Bulan Ramadhan selalu membawa banyak cerita. Sebelum, saat berpuasa, bahkan hingga Lebaran nanti. Seperti, seminggu sebelum Ramadhan, semua harga kebutuhan pokok sudah merangkak naik. Bagi pecinta pedas seperti kebanyakan warga Sumatera Utara, cabai tentu menjadi pertimbangan. Dan seminggu menjelang Ramadhan, harga cabai pun merangkak naik.
Jika biasanya hanya berkisar Rp15 ribu hingga Rp20 ribu, menjelang Ramadhan, harga cabai di Medan saja bisa mencapai Rp30 ribu hingga Rp40 ribu. Lain lagi harga daging, ayam bahkan telur. Semua tentu saja 'bergembira' dengan kedatangan Ramadhan dan menunjukkannya dengan menaikkan harga jualnya.
Jika tahun-tahun yang lalu, kenaikan harga menjadi headline media massa, tahun ini, bukan lagi kenaikan harga barang kebutuhan pokok yang menjadi headline-nya. Masalah awal Ramadhan yang berbeda pun mewarnai wajah media massa Indonesia.
Indonesia yang terdiri dari sedemikian banyak suku bangsa dan keyakinan, tentu menjadi pelangi sendiri di dalam Islam. Perbedaan awal Ramadhan, akhir Ramadhan, jumlah rakaat tarawih seharusnya bisa disikapi dengan arif. Dan pemerintah sebagai wadahnya, tentu saja tidak boleh memihak kemanapun.
Prinsip rahmatan lil alamin haruslah menjadi pedoman bagi seluruh umat Islam di Indonesia. Islam Indonesia haruslah menjadi cerminan bagaimana keanekaragaman budaya, keyakinan dan adat istiadat tidak menjadi friksi yang akhirnya membuat kita semua saling menyakiti.
Jika prinsip rahmatan lil alamin ini kita bawa dalam kehidupan sehari-hari, secara pribadi saya berpendapat, rasanya kita akan malu untuk korupsi. Bagaimana tidak, sebagai khalifah atau pemimpin yang menerapkan prinsip rahmatan lil alamin, rasanya sungguh aneh untuk korupsi.
Rahmatin lil alamin pada dasarnya adalah membahagiakan orang lain, sebagaimana membahagiakan diri kita dan keluarga. Pemimpin yang rahmatan lil alamin tentu akan malu memberi atau menerima suap, gratifikasi atau apapun istilahnya, karena itu merendahkan dirinya dan orang lain.
Menjadi pemimpin yang rahmatan lil alamin, berarti menerapkan prinsip kepemimpinan Rasulullah. Melayani rakyat dengan adil, baik dan benar. Berhati-hati dalam mengambil keputusan, mempertimbangkan setiap kebijakan dan menerapkan semua peraturan yang dibuat.
Pemimpin yang rahmatan lil alamin, tentunya malu hanya membuat keputusan demi keuntungan partainya, golongannya atau keluarganya. Yang pasti pemimpin rahmatan lil alamin menjadikan Al Quran dan sunnah Rasulullah sebagai pedoman dan mengejawantahkannya dalam peraturan yang pro rakyat bukan pro uang.
Semoga Ramadhan kali ini, kita mampu menyerap perbedaan yang ada, berusaha memaknai rahmatan lil alamin dalam semua sendi kehidupan kita. Karena setiap dari kita adalah pemimpin, dan akan diminta pertanggungjawabannya terhadap kepemimpinan kita.
Marhaban Ramadhan, semoga kita semua mampu menjadi pemimpin yang rahmatan lil alamin. (dat03/wol)