Sunday, 22 July 2012 12:54    PDF Print E-mail
NU himbau jangan lakukan ‘sweeping’
Warta
WASPADA ONLINE

SURABAYA - Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur menyatakan, sweeping pada sejumlah lokasi keramaian selama Ramadhan merupakan hak polisi.

“Itu hak polisi, nggak bagus kalau umat Islam merebut yang bukan hak. Hak kita sebatas membantu, mengusulkan atau mengontrol polisi,” kata Rais Syuriah PWNU Jatim KH Miftachul Akhyar di Surabaya, hari ini.

Pengasuh Pesantren Miftachussunnah, Kedungtarukan, Surabaya itu menilai “sweeping Ramadhan” justru mengesankan umat Islam mencampuri urusan aparat penegak hukum.

“NU tidak menyalahkan, tapi kita mendudukkan sesuatu sesuai porsi. Semangatnya bagus, tapi ’sweeping’ itu sangat mungkin diprovokasi orang lain untuk menyudutkan citra Islam sendiri,” katanya.

Ditanya kemungkinan organisasi kemasyarakatan yang melakukan “sweeping” Ramadhan itu dibubarkan agar tidak merusak citra Islam, dia mengatakan hal itu tidak perlu.

“Pembubaran itu bukan solusi, tapi cukup diingatkan agar kembali kepada porsi yang menjadi hak masyarakat dan hak polisi, sebab bila dicampur-campur akan menyudutkan citra Islam sendiri,” katanya.

Menurut dia, Islam memang mengajarkan “amar makruf nahi munkar” (mengajak pada kebaikan dan mencegah kejahatan), tapi cara melakukan ajaran itu bukan dengan “munkar” (cara yang jahat) pula.

“Dimana-mana, orang yang lembut dan orang yang keras itu ada, tapi sebaiknya didekati dengan persuasi, bukan dengan pembubaran, sebab solusi terbaik ada sinergi antara pelaku ’sweeping’ dengan polisi,” katanya.

Tentang perbedaan awal Ramadhan yang sering terjadi dan kemungkinan hal itu perlu disatukan, dia mengatakan, perbedaan awal Ramadhan itu merupakan hal yang sudah terjadi sejak zaman Sahabat Nabi.

“Sahabat Muawiyah pernah berbeda awal Ramadhan dengan Ibnu Abbas, lalu Ibnu Abbas menyatakan hal itu (perbedaan) sesuai dengan nabi, karena itu NU tidak mempersoalkan adanya perbedaan itu,” katanya.

Ia menilai perbedaan yang disatukan itu memang baik untuk persatuan Islam, tetapi hal itu sama dengan melawan takdir dan menyimpulkan ajaran Islam tidak cerdas, sebab perbedaan itu sebuah keniscayaan dari duniawi.

“Bisa saja disamakan, tetapi pasti akan tetap ada yang tidak sama karena mungkin informasinya tidak sampai atau informasi itu sampai tetapi memang ada perbedaan waktu antara dunia belahan barat dan timur,” katanya.

Karena itu, cara terbaik menyikapi perbedaan adalah saling menghormati dan tidak memaksakan kehendak. “Perbedaan yang dipaksa sama itu justru memaksakan kehendak dari melawan takdir dari dunia,” katanya.
(dat18/antara)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment