Tuesday, 31 July 2012 02:15    PDF Print E-mail
Duka rakyat Suriah Ramadhan ini
Warta
WASPADA ONLINE

DAMASKUS - Rakyat Suriah menjalani Ramadan dalam suasana berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Krisis berkepanjangan di negeri tersebut membuat muram kegembiraan datangnya bulan suci umat Mu`min 1433 Hijriah ini.

Jalan-jalan di Damaskus, Ibu Kota Suriah, sepi dari warga dan hanya segelintir dari mereka pergi ke Masjid untuk menunaikan Shalat Tarawih, ibadah yang dianjurkan dilaksanakan oleh umat Muslim setelah mereka berbuka, iftar, sebagaimana dikutip dari Xinhua-OANA, hari ini.

join_facebookjoin_twitter

Warga khawatir terhadap pemboman mendadak, yang sudah umum terjadi selama 17 bulan kerusuhan. Menurut banyak orang, Ramadan telah kehilangan daya tarik dan gemerlapnya. Sekarang hari jadi terasa panjang, panas, membosankan dan menakutkan, dipenuhi ketakutan.

Banyak orang merasa gelisah di dalam rumah mereka sendiri dan tak berani keluar sekalipun untuk membeli kebutuhan pokok dan melakukan kegiatan mendesak. Bahkan opera sabun Ramadan, yang dulu biasa membuat warga Suriah terpaku di kursi mereka, sekarang tak menarik lagi akibat kerusuhan saat ini.

Pada akhir pekan pertama Ramadan, bentrokan antara pasukan pemerintah dengan gerilyawan telah meluas ke ibu kota Suriah dan bahkan ke Aleppo, kota terbesar di negeri tersebut. Kedua kota terbesar di Suriah itu telah lama menjadi pusat kekuatan yang setia kepada pemerintah Presiden Bashar al-Assad dan terhindar dari kerusuhan.

Situasi baru itu benar-benar mengejutkan sebagian besar warga di Damaskus, sehingga membuat mereka bergegas pergi ke pasar untuk membeli makanan dan barang lain kebutuhan pokok, dalam mempersiapkan diri menghadapi perang saudara yang tampaknya tak terhindarkan.

Rakyat Suriah sekarang terlalu sibuk untuk menjaga kehidupan mereka selama Ramadan, sementara kelangkaan bahan bakar dan barang lain melanda. Harga bahan pangan meroket; satu kilogram mentimun, yang dijual dengan harga tak lebih dari 25 pound Suriah sebelum Ramadan sekarang mencapai harga hampir 80 pound Suriah.

Sekarang diperlukan waktu hampir dua jam untuk mengisi bahan bakar mobil sebab puluhan mobil berbaris di luar stasiun pompa bensin sementara sinar Matahari menyengat dan laporan beredar mengenai kekurangan bahan bakar, terutama gas, kata Xinhua.

Sebagian warga bahkan memilih untuk memarkir kendaraan mereka dan jalan kaki guna menghemat bahan bakar untuk keperluan yang lebih mendesak, katanya. "Situasi sekarang sangat jauh berbeda setelah bertahun-tahun semuanya berlimpah," kata Amal Awad, seorang ibu rumah tangga. Ia menambahkan ia telah lebih dari setengah jam mendatangi toko demi toko cuma untuk membeli daun seledri.

"Yang membuat kondisi bertambah parah ialah kenyataan anak-anak kami tak mengerti apa yang terjadi dalam krisis sesungguhnya ... mereka merengek sepanjang hari dan mau keluar rumah," katanya.

Suami Amal mengatakan ia tak lagi bisa Shalat di masjid sebab ia menghindari kumpul-kumpul belakangan ini, karena kondisi itu bisa jadi sasaran empuk serangan. Keluhan terdengar dari seluruh ibu kota Suriah dan ketakutan tersebar luas bahwa kerusuhan lebih lanjut bisa terjadi sebab gerilyawan telah memperingatkan bahwa "jam nol" bagi serangan yang bakal mereka lancarkan ialah pertengahan Ramadan.

Sementara itu pasukan pemerintah juga telah memperlihatkan tekad yang tak pernah padam untuk mengusir apa yang mereka gambarkan sebagai kelompok teroris bersenjata dan membersihkan ibu kota dan kota besar Suriah dalam waktu dekat.
(dat18/antara/xinhua-oana)

 



WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment