MEDAN - Tanggal 5 Juni 2012 lalu, Kota Medan menerima Piala Adipura sebagai kategori Kota Metropolitan. Penghargaan bergengsi tersebut langsung diterima Walikota Medan, Rahudman Harahap dari Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono, di Istana Negara.
Tetapi, sudah hampir satu bulan setengah penghargaan itu diterima belum memberikan gaung apa-apa di tengah-tengah masyarakat. Politisi dari Partai Demokrat mengatakan itu mempertanyakan Adipura yang diterima Pemko Medan. "Terus terang, menurut pengamatan kami perolehan Piala Adipura sejauh ini tidak bergaung di masyarakat Kota Medan," kata Ketua Fraksi Partai Demokrat (FPD) DPRD Kota Medan, Herri Zulkarnaen, tadi malam.
Partai Demokrat adalah partai yang mengusung Rahudman Harahap sebagai walikota. Perolehan Piala Adipura, kata Herri, seharusnya bergaung untuk mendorong masyarakat agar ikut bersama-sama memelihara dan mempertahankannya. “Jadi, tidak hanya menjadi beban dan tanggungjawab Pemko, Dinas Kebersihan, camat, lurah dan kepling semata serta pejuang-pejuang kebersihan di lapangan,” kata anggota Komisi C ini.
Penilaian Piala Adipura, kata Herri sangat terkait kepada beberapa aspek lainnya seperti jalan, sungai, pasar, rumah sakit, sekolah, terminal dan tempat pembuangan sampah. Hal yang paling mendasar dari Piala Adipura itu jika dikaitkan dengan banjir, khususnya di wilayah Medan Utara yang selalu menjadi langganan setiap turun hujan. “Jadi, kita tidak ingin perolehan Piala Adipura itu mendapat kritikan. Karenanya, Pemko Medan harus mengerakan seluruh elemen masyarakat untuk ikut ambil bagian dalam rangka kebersihan itu, sehingga kehadiran Piala Adipura pantas diperoleh Kota Medan,” pungkasnya.
Ironisnya, tak berselang lama dari perolehan Piala Adipura bulan lalu itu, beberapa wilayah di Kota Medan terlihat fenomena yang agak 'aneh'. Betapa tidak, seusai Piala Adipura diraih, bak sampah yang biasa diletakkan diberbagai titik kota pun lenyap entah kemana.
Hal ini sangat membuat kecewa warga masyarakat, yang mengaku kesulitan membuang sampah karena tidak adanya bak sampah yang biasa disiapkan Pemko Medan saat getol-getolnya proses penilaian Adipura berlangsung. Sebagaimana yang terlihat di wilayah Jalan Sekip, Jalan Karya dan Sei Sikambing Medan.
"Habis Adipura, bak sampah yang biasa diletakkan di wilayah ini juga lenyap. Kami tak habis pikir mengapa seperti ini. Kami kesulitan membuang sampah. Karena rumah kami tidak memungkinkan untuk mengolah sampah sendiri atau membakarnya. jadi biasanya buang di bak sampah," ujar Halomoan Silitonga kepada Waspada Online.
Haloan menuturkan, kalau mengharapkan truk pengangkut sampah, tidak bisa dipastikan kapan datangnya. "Apalagi kita sering tidak berada di rumah karena mulai bekerja pagi-pagi sekali. Apa bak sampah itu hanya sekedar formalitas dalam proses penilaian Adipura saja?" tanya pria warga Jalan Sekip Medan ini. (dat03/wol/antara)
Comments