Saturday, 21 July 2012 07:18    PDF Print E-mail
Bah! Nasibmu Kinantan…
Ragam

AUSTIN ANTARIKSA
Kontributor WASPADA ONLINE

 
MEDAN - Kenyataan pahit harus diterima publik sepakbola Kota Medan, setelah PSMS kembali terdegradasi ke Divisi Utama musim depan. Ayam Kinantan turun kasta setelah hanya mampu finish di urutan16 klasemen Indonesian Super League (ISL).

Ini bukan pertama kali PSMS terdegradasi selama berlangsungnya ISL. Saat mengawali ISL pada musim kompetisi 2008-2009 lalu, klub yang berdiri pada 21 April 1950 itu juga turun kasta setelah di akhir kompetisi hanya finish di urutan 15.

Hal itu membuat Ayam Kinantan menjalani laga playoff menghadapi tim peringkat keempat Divisi Utama, Persebaya Surabaya. PSMS akhirnya terdegradasi setelah kalah penalti 6-7. Kini, proses degradasi PSMS justru lebih tragis karena tanpa ada kesempatan playoff.

Menduduki posisi tiga terbawah membuat PSMS secara otomatis harus tersingkir dari kompetisi paling elite di tanah air itu. Nasib sama juga dialami PSMS yang bertanding di kompetisi Indonesian Premier League (IPL). Tim yang dibenduk dadakan atau kurang empat hari kompetisi digelar itu, justru lebih miris lagi nasibnya dengan menduduki posisi juru kunci dari 12 kontestan di musim perdananya.

Kiprah PSMS di ISL memang tidak selalu mulus. Banyak masalah yang harus dihadapi, mulai kalah di Stadion Teladan yang selama ini dianggap angker, pendepakan pelatih kepala (Raja Isa) di awal kompetisi, pencoretan sejumlah pemain, hingga keterlambatan gaji.

Menutup putaran pertama, prestasi PSMS ISL sejatinya tidak terlalu buruk dengan menduduki peringkat 11. Meski manajemen awalnya memasang target masuk 10 Besar, tetapi hasil itu setidaknya cukup membuat tenang publik sepakbola Kota Medan.

Memasuki putaran kedua, persoalan penunggakan gaji pemain mulai menyeruak. Imbasnya, pemain yang diplot menjadi ikon PSMS ISL, Markus Haris Maulana, didepak hanya sehari setelah berbicara ke media, seputar mirisnya kelangsungan keuangannya.

Sang ikon yang menjadi jargon "PSMS asli yang ada Markusnya" akhirnya pindah ke PSMS IPL. Kiper utama PSMS ISL kemudian dipercayakan kepada Edi Kurnia sejak melawan PSPS Pekanbaru.

Mendekati musim berakhir, PSMS yang finish di urutan 11 pada putaran pertama, justru merosot ke posisi 14 dan membuat tim asuhan Suharto AD itu mendekati zona degradasi. Tidak konsistennya penampilan pemain dipengaruhi dengan tidak jelasnya pembayaran gaji mereka.

Namun, ancaman degradasi tidak bisa dihindarkan. Pasalnya, kondisi pemain jelang laga terakhir away di Kalimantan terus memengaruhi performa tim. Skuad yang tanpa gaji lima bulan itu bertanding tanpa didampingi manajer dan CEO. Hal itu menjadi isyarat tidak adanya keseriusan mereka (manajer dan CEO) untuk menghindarkan PSMS dari ancaman degradasi.

Alhasil, laga krusial harus dilewati dengan kekalahan. Kalah 3-1 lawan Mitra Kukar dan takluk 4-2 atas Persisam Samarinda. Ayam Kinantan pun finish ke-16 dengan 36 poin dan harus rela turun kasta ke Divisi Utama musim depan.

Terdegradasinya PSMS musim ini merujuk pada evaluasi besar-besaran. Baik dari susunan manajemen, pengurus, dan skuad. Selain manajemen dinilai gagal, skuad PSMS musim 2011/2012 juga jauh dari harapan.

Manajemen dituding mengesampingkan skill anak-anak Medan, sehingga hanya beberapa pemain yang asli putra daerah terpilih. Sebut saja Yoseph ‘Nico’ Ostanika Malau, Novi Handriawan, dan beberapa pemain PSMS U-21 asli Sumut. Selebihnya? Berasal dari luar Sumut. Padahal, Sumut sejak dahulu hingga kini masih dikenal sebagai gudangnya pemain andal.

Banyak kalangan menilai kemunduran PSMS karena pengurus dan manajemen tim yang tidak profesional mengelola klub. Bongkar pasang pemain seolah menjadi tradisi mengawali kompetisi, gonta-ganti pelatih pun tak bisa dihindari sebagai alibi kegagalan pengurus.  

Hmm…Yang selalu bertahan hanyalah pengurus dan manjemen tim. Padahal, mereka dinilai tidak mampu membawa PSMS ke arah yang lebih baik. Lantas, kapan pengurus PSMS diganti? Entahlah, lagipula kalaupun ada pergantian, orangnya itu-itu juga. Keterlaluan!

Hal ini pula yang mungkin membuat tidak adanya perusahaan/pengusaha yang mau membantu kesulitan dana seperti yang diharapkan pengurus dan pendukung. Kenapa? Karena mungkin mereka menilai PSMS hanyalah milik pengurus, bukan milik masyarakat Kota Medan. Bisa jadi begitu!

Harapan kita, PSMS tetap dicintai masyarakat meski musim depan berlaga di Divisi Utama. Ayam Kinantan harus tampil lebih berciri khas agar lebih dicintai masyarakat. Salah satunya mengutamakan potensi pemain lokal yang berkualitas.

Serahkan PSMS kepada mereka yang memang murni ingin mengembalikan marwah Ayam Kinantan sebagai klub besar dan sarat prestasi bersejarah. Pengurus yang merasa tidak mampu menjaga marwah PSMS sebaiknya mundur saja. Sudah cukup publik sepakbola Medan dibuat kecewa! Bukankah begitu?

Editor: AUSTIN ANTARIKSA
(dat18/wol/waspada)

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment