|
||||
| Selamat ulang tahun Medan |
| Opini |
|
ANGGRAINI LUBIS WASPADA ONLINE 1 Juli 2012, Medan mencapai usia 422 tahun. 422 tahun, adalah usia yang cukup tua bagi sebuah kota. Beragam sejarah sudah pasti menyentuh Kota Medan. Beragam gaya kepemimpinan pun sudah dirasakan oleh ibukota Sumatera Utara ini. Medan, awalnya kota ini dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan konsep kota hijau (the green city). Dikelilingi berbagai perkebunan yang mulanya milik warga Belanda dan Belgia. Disamping perkebunan karet dan kelapa sawit juga tembakau Deli yang amat terkenal. Hasil perkebunan di Medan dapat membangun negara Belanda menjadi suatu negara moderen. Tidak heran jika daerah ini dijuluki dengan Deli, tanah dollar. Sesuai dengan konsep kota hijau maka pohon mahoni, pohon kecapi dan pohon keras lainnya ditanam di jalan tengah kota. Mahoni ditanam sepanjang jalan menuju ke pelabuhan Belawan yang panjangnya 25 km dari pusat kota. Pembangunan alun-alun juga menjadi perhatian Belanda dan awalnya dikelilingi oleh pohon beringin. Luas alun-alun lebih kurang 4 hektar dan bernama lapangan Esplanade yang artinya lapangan yang luas. Disekelilingnya dibangun stasiun kereta api (Deli Spoorweg Maatschappij), hotel (Hotel De Boer), bank (the Javasche bank) dan kantor pos (Post Kantoor). Meski tak disangkal pembangunan itu dipergunakan untuk kepentingan perusahaan perkebunan milik Belanda tapi diakui, bahwa begitu perhatian mereka akan sebuah pembangunan kota agar kota dapat berfungsi secara maksimal dan effisien. Belanda tidak melupakan pembangunan pertokoan yang menjual barang barang jadi. Semua pusat kegiatan ini berada pada satu kawasan yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Di bawah jalan di tengah kota ditanam riol, tempat pembuangan air limbah dimana orang bisa berjalan kaki di dalamnya. Tali air juga terdapat didalam kota. Kota Medan berada didataran yang rendah (DAS Deli) dan merupakan daerah tujuan jatuhnya air dari tanah Karo (pegunungan) dikala hujan. Mereka juga tidak lupa membangun Waterleiding (sekarang PAM) dimana airnya dapat diminum tanpa dimasak, pada saat itu. Bangunan rumah sakit, pasar, pembangkit listrik dan air bersih dibangun secara terpisah dan berjarak serta bersifat permanen. Dengan demikian kegiatan kota tidak tertuju pada satu titik yang dapat memicu kemacetan lalu lintas. Belanda tidak membangun bangunan dimana ada lahan yang tersedia, tapi berdasarkan pada suatu perencanaan tata ruang kota yang dapat memberikan layanan terbaik untuk masyarakat. Mereka selalu menjaga jarak supaya ditemukan ada ruang terbuka hijau sehingga suasana menjadi nyaman. Gedung dibangun berwibawa untuk menggambarkan, bahwa pemerintahan juga berwibawa dan disegani oleh siapa saja. Tapi itu cerita masa lalu. Itu Medan yang telah lalu. Medan hijau yang tinggal kenangan. Kini, sedikit saja yang dapat dilihat sebagai bukti perencanaan tata kota Medan yang benar saat itu. Rupanya perubahan kota bukan saja dilakukan oleh tenaga ahli perencana kota, tapi juga oleh pemerintah kota dan pengguna ruang kota, terutama jika masing-masing pihak tidak patuh dengan aturan aturan yang seharusnya dipedomani. Sampah menumpuk dimana-mana. Disiplin masyarakat terhadap keberadaan kota sudah tidak terlihat lagi. Banyak anggota masyarakat yang berbuat seenaknya tanpa pengawasan. Rasa segan pada polisi dan pejabat kota sudah sangat menurun. Dahulu hanya dengan pentungan, polisi dapat menertibkan masyarakat dan menghalau pencuri. Tapi kini? Senjata api pun tidak ditakuti. Esplanade yang menjadi paru-paru kota serta tempat bermain dan olahraga bagi remaja dan orang tua pensiunan, sekarang sebagian sudah berubah menjadi cafe, toko buku bekas dan kantor polisi. Medan dipenuhi kepentingan kapitalis yang berantakan tak terencana. Rumah toko ada di mana-mana. Medan telah berubah menjadi kota Ruko (rumah toko). Ketidaknyamanan ini terbukti pada survei yang dilakukan oleh Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAPI). Dari hasil survei yang dilakukan awal tahun ini, tercatat rata-rata Indeks Kenyamanan kota Medan adalah 46,92 persen. Artinya, hanya 46,92 persen responden yang mengaku nyaman tinggal di kota, selebihnya tak menyukai daerah kota untuk ditinggali. Medan berada di Indeks terendah dari sepuluh kota besar di Indonesia. Indeks tertinggi adalah kota Yogyakarta yang mencapai Indeks kenyamanan hampir 80 persen. Masyarakat Yogya mengaku sangat merasa nyaman tinggal di kota Yogyakarta. Pemicu ketidaknyamanan kota Medan antara lain penataan kota yang buruk, jumlah ruang terbuka hijau dan tingkat kriminalitas yang tinggi. Tiga faktor ini membuat anggota masyarakat tak lagi merasa nyaman hidup di Medan. “Jika tidak segera dibenahi, bakal dikalahkan oleh kota-kota baru yang dibentuk swasta” kata ketua IAP, Bernandus. Medan kini memang maju luar biasa. 2,1 juta penduduknya kini memerlukan kota penyangga yaitu Deli Serdang. Banyak komuter di sana. Bekerja di kota Medan tapi tingal di Deli Serdang. Pelabuhan Belawan terletak sekitar 20 km di utara kota merupakan pelabuhan besar. Pelabuhan ini merupakan yang terpenting di wilayah selat Malaka karena aktivitas pelabuhan tersebut yang sangat sibuk dan padat. Bandar Udara Internasional Polonia yang terletak di dalam kota, merupakan bandara penting dan menghubungkan Medan dengan Banda Aceh, Padang, Pekanbaru, Batam, Palembang, Jakarta, Gunung Sitoli serta Kuala Lumpur, Penang, Ipoh, Alor Setar di Malaysia, dan Singapura. Karena dianggap tak bisa menampung arus penumpang masuk dan pergi dari Medan, sebuah bandara internasional baru di Kuala Namu di kabupaten Deli Serdang kini sedang dalam pembangunan. Di bidang pendidikan, Medan juga memiliki jumlah universitas dan sekolah yang cukup banyak. 827 Sekolah Dasar, 337 Sekolah Menangah Pertama dan 288 Sekolah Menengah Atas serta 72 Perguruan Tinggi berada di kota Medan. Kini penghuni Medanlah lagi di dominasi Melayu, Mayoritas penduduk kota Medan sekarang ialah suku Jawa dan Suku-suku dari Tapanuli (Batak, Mandailing ), Karo dan Minangkabau. Juga keturunan India dan Tionghoa. Perubahan pola pemukiman kelompok-kelompok etnis juga terjadi. Etnis Melayu yang merupakan penduduk asli kota, banyak yang tinggal di pinggir kota. Etnis Tionghoa dan Minangkabau banyak yang tinggal di sekitar pusat-pusat perbelanjaan. Pemukiman orang Tionghoa dan Minangkabau itu sejalan dengan arah pemekaran dan perluasan fasilitas pusat perbelanjaan. Orang Mandailing juga memilih tinggal di pinggiran kota yang lebih nyaman. Oleh karena itu terdapat kecenderungan di kalangan masyarakat Mandailing untuk menjual rumah dan tanah mereka di tengah kota, seperti di Kampung Mesjid, Kota Maksum, dan Sungai Mati. Di bidang pemerintahan Medan pun berkembang pesat. Beragam penghargaan pun diterima Medan. Beberapa penghargaan itu seperti Langit Biru yakni kota memiliki udara bersih dibawah ambang batas dari Kementeri Lingkungan Hidup Tahun 2011. Penghargaan Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yakni perlindungan tenaga kerja dari Menakertrans Tahun 2012. Penghargaan Goverment Award Tahun 2012 yakni keberhasilan infrastruktur dari Menko Perekonomian. Piala Adipura kategori kota Metropolitan yakni kota terbesih dari Kementerian Lingkungan Hidup dan diserahkan Presiden RI Tahun 2012. Penghargaan Pemeringkatan e-Government Indonesia (PeGI) yakni keberhasilan pengelolaan informasi teknologi dari Kementerian Komunikasi dan Informatika. Penghargaan Badan Perlindungan Sengketa Konsumen (BPSK) Tahun 2012 yakni keberhasilan menyelesaikan konsumen dari Menteri Perdagangan. Namun, dibalik penghargaan itu, Menurut Ketua Fraksi Medan Bersatu DPRD Medan, Irwanto Tampubolon, masih banyak yang perlu dibenahi. Bahkan penghargaan itu harus dilakukan sebagai motivasi semangat kerja, karena mempertahankan adalah hal yang berat dari pada memperolehnya. “Penghargaan itu harus kita syukuri. Ini harus dipertahankan dan patut ditingkatkan. Semua pihak kita harapkan dapat mendukung dan mengerti akan kebijakan yang sifatnya meningkatkan pembangunan demi kepentingan umum ”, ujar Irwanto. Namun, penghargaan itu hanyalah piagam semata, jika pemerintah kota tidak bisa tegas dan bertanggung jawab. Walikota Medan periode 1990-2000, Bachtiar Djafar, punya catatan tersendiri atas kondisi Kota Medan terkini. Pria berusia kepala tujuh yang masih tampak segar berbicara panjang lebar tentang bagaimana membangun Kota Medan yang sesungguhnya. Menurutnya, Kota Medan itu seperti Surabaya, sama-sama menjadi dua kota potensial di Indonesia yang bisa menyamai kota metropolitan Jakarta. "Namun, yang namanya kota modern itu harusnya dibangun ke arah pantai, ke arah laut. Perkembangan dan peradaban kota yang baik itu ya seperti itu. Jakarta itu cepat berkembang karena dia memfokuskan dirinya ke arah laut. Tanjung Priok dibangun dengan baik. Begitu juga dengan Kota Surabaya," kata pensiunan kolonel TNI ini. Bachtiar mengaku tidak melihat hal itu di Kota Medan. Kawasan utara yang ke arah laut justru masih kosong, namun padat di bagian tengah. "Di mana pun kota di dunia ini, semuanya dibangun ke arah pantai," katanya. Kata dia, sebenarnya sangat sederhana membangun sebuah kota, terutama yang dibangun mengarah ke laut, yakni bangun sarana dan prasarana, sediakan fasilitas air minum, listrik, jalan, dan beberapa fasilitas lainnya. Saat menjadi Walikota Medan, hal itu telah ia terapkan dengan membangun daerah Marelan yang dekat ke arah laut Belawan. Ia mengungkapkan, masih ada daerah lain di kawasan utara yang bisa dikembangkan, seperti Medan Labuhan dan Medan Deli. Untuk membuka peluang dan akses Pemko Medan terhadap kawasan yang dikuasai pemerintah pusat, seharusnya Pempropsu memposisikan dirinya menjadi mediator, agar kondisi minor tersebut tidak terus dialami Pemko Medan. "Untuk kondisi-kondisi seperti itu, memang harus gubernur yang menangani. Panggil Walikota Medan, panggil Bupati Deliserdang, serta pihak-pihak terkait lainnya. Saya sendiri sudah menggagas hal itu," papar Bachtiar. Kini, jikalah perantau kembali ke Medan, dirinya akan melihat perubahan besar dari kota tercinta ini. Kemacetan, kesemrawutan lalu lintas dan tata kota, banjir, gersang dan abu akan menyambut. Gedung tua sudah berganti menjadi pertokoan. Tanpa adanya jati diri seperti ini, Medan tengah menuju kota Megapolitan. Memang hidup terus berjalan, tapi haruslah jalan yang bertanggung jawab. “Pemerintah kota harus tegas apa yang boleh dan tidak boleh dalam penataan kota,” kata analis lingkungan, Jaya Arjuna. “Medan sudah kehilangan identitas,” kata Budi Agustono, analis sejarah dari USU. Dan sebuah kota tanpa akar sejarah kuat, lanjutnya hanyalah akan menjadi kota tanpa kenangan. Semoga di tahun-tahun akan datang, Medan kembali menemukan kembali akarnya. Mampu menjadi kota yang mandiri dan nyaman bagi semua warganya, bukan sekedar kepentingan ekonomi semata. Selamat ulang tahun ke 422 Medan. (dat18/wol) |



