Tuesday, 23 April 2013 09:19    PDF Print E-mail
DPR hasil Pemilu 2014 tak bermutu
Warta

WASPADA ONLINE

JAKARTA - Kualitas anggota DPR hasil produk Pemilu 2014 tak bakal bisa memenuhi harapan masyarakat. Pasalnya,  partai masih mengutamakan kader berkocek tebal dan populer untuk menjadi caleg. Demikian dikatakan fungsionaris Partai Gerindra, Martin Hutabarat di Jakarta, tadi malam.

"Saya pesimis, pemilu 2014 melahirkan anggota DPR yang berkualitas," kata anggota Komisi III DPR ini.

join_facebookjoin_twitter

Menurut dia, sistem suara terbanyak dalam Pemilu 2014 memicu terjadinya kompetisi tak hanya antara caleg satu partai dengan partai lain. Tapi lebih dari itu, kompetisi dengan caleg seperti dalam satu daerah pemilihan. "Persaingan sangat keras," tekannya.

Namun dengan sistem seperti yang ada saat ini, ia justru mencermati caleg yang berkantong tebal dan populer bakal mulus melenggang ke Senayan. "Visi dan rekam jejak caleg dikesampingkan. Parpol lebih mengutamakan materi dan popularitas," ujar Martin.

Martin mengatakan, partainya tidak bisa berbuat apa-apa melihat realitas yang terjadi dari sistem pemilu yang terjadi saat ini. Sebagai partai kecil, Gerindra hanya mengekor. "Tapi kalau nantinya Gerindra  diberi kepercayaan rakyat menjadi partai besar, kami akan merubah ini semua," demikian Martin.

Pengamat Politik Hanta Yudha menilai kinerja DPR pascapemilu 2014 tidak akan ada perbaikan bila muka lama terus dipertahankan.

Sebab parlemen saat ini dihuni oleh anggota DPR yang memiliki kinerja legislasi,pengawasan dan penganggaran jauh dari target dan tidak optimal. Mempertahankan muka lama sama dengan membiarkan DPR tetap buruk.

"Citra parlemen saat ini buruk dengan serangkaian fungsinya yang tidak optimal dalam bidang legislasi, anggaran dan pengawasan. Jika muka lama dipertahankan, saya pesimis DPR membaik," tegas Hanya Yudha di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, banyaknya muka lama yang kembali mencalonkan diri merupakan potret macetnya parpol menciptakan regenerasi. Selain itu, juga merupakan indikasi bahwa parpol tidak peduli pada kualitas parlemen dan membiarkan negara ini diatur oleh orang yang tidak berkompeten.

Hanta mengatakan munculnya muka lama yang jelas-jelas tidak berkinerja baik di DPR memperlihatkan buruknya proses rekrutmen internal caleg. Munculnya muka lama yang mendominasi adalah bentuk kegagalan seleksi oleh parpol. "Ini potret hancurnya regenerasi parpol. Dan tidak jelas indikator rekrutmen parpol," tandasnya.

Selanjutnya dikatakan jika caleg yang sekarang tidak sigap dan sekadar memenuhi aspek keterwakilan suara, kinerja DPR termasuk fungsi legislasi hanya akan mengulang kegagalan.

Direktur Monitoring, Advokasi, dan Jaringan Pusat Studi Hukum & Kebijakan Indonesia (PSHK) Ronald Rofiandri di Jakarta, tadi malam, mengatakan tugas parlemen pascapemilu 2014 tidak mudah.

Ronald menyebutnya sebagai tugas yang luar biasa. Karena itu, PSHK berupaya memastikan bahwa parpol sudah lebih dulu mengevaluasi kinerja calon legislatif karena sesungguhnya kinerja mereka saat menjadi anggota dewan buruk dari sisi pencapaian target legislasi.

Menurutnya, dari sisi kualitas, caleg muka lama memang sulit untuk memberi warna baru bagi parlemen. Sebab, dari sisi kuantitas legislasi 2012, DPR baru menyetujui pengesahan 30-an undang-undang (UU).

Namun, mayoritas, yakni 20 UU, merupakan UU kumulatif terbuka seperti perjanjian atau ratifikasi internasional, UU tentang Anggaran, dan UU tentang Pembentukan Daerah Otonom Baru (12 UU).

Dari target 69 RUU yang tergolong prioritas atau masuk dalam Program Legislasi Nasional (Prolegnas) 2012, hanya 10 yang bisa direalisasikan.

Selain kuantitas, dari sisi kualitas UU yang dihasilkan juga sering diuji materi di Mahkamah Konstitusi  (MK). Sedikitnya ada 11 UU produk DPR periode 2009-2014 yang diuji materi.
(dat03/rmol/metronews)



WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment