Tuesday, 04 November 2008 11:13    PDF Print E-mail
Pilihan detik terakhir
Ragam - Pena Pemred
McCAIN vs OBAMA

Dalam salah satu email dari Joe Biden, calon wakil presiden Partai Demokrat, yang masuk ke redaksi Waspada Online, bercerita betapa pentingnya pendidikan menjadi agenda utama dalam kemajuan suatu bangsa. Biden menceritakan bahwa istrinya, Jill, selama masa kampanye mengajar di beberapa instansi.

Tidak dijelaskan apa yang diajarkan istrinya. Mungkin saja pendidikan tentang Partai Demokrat sendiri yang sekaligus menjadi langkah persuasif kubu itu untuk meyakinkan sejumlah kalangan tertentu untuk memilih Barack Obama, calon presiden Demokrat.

Michelle Obama, istri sang capres kulit hitam, juga gencar kampanye email dan masuk pula ke redaksi Waspada Online. Michelle menyebarkan video yang menggambarkan ‘aksi-aksi' suaminya dalam berbagai kegiatan sosial di beberapa negara bagian. Tentu, video itu ditujukan untuk mendapat simpati rakyat dengan harapan aksi-aksi itu menjadi salah satu alasan untuk memilih Obama.

Email-email Joe Biden dan Michelle Obama, tidak lain dari kampanye untuk meminta  dukungan rakyat dengan memberikan sumbangan uang. Praktik rakyat yang memberi sumbangan kepada capres memang menjadi hal yang normal di AS. Lain halnya di Indonesia, dimana rakyat ‘dibayar' untuk memilih. Itupun, belum tentu pilihannya akan jatuh pada capres yang ‘membayar'. Detik terakhir itulah yang menentukan, tentu berdasarkan hati nurani pada detik itu.

Barack Obama juga mengirim email ke redaksi Waspada Online. Berbeda dengan Biden dan istrinya, Obama menceritakan kelemahan-kelemahan dan hal-hal yang buruk tentang rivalnya, John McCain. Obama berusaha untuk meyakinkan para penerima email itu bahwa McCain ‘jahat'. "Cara-cara McCain berkampanye tidak terhormat karena sering black campaign dan kampanye negatif yang menuding Obama tidak pantas untuk dipilih."

Tentu, dalam email itu, Obama tidak secara vulgar meminta sumbangan meski di bagian akhir ada imbauan untuk deposit uang $5 dengan mengklik URL yang sudah disediakan.

Jika diamati, kubu Obama lebih gencar berkampanye secara publik. McCain lebih pasif dalam menampilkan diri ke muka umum. McCain lebih memilih percaya pada tim kampanye atau tim suksesnya untuk bermanuver. Manuver-manuver itulah yang sering dituding kubu Obama sebagai kampanye hitam dan negatif.

Dalam penampilan debat capres AS yang terakhir, sementara itu, justru McCain yang menuding Obama sering melakukan kampanye hitam dan negatif. Obama menanggapi dengan meyerang balik, tentunya, menuding justru McCain yang demikian.

Jika melihat salah satu kebijakan isu ekonomi yang akan diterapkan kedua capres, sebagai solusi memulihkan kondisi ekonomi AS saat ini, Obama menawarkan peningkatan pajak bagi warga yang berpenghasilan diatas 250,000 dolar AS per tahun. Mereka tergolong sebagai ‘orang kaya'. Sedangkan McCain memilih untuk menurunkan pajak untuk semua golongan rakyat. McCain ingin menguntungkan semua golongan rakyat dengan harapan mereka tidak memikirkan dampak jangka panjang. Lain halnya Obama yang lebih pragmatis dengan terang-terangan akan merugikan orang kaya AS demi kepentingan bersama.

Wakil Presiden Jusuf Kalla pun menantang, meski Obama menjadi favorit tapi tetap diragukan apakah Obama bisa menghindari kebijakan dan komitmen-komitmen Presiden Bush terkait ekonomi. Penyebab anjloknya ekonomi AS ditujukan kepada pihak-pihak tertentu, beberapa perusahaan dan pelaku bisnis dan pasar AS sendiri, bukan karena kebijakan pemerintah. Jadi, pemerintah AS tidak bisa disalahkan, menurut salah satu pakar ekonomi dari Bloomberg, baru-baru ini dalam wawancara dengan FOX News.

Sedangkan Aviliani, ekonom senior INDEF menilai kebijakan Obama dalam mengatasi krisis ekonomi AS sudah tepat terutama dengan rencana memotong anggaran militer. Bahkan Aviliani berpendapat kepresidenan Obama akan menguntungkan ekonomi Indonesia hanya karena capres kulit hitam itu pernah sekolah di Jakarta dan punya nilai historis dengan Indonesia. Dia juga mengatakan sosok muda seperti Obama akan lebih menguntungkan daripada sosok tua. Sulit untuk dimengerti memang.

Opini yang menilai bahwa Obama akan menguntungkan Indonesia sulit untuk dijustifikasi. Jusuf Kalla pun menantang, "Apa sebenarnya yang bisa Indonesia manfaatkan dari Obama?"

Dalam hitungan jam, pemilihan presiden yang banyak menarik perhatian dunia akan membuktikan kebenaran opini-opini yang selama ini terbentuk, khususnya di Indonesia. "Demam Obama" yang selama ini mendominasi topik pembicaraan masyarakat Indonesia akan unfold itself.

Hasil akhir tergantung pada hati nurani rakyat pemilih AS sendiri. Mereka yang lebih paham dan lebih terlibat dalam dinamika Obama-euphoria yang terjadi. Dan tabiat pemilih AS lain dengan Indonesia. Rakyat AS akan betul-betul dengan sangat hati-hati memilih, sesuai dengan apa yang selama ini mereka yakini dari kedua capres. TIdak ada beban karena justru pemilih yang memberikan dana ke sang capres. Di Indonesia bagaimana?

Dan hati nurani mereka itu, tidak lain tergantung pada kehebatan masing-masing partai atau tim kampanye dalam meyakini masyarakat luas AS. Manuver-manuver masing-masing kubu akan terus berlanjut sampai detik terakhir, dengan berbagai cara yang terfikir bisa mempengaruhi para pemilih.

Bahkan seorang pemilih bisa beralih keyakinan, dari mulai keluar pintu rumah sampai ke tempat pemilihan. Dalam perjalanan, bisa saja mereka melihat sesuatu yang ternyata mempengaruhi nuraninya. Sebuah tulisan, pernyataan, dan tatapan mata sekalipun bisa menjadi faktor penentu sang pemilih.

Pilpres AS tahun ini akan sangat ketat. Penentu dari kemenangan akan sangat tergantung pada strategi tim kampanye. Betulkah janji-janji pada kampanye kedua capres menjadi penentu?

Jika ingat pada Pilpres 2004, Presiden Bush tidak banyak menjanjikan apa-apa kepada rakyatnya karena pada saat itu, Amerika sedang berada pada titik prima pemerintahan Bush. Hanyalah manuver-manuver kubu Demokrat yang mempengaruhi keadaan. Tapi ternyata, tetap saja Bush terpilih untuk kedua kalinya, setelah berbagai opini publik yang juga menilai dia kurang baik dan pantas.

Strategi dan kebolehan masing-masing tim kampanye (partai) akan menjadi penentu untuk memiih capresnya. Itu akan terjadi pada detik terakhir, bukan detik-detik.

Credit foto: timeinc.net
(dat01)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment