Monday, 16 July 2012 00:17    PDF Print E-mail
Partai politik tempatnya para bandit
Warta

WASPADA ONLINE 

JAKARTA - Partai politik dipastikan tidak akan mengajukan figur yang memiliki integritas dan kapabilitas untuk maju sebagai calon presiden pada 2014 mendatang.

Hal itu disampaikan mantan Ketua Umum DPP PAN, Soetrisno Bachir di sela-sela pengukuhan pengurus Keluarga Besar Pelajar Islam Indonesia di gedung Serbaguna, Perumahan DPR-RI, Kalibata, Jakarta, tadi malam.

join_facebookjoin_twitter

"Ini juga berdasarkan pengalaman saya, kalau parpol itu tempatnya para bandit yang justru melahirkan politik dan sistem transaksional," tegasnya.

Karena itu, dia berharap media massa dan semua pihak mendorong agar calon independen diberi peluang maju dalam pemilihan presiden mendatang. Bila jalur independen dibuka, lanjutnya, harapan negara akan lebih baik dipimpin oleh pemimpin yang murni untuk rakyat akan tercipta.

"Ini kan di setiap pemilihan (kepala) daerah sudah bisa (calon dari) independen. Di tingkat nasional pun harus bisa dan harus ada," tandasnya.

Namun rupanya, pernyataan Soetrisno Bachir ditentang oleh Wakil Ketua Partai Amanat Nasional (PAN), Dradjad Wibowo tidak setuju dengan pernyataan mantan Ketua Umum PAN, Soetrisno Bachir yang menyebutkan partai politik sebagai sarang bandit. Namun, Dradjad mengakui partai politik memang tidak benar-benar bersih.

"Saya sangat empati dengan kekecewaan mas Tris (Soetrisno Bachir), tapi tidak sepakat kalau parpol disebut sarang bandit. Masih banyak orang baik di partai politik, mereka memang harus berjuang keras untuk membuat parpol yang benar-benar bersih dan berguna bagi masyarakat," ujar Drajad kepada wartawan di Jakarta, tadi malam.

Drajad mengatakan, individu yang ingin masuk ke partai politik harus berlatih dalam mengelola kompleksitas di Indonesia. "Memang perlu dada seluas jagat raya ketika berpartai, perlu kesabaran yang hampir tanpa batas. Tapi itulah Indonesia," kata dia.

Menurut Drajad, keadaaan di parpol memang sangat luas spektrum anggotanya. Ada anggota yang alim dan idealis, namun ada juga yang tindakannya tidak terpuji; yang sangat tinggi pendidikannya bahkan profesor namun ada juga yang tidak tamat SD. "Ada yang latar belakangnya profesional, ada yang preman. Ada anggota kaya raya, ada yang pengangguran," urainya.

Menurut Dradjad, realitas dalam partai politik mencerminkan realitas Indonesia. Partai bisa menjadi kawah candradimuka bagi calon pemimpin, karena di dalamnya politikus harus belajar mengelola spektrum yang sangat luas tersebut.

Sebelumnya, Soetrisno menuturkan pengalaman pahit saat terjun ke dunia politik. Menurut dia, partai politik yang seharusnya menjadi jembatan bagi pemimpin muda untuk tumbuh justru menjadi penghambat bagi lahirnya pemimpin-pemimpin baik di negeri ini.

"Saya tahu dan pengalaman bahwa partai politik itu memang tempatnya bandit-bandit. Makanya saya tidak kuat dan keluar," kata Soetrisno Bachir kepada merdeka.com di Kompleks Perumahan Anggota DPR Jakarta, tadi malam.

Soetrisno mengatakan, realitas sistem politik di Indonesia ternyata menghasilkan suatu mekanisme kepemimpinan nasional yang tidak baik. Ruwetnya persoalan politik itulah membuat Soetrisno keluar dari PAN. Saat ini dia lebih memilih aktif di organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII).
(dat03/wol/rmol/merdeka)


 
WARTA KARTUN

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment