|
||||
| Usut Korlantas, lebih cepat lebih baik |
| Warta |
|
WASPADA ONLINE "Lebih cepat dan lebih baik KPK yang menyelesaikan. KPK lebih netral. Netralitas itu penting," tegas JK dalam dialog dengan tokoh-tokoh nasional di kediamannya, Kompleks Perumahan Pondok Indah, Jakarta Selatan, tadi malam. Hadir dalam acara buka bersama yang dilanjutkan dengan dialog tersebut, Priyo Budi Santoso, Akbar Faisal, Hadjriyanto Y Thohari, Ferry Mursidan Baldan, Effendi Ghozali, Fahmi Idris, Burhanuddin Abdullah, Iqbal Latanro, Asa Mahmud, Maruarar Sirait, Azumardi Azra dan tokoh lintas partai lainnya. Ditambahkan JK, KPK sebetulnya lebih berhak menangani kasus tersebut dibandingkan dengan polisi. Hal ini sesuai dengan Undang-Undang yang ada, di mana bila sudah ada aparat yang masuk atau menangani suatu kasus, maka aparat penegak hukum lain tidak boleh ikut menangani. Namun ia menekankan kepada kepolisian bahwa dalam pengungkapannya di KPK, polisi juga terlibat melalui penyidik yang dikirimkan ke KPK. Mabes Polri boleh saja terus “merecoki” penyidikan kasus korupsi driving simulator SIM di Korlantas Polri. Namun KPK tidak gentar, lembaga superbody ini sudah menyiapkan strategi jitu untuk menyelesaikan penyidikan kasus yang menjerat jenderal bintang dua Polri, Djoko Susilo hingga tuntas. Dalam menangani kasus ini, KPK cukup “dapat perlawanan” dari markas Trunojoyo. Perlawanan itu memang tidak secara langsung, tapi dengan sama-sama menyidik kasus ini. Beberapa tersangka yang ditetapkan KPK juga ditetapkan Polri. Bahkan, tersangka itu kini ditahan di Rutan Mako Brimob Polri. Barang bukti kasus ini juga terus dijagai, sehingga KPK tidak mudah mengaksesnya. Namun, hal itu tidak berpengaruh pada suasa kebatinan KPK. “Kita berkerja seperti biasanya. Itu nggak ngaruh apa-apa,” ujar jubir KPK Johan Budi SP kepada wartawan, tadi malam. Jika cara yang dilakukan sekarang menemui kendala, KPK akan menggunakan jurus dan strategi baru. Seperti apa stateginya? Johan tidak mau mengungkapkan. “Yang namanya strategi ya tidak bisa diumumkan dong,” imbuhnya. Dalam waktu dekat, Ketua KPK Abraham Samad dan Kapolri Jenderal Timur Pradopo juga akan melakukan pertemuan. Nah, di pertemuan itu nanti akan dicari kesempakatan agar dalam penanganan kasus ini KPK dan Polri tidak terkesan tarik-tarikan. “Waktunya satu dua hari ke depan. Untuk tempat, saya belum tahu,” aku Johan. Kabag Pemberitaan KPK Praharsa Nugraha menambahkan, KPK sangat yakin dengan langkah yang sudah diambil. Makanya, KPK tidak akan mundur. KPK akan menuntaskan kasus ini sesuai aturan yang berlaku. “Intinya, pimpinan KPK tetap yakin. Kita tidak patah arang,” ujarnya kepada wartawan, tadi malam. Priharsa sadar, saat ini beberapa tersangka kasus simulator ini ada dalam “genggaman” Mabes Polri. Barang bukti kasus itu juga terus jagaian “centeng” dari Polri. Tapi bagi KPK, itu bukan masalah. KPK tetap bisa menyidik orang-orang tadi dengan baik. “Kan tinggal tulis surat saja, bahwa kita mau menyidik orang-orang itu. Penyidikan bisa dilakukan di sana (Rutan Mako Brimob). Jadi, penyidikan akan terus berjalan,” demikian Priharsa. (dat03/rmol/wol) WARTA KARTUN |




JAKARTA - Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla, turut angkat bicara soal polemik penanganan kasus dugaan korupsi pada pengadaan simulator SIM di Korps Lalu Lintas (Korlantas) Mebes Polri. Bagi pria yang akrab disapa JK ini, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lebih baik menangani masalah ini, bukan justru Polri.
Comments