friday, 20 November 2009 20:12    PDF Print E-mail
Penyebab lumpur Sidoarjo belum dipastikan secara ilmiah
Warta
WASPADA ONLINE

SCOTTSDALE - Film dokumenter Mud Max: Investigative Documentary-Sidoarjo Mud Volcano Disaster tentang fenomena lumpur Sidoarjo telah diluncurkan baru-baru ini di Scottsdale, Arizona, Amerika Serikat.

Peluncuran film itu dilanjutkan dengan diskusi yang dihadiri panelis terdiri atas pakar dan ahli geologi terkemuka dari institusi terdepan Eropa dan Amerika Serikat, termasuk USGS (United States Geological Survey).

Juru bicara Mud Max, Avian Tumengkol, yang turut menjadi salah satu panelis, mengatakan bahwa dalam film Mud Max, hasil produksi Immodicus SA bekerja sama dengan Arizona State University, School of Earth and Space Exploration, terungkap bahwa para ilmuwan belum dapat memberikan bukti secara ilmiah apa penyebab dari bencana ini.

"Selama penyebab dan karakter dari volkano lumpur Sidoarjo ini belum diketahui secara ilmiah, bencana akan berjalan terus," katanya, malam ini.

Menurut Avian, kini sudah waktunya untuk melihat ke depan agar dapat merancang suatu program jangka panjang sebagai solusi terhadap bencana lumpur Sidoarjo (Lusi) itu.

"Urusan politik yang selama ini mewarnai kasus itu sudah bukan lagi kepentingan utama. Untuk mengatasi permasalahan ini, harus ada langkah-langkah konkrit dan penelitian sains guna mengatasi permasalahan bencana Lusi karena penelitian itu akan memberikan kita pemahaman sekaligus kepastian terhadap solusi ke depan," ujarnya.   

Dalam diskusi tersebut, tambahnya, para panelis mengungkapkan fakta-fakta dan pandangan-pandangan mereka secara mendalam. Namun, dari semua ilmuwan yang hadir, belum ada yang dapat memberikan bukti secara ilmiah apa penyebab dari bencana Lusi itu karena penelitian dan pengetahuan mengenai sumber, dalam, komposisi dan karakter dari volkano Lusi ini masih minim.

Apa yang sudah diketahui secara pasti adalah bencana Lusi ini adalah sebuah volkano lumpur (mud volcano), yang sampai saat ini gas dan lumpur masih terus merembes ke permukaan bumi dengan laju mencapai150.000 per meter kubik per hari.

Penyaluran kompensasi bagi para korban telah dilakukan. Namun pada saat yang bersamaan, arus lumpur itu mengancam warga dan lingkungan sekitar karena terus merembes ke arah utara Sidoarjo bahkan menuju Surabaya.

"Ini suatu kondisi yang perlu dipikirkan dan dipahami bersama karena justru akan lebih berbahaya bila dibiarkan lama-lama. Maka itu, sangat perlu adanya tim khusus yang melakukan penelitian secara sains. Dan sebenarnya, Arizona State University telah melakukan langkah awal itu melalui film Mud Max ini," kata Avian menjelaskan.

Para panelis, lanjut Avian, memberikan prioritas dan merekomendasikan agar Pemerintah Indonesia mencari langkah untuk penyelesaian ke depan sebagai upaya mengatasi bencana Lusi yang berkelanjutan.

Mereka mendesak adanya solusi dan yang tepat sasaran dan terarah sebagai inisiatif untuk merancang program penanggulangan. Salah satu solusi adalah menggalang dukungan finansil kalangan internasional dimana dana tersebut dapat membiayai upaya-upaya konkrit untuk mengatasi dan meminimalisasi bencana Lusi yang masih berlanjut.

Para panelis dalam diskusi itu berpendapat bahwa Pemerintah Indonesia akan kesulitan mengatasi bencana LUSI dan perlu mendapat bantuan beberapa pihak ilmuwan dan pihak pendana antarbangsa.

Dr. Tom Casadevall, anggota tim investigasi dari USGS menjelaskan bahwa sudah waktunya pemerintah Indonesia mengembangkan wacana bagaimana merealisasikan program jangka panjang untuk mengatasi bencana Lusi.

"Karena jika tidak, lumpur dari Porong itu bisa menyebar ke arah utara menuju laut dan mengancam lingkungan sekitarnya," kata Casadevall.

Ia juga mengingatkan bahwa sampai saat ini belum ada penemuan ilmiah yang bisa memastikan penyebab bencana Lusi itu. Menurut dia, Arizona State University bersedia melakukan penelitian ini agar dapat membantu Pemerintah Indonesia mengatasi bencana itu.

Kalangan ilmuwan di seluruh dunia saat ini sangat prihatin terhadap bencana Lusi karena permasalahannya memerlukan waktu yang cukup lama. "Kami siap dan sangat menginginkan untuk membantu pemerintah Indonesia mengatasi bencana ini yang berpotensi membahayakan daerah Jawa Timur. Lusi adalah fenomena geologis yang unik," kata Casadevall.

Prof. Amanda Clarke, ahli volkanologi dari Arizona State University, mengatakan bahwa pihaknya sangat siap untuk berkontribusi dan melakukan upaya-upaya secara teknis dan ilmiah. "Kami memiliki SDM dan teknologi yang diperlukan untuk melakukan penelitian serta upaya penanggulangan bencana Lusi ini," kata Clarke.

"Arizona State University sangat prihatin dengan bencana di Sidoarjo itu dan berharap pemerintah Indonesia bersama kalangan pakar internasional bekerja sama dalam upaya penanggulangan bencana ini," tegasnya.
(dat07/ann)


Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment