|
||||
| Langkat kembangkan jeruk pantai buaya |
| Warta |
|
WASPADA ONLINE STABAT - Petani di Kecamatan Besitang Kabupaten Langkat, Sumatera Utara saat ini kembali membudidayakan jeruk "jorok" atau jeruk pantai buaya yang pernah terkenal di tanah air. "Sebelumnya jeruk tersebut telah lama menghilang di pasaran akibat penyakit Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD), yaitu penyakit virus yang menyerang pada daun," kata Ketua Kelompok Tani NB Sinuan Desa Bukit Mas Kecamatan Besitang, Sueb, hari ini. Dia mengatakan, ada dua kelompok tani di Langkat yang mengembangkan jeruk tersebut, dan hampir mencapai 130 hektar. Dijelaskan, kenapa dikatakan jeruk "jorok", karena jeruk ini kulitnya hijau ke kekuning -kuningan, dan ada bercak-bercak hitam pada kulitnya, namun rasanya sangat manis. Jeruk Besitang ini dulunya sangat terkenal pada tahun 1988, dan bibitnya pertama kali dibawa oleh petani dari Bangkinang, Provinsi Riau. Kemudian jeruk ini dikembangkan oleh petani di Besitang, namun sekitar tahun 2007, jeruk jorok ini sudah tidak kelihatan lagi, diakibatkan serangan CVPD, diplodia (cendawan) dan lalat buah. Petani mulai kembali bergairah untuk menanam jeruk jorok ini, buktinya kelompoknya sendiri sedang mengembangkan budidaya buah tersebut di lahan seluas 25 hektare, ujar Sueb. Secara terpisah, Ketua Kelompok Tani Subur Desa Sekoci, Kecamatan Besitang, Saring mengatakan, pihaknya saat ini juga sedangkan membudidayakan jeruk jorok di lahan 25 hektare. Tanaman coklat muda dan sawit, menurut dia, banyak yang ditumbangi oleh petani dan mereka beralih menanam jeruk manis yang dulu sangat terkenal dengan nama jeruk jorok pantai buaya. Harga jeruk ini di kalangan petani mencapai Rp 6.000 per kilogram, dan biasanya jeruk ini dibawa ke Aceh atau Medan. Saring juga menjelaskan, usia panen jeruk Besitang ini dimulai dari umur tiga tahun, dan hasilnya sekali panen bisa mencapai 12 ton. Dari hasil jeruk ini sekali panen, petani dapat menghasilkan uang sebesar Rp72 juta.Dalam setahun panen jeruk dilakukan dua kali, katanya. Kini jeruk Besitang ini kembali dilirik konsumen karena rasanya yang manis, walau permukaan kulitnya kelihatan kotor (jorok), ucap dia. "Petani berharap perhatian dari pemerintah Langkat maupun pusat untuk budidaya jeruk "jorok" ini dapat diberikan bantuan, sehingga produksi jeruk kembali seperti tahun 1988," kata Saring. Editor:SASTROY BANGUN (dat17/antara) |




Comments