|
||||
| Gertakan SBY tak 'main' lagi |
| Warta |
WASPADA ONLINE JAKARTA - Beberapa waktu lalu, Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto mengatakan bahwa ada menteri yang saat ini kinerjanya di bawah standar.Namun menurut pengamat politik Universitas Indonesia Iberamsjah, hal tersebut justru tidak akan berpengaruh terhadap kinerja menteri di Kabinet Indonesia Bersatu jilid II. "Mau rapor merah, coklat, atau hitam, itu enggak guna kalau enggak ada tindakan," kata Iberamsjah saat berbincang dengan wartawan, hari ini. Dia juga menambahkan bahwa partai politik yang memiliki menteri di dalam kabinet tidak akan takut dengan pernyataan seperti itu. "Partai-partai sudah hafal sikap Presiden SBY, jadi mereka tenang saja. Gertakan SBY sudah tak mempan," tegasnya. Seharusnya jika memang dianggap ada menteri yang kinerjanya di bawah standar, kata dia, Presiden langsung bertindak tanpa perlu terkesan “mengancam”. "Kalau dari kaca mata saya itu hanya basa basi tanpa maksud, tidak bermakna. Seharusnya presiden memberi diberi waktu kepada misalnya, Menko Perekonomian, kalau tidak mampu, menjalankan tugas, maka harus seperti dicopot. Atau Menteri Pertanian soal kedelai kita, yang berimbas kepada tempe dan tahu. Jadi diberi keputusan," tandasnya. Sebelumnya Kuntoro mengatakan bahwa menteri yang kurang perform memang ada. Tapidia melepaskan dari latar belakang atau warna politik menterinya. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta kepada para menterinya yang sibuk dengan urusan politik untuk mengundurkan diri dari jabatannya di Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. "Mari bersama-sama dan seperti dulu tahun 2008. Bagi saudara yang memang tidak bisa membagi waktu dan harus menyukseskan tugas politik, parpol manapun, saya persilahkan baik-baik untuk mengundurkan diri," tegas Presiden dalam sambutanya di sidang kabinet, Kamis 19 Juli lalu. "Jadi kalau memang, Pak SBY saya tidak bisa bagi tugas begini, dan saya punya tanggungjawab dan bagaimana kalau saya tidak tugas di pemerintahan agar saya bisa tugas di politik. Kalau itu memang pilihan dan tujuannya jelas, saya tidak bsia halang-halangi, tidak bisa," tuturnya. Seperti diketahui, sejumlah ketua umum partai politik duduk di kursi kabinet Indonesia bersatu Jilid II. Mereka adalah Ketua Umum PPP yang juga Menteri Agama Suryadharma Ali, Ketua Umum PAN menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Muhaimin Iskandar. Mengutip pernyataan SBY, Rabu lalu, saat memberikan sambutan dalam pembukaan Sidang Kabinet Terbatas di Kantor Kejaksaan Agung, Jakarta, SBY mengatakan 10 tahun bahkan 13 tahun lalu Indonesia mengalami krisis luar biasa dan multidimensional. "Saat itu dunia melihat rapor kita hampir semuanya merah. Dunia mengatakan Indonesia dalam keadaan yang sulit dan seperti negara gagal," ujarnya di depan jajaran pejabat politik hukum dan keamanan, saat itu. Namun dengan kerja keras dan juga pertolongan Tuhan Yang Maha Esa, kata Yudhoyono, semua pempimpin pada masa reformasi bisa mendapatkan kemajuan demi kemajuan. "Sekarang, bagi yang objektif membaca bagaimana dunia melihat kita, yang biru (nilai dalam rapor) semakin banyak sedangkan yang merah semakin sedikit," ujar Kepala Negara. Hal yang masih mendapatkan nilai merah, menurut Presiden, adalah penegakan hukum, pemberantasan korupsi, reformasi birokrasi dan gangguan keamanan dan ketertiban yang sifatnya horizontal. Menurutnya, saat ini sudah tidak ada lagi kekerasan negara terhadap rakyat, melainkan konflik komunal. Oleh karena itu, ia meminta kepada semua pihak untuk memiliki semangat untuk pembenahan diri agar masalah-masalah di dalam negeri bisa terselesaikan dengan baik dan capaian pemerintah pun membaik. (dat18/rmol/beritasatu/wol)
WARTA KARTUN |




JAKARTA - Beberapa waktu lalu, Kepala Unit Kerja Presiden Bidang Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) Kuntoro Mangkusubroto mengatakan bahwa ada menteri yang saat ini kinerjanya di bawah standar.
Comments