Tuesday, 25 December 2012 08:45    PDF Print E-mail
Kondisi demografis stabilkan ekonomi
Warta

WASPADA ONLINE

JAKARTA - Kondisi perekonomian dunia belum menunjukkan tanda-tanda keluar dari krisis pada tahun depan. Melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia khususnya dari kawasan Eropa dan Amerika berdampak pada negara sekitarnya baik langsung maupun tidak.

Pertumbuhan yang rendah membuat permintaan konsumsi masyarakat tidak bergairah. Keadaan ini memukul kinerja ekspor sebagai penggerak roda pertumbuhan suatu negara. Hal ini yang terjadi pada Indonesia saat ini.

join_facebookjoin_twitter

Lemahnya ekspor mengoreksi prediksi pertumbuhan Indonesia tahun ini menjadi hanya 6,3 persen dari target 6,5 persen. Meski begitu pertumbuhan Indonesia dinilai tetap kuat karena disaat kondisi dunia tengah memburuk, masih bisa mencatat pertumbuhan di atas 6 persen.

Beruntung Indonesia memiliki keuntungan dari kondisi demografis di mana pertumbuhan penduduk kelas menengah dan berada di usia produktif cukup besar. Stabilnya kondisi makro ekonomi juga membuat kepercayaan investor tertuju pada Indonesia sebagai safe heaven.

Lembaga Financial Planning Standards Board menyebutkan, tahun lalu jumlah orang kaya di Indonesia mencapai 37.400 orang. Indikator kaya yang digunakannya adalah mempunyai harta di atas USD 1 juta, di luar rumah yang dimilikinya.

Ke depan, orang kaya baru di Indonesia bakal semakin banyak. Hasil penelitiannya menyebutkan, dalam kurun waktu empat tahun mendatang, akan ada 83.400 orang kaya.

Pengamat ekonomi Atma Jaya Antonius Prasetyantoko menyatakan usia produktif membuat aspek konsumsi orang kaya menjadi relatif tinggi. "Ini harus dimaksimalkan. Kita berada di momentum yang sangat baik," ujarnya, tadi malam.

Pertumbuhan orang kaya yang tinggi tahun ini disebut-sebut sudah melampaui China. Dengan keuntungan demografi usia produktif, orang kaya Indonesia saat ini didominasi kalangan muda.

"Perbedaan orang kaya muda akan mengkonsumsi lebih banyak daripada yang tua. Ini kesempatan bagi sektor mana pun.".

Dua aspek ini menjadi andalan pemerintah dalam menyambut badai krisis yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda pada tahun mendatang. Strategi pemerintah dalam menjaga dua faktor ini adalah dengan perbaikan infrastruktur yang salah satunya untuk menekan biayalogistik dan pemerataan kesejahteraan serta perbaikan dalam sisi regulasi dan birokrasi sehingga tercipta iklim investasi yang baik.

Menteri Keuangan Agus Martowardojo mengatakan dengan penggenjotan penyerapan anggaran, implementasi MP3EI, program hilirisasi, insentif fiskal industri, dan penerapan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) juga menjadi sejumlah jurus pemerintah mencapai target pertumbuhan. "Pemerintah masih berkeyakinan kita bisa mencapai 6,8 persen," ujarnya.

Pemerintah berkeyakinan dengan dukungan swasta maka proyek MP3EI dapat berjalan lancar. Dengan pertumbuhan ekonomi domestik yang baik akan mendongkrak pertumbuhan investasi. "Dan insentif-insentif yang diberikan kepada pelaku usaha diharapkan 6,8 persen itu bisa kita capai.".

Terakhir, rencana kenaikan besaran PTKP dipercaya akanmendongkrak pertumbuhan secara signifikan. Kenaikan PTKP dapat mendorong pertumbuhan melalui peningkatan konsumsi domestik.

"Itu kan baru dasarnya karena bagi pekerja yang istrinya bekerja dan anak-anak itu akan lebih besar pendapatannya. Jadi ada peningkatan lebih dari 50 persen dari PTKP ini bisa dorong ekonomi Indonesia," ucapnya.

Pandangan pemerintah ini diamini oleh Asian Development Bank (ADB). Pakar ekonomi senior ADB Edimon Ginting mengatakan proyeksi ADB menunjukkan bahwa empat pilar pertumbuhan ekonomi Indonesia masih tumbuh positif.

Menurutnya, tahun depan konsumsi domestik masih memegang peranan penting bagi pertumbuhan ekonomi. Dia memproyeksikan konsumsi domestik menyumbang sekitar tiga persen kepada produk domestik bruto (PDB). Kuatnya konsumsi domestik akan mendorong pertumbuhan investasi.

"Indonesia menjadi negara tujuan investasi keempat setelah Amerika Serikat, China, dan India.".

Di sisi lain, dia juga mengatakan upaya pemerintah untuk mendorong pembangunan infrastruktur juga telah terlihat. "Infrastruktur naik tumbuh 20 persen walaupun diharapkan bisa lebih dari itu. Pemerintah masih ekspansi ini, budget Rp 1,7 triliun sampai 2014," kata Edimon.

Dengan pembangunan infrastruktur yang tumbuh tinggi itu, lanjut dia, bisa menekan naiknya harga barang di Tanah Air. Selain itu meski tahun ini kegiatan ekspor-impor Indonesia mengalami defisit. Menurut Edimon tren itu tidak akan berlanjut hingga tahun depan.

Pandangan berbeda justru datang dari Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa. Hatta mengaku pesimis dengan target pertumbuhan Indonesia 2013 yang dipatok 6,8 persen dalam asumsi makro APBN 2013.

Mantan Menteri Perhubungan melihat laju pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai tahun depan di kisaran 6,3 persen sampai 6,5 persen. "Tidak akan kurang dari range 6,3 persen sampai 6,5 persen itu. Maka kita harus realistis juga," ujarnya.

Hatta berpendapat melemahnya pertumbuhan ekonomi dunia akibat krisis membuat kinerja ekonomi nasional terkena imbasnya. Krisis dunia membuat permintaan atau daya beli dunia turut menurun.

Kondisi Amerika dan Eropa yang masih belum menemukan solusi akan permasalahan fiskal dan utang membuat Indonesia harus berhati-hati. "Jadi menurut saya kita mesti optimis tapi juga harus hati-hati dengan melihat perkembangan global itu," ucapnya.
(dat03/merdeka)

WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment