|
||||
| Parpol masih adopsi politik Orde Baru |
| Warta |
WASPADA ONLINE JAKARTA - Partai politik (parpol) di Indonesia sudah terjebak dalam kartel oligarki. Kebijakan parpol dan juga kepemimpinan parpol ditentukan orang yang sama baik karena kekayaan maupun karena pertemanan dan keturunan."Beberapa partai besar memang sudah digenggam kartel oligarki," ujar pengamat politik Boni Hargens, hari ini. Kartel oligarki ini mengontrol parpol di Indonesia saat ini sehingga susah keluar dari jebakan lingkaran setan kekuasaan. Namun, Partai NasDem, menurutnya, justru sedang meruntuhkan pola kartelisasi parpol tersebut. Pimpinan Oligarki seperti Ketua Dewan Pembina NasDem Surya Paloh berada di belakang layar dan membiarkan kalangan muda idealis dan intelektual menjalankan roda partai. Model kerja partai seperti ini tidak dipimpin kartel. Menurutnya, Surya Paloh sedang memberi contoh bagaimana harus membangun tradisi yang populis, bahwa dirinya tidak langsung mengontrol. "Akhirnya kita singgung, kepemimpinan muda di NasDem, orang-orang yang tak dikenal, aktivis biasa, suatu gebrakan baru, partai yang tidak dipimpin kartel. Oligarki seperti Surya Paloh hanya di balik layar," jelas Boni. Lebih jauh, menurut Boni, partai politik saat ini masih mewarisi cara berpolitik Orde Baru, yakni terjebak dalam lingkaran setan kartel politik. Mereka mengatur bagaimana politik berproses, sehingga demokratisasi di Indonesia sesudah Soeharto tidak memperlihatkan perubahan dalam mutu. "Bahkan kita bisa menyebut Bakrie, Laksamana sukardi, dan lain-lain, sebagai contoh bos kartel politik," ujarnya. Intinya, lanjut Boni, sesudah Soeharto, demokrasi Indonesia dibajak orang-orang kaya. Mereka itu disebut oligark. Para oligark ini, berubah wujud dan modus vivendi menjadi kartel karena sesudah 1998 peran partai menguat. Pada zaman Soeharto, partai tidak berperan kuat. Pada masa lalu mereka hanya oligarki murni. Sesudah 1998 mereka masuk partai dan membangun kartelisasi politik. "Kehadiran NasDem dan partai alternatif lain harus dalam konteks membongkar praktik kartel itu. NasDem tidak boleh terjebak dalam sistem kartel yang sama kalau benar mau jadi partai modern dan reformis," ujarnya. (dat06/mediaindonesia) |




JAKARTA - Partai politik (parpol) di Indonesia sudah terjebak dalam kartel oligarki. Kebijakan parpol dan juga kepemimpinan parpol ditentukan orang yang sama baik karena kekayaan maupun karena pertemanan dan keturunan.
Comments