Tuesday, 26 June 2012 22:22    PDF Print E-mail
Plt Gubernur Sumut harus buka hati nuraninya
Warta
WASPADA ONLINE

MEDAN - Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Ifdal Kasim, mengatakan kondisi para petani yang melakukan aksi jahit mulut di depan gedung DPRD Sumatera Utara sangat menyedihkan. Pihak eksekutif dan legislatif di Sumatera Utara harus segera mengajak para petani berdiskusi demi mencari penyelesaian konflik.

"Ini keadaan yang menyedihkan. Gubernur harus terbuka nuraninya untuk menjawab masalah keluarga-keluarga ini, dan merespon cepat aksi tanpa pandang bulu. Harus ada jawaban, jangan dibiarkan rakyat begini," kata Ifdal, hari ini.

 join_facebookjoin_twitter

Ifdal berharap, bentuk protes dengan menjahit mulut segera dihentikan, terlebih beberapa orang petani sudah pingsan akibat aksi ini. "Warga harus diminta berhenti. Karena, kalau mereka mati akibat aksi tutup mulut, ini adalah tanggung jawab pemerintah daerah," tegasnya.

Sedikitnya sudah 15 petani telah melakukan aksi jahit mulut sejak dua pekan lalu. Tiga di antaranya terdiri dari perempuan. Akibat melakukan aksi itu, sebelas di antara mereka sempat pingsan dan dilarikan ke rumah sakit.

Aksi jahit mulut tersebut dilakukan para petani sebagai bentuk protes lantaran lahan tani mereka di Desa Tobing Tinggi, Kecamatan Aek Nabara Barumun, Kabupaten Padang Lawas, diserobot PT Sumatera Riang Lestari (SRL) dan PT Sumatera Silva Lestari (SSL). Para petani itu menuding dua perusahaan milik pengusaha Sukanto Tanoto ini sudah lebih dari lima puluh kali menyerobot dan merusak tanaman milik mereka. Bahkan, pada 25 April lalu, pamswakarsa perusahaan juga dituduh membakar rumah para petani.

"Ini sudah dilaporkan ke Komnas HAM, maka kami akan menindaklanjuti dan melakukan investigasi, terutama dalam kasus penangkapan petani Sinur Situmorang. Kalau tidak ada alat bukti penangkapan, Sinur harus dibebaskan," tegas Ifdal.

Ifdal juga meminta agar pelaku pembakaran rumah petani segera diproses sesuai hukum. Polda Sumut harus menindaklanjutinya. Penegak hukum diharapkan tidak berlaku diskriminatif dengan lebih memfasilitasi kerugian yang diderita perusahaan, sedangkan kerugian petani tidak direspon. "Komnas HAM fokus pada kekerasan yang terjadi. Kami minta Polda Sumut mengambil langkah hukum tegas terhadap pelaku pembakaran," tutupnya.

Kemalangan nasib puluhan petani yang melakukan aksi mogok makan dan jahit mulut di depan kantor DPRD Sumatera Utara. Ketika sedang tertidur lelap, para petani mendapat serangan dari orang tak dikenal. Mereka meminta agar para petani menghentikan aksinya yang terhitung dilakukan sejak 7 juni 2012 lalu di depan gedung Dewan Sumatera Utara itu. Koordinator Kontras Sumatera Utara, Muhrizal Syahputra, mendesak Kapolda Sumatera Utara melindungi para petani dan mengusut para pelaku penyerangan.

"Kapolda harus bertindak. Diduga ini dilakukan oleh orang-orang yang terkait hal ini. Ada aktor intelektualnya ini. Kepolisian harus bersikap dan melindungi masyarakat," kata Muhrizal.

Ini bukanlah serangan pertama. Para petani juga telah mendapat teror dari orang tak dikenal. Mereka datang menggunakan mobil Toyota Avanza silver bernomor polisi BB 645 B dan Avanza hitam yan tidak diketahui nomor polisinya. Serangan-serangan itu terkait aksi petani untuk memperjuangkan dugaan sebagai penyerobotan, perusakan lahan yang dilakukan perusahaan di Desa Tobing Tinggi, Kecamatan Aek Nabara Barumun, Palas.

Sebagaimana diketahui, Selasa dini hari tadi, para pelaku yang datang menggunakan mobil dan beberapa sepeda motor langsung menyerang dan merusak tenda para petani dengan balok kayu. Petani pun sempat terjaga dan memberikan perlawanan kelompok penyerang. Sempat terjadi saling pukul, akhirnya para petani berhasil memukul mundur para penyerang. Akibat serangan ini, belasan petani dan aktivis pendampingnya menggalami luka-luka.

Sebelumnya, telah terjadi penyerangan oleh orang tak dikenal (OTK), Jumat (22/6) lalu, sekira pukul 02.30 WIB terhadap para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Torang Jaya Mandiri Kabupaten Padang lawas (Palas). OTK melakukan pengancaman supaya peserta aksi yang bertahan dibubarkan dan jangan berada di areal gedung dewan dengan alasan malu pada panglima yang akan datang.

Diperkirakan lebih dari 10 orang OTK menggunakan mobil Avanza warna perak BB 645 B dan warna hitam yang belum terdeteksi nomor polisinya. Dalam aksinya, mereka menggunakan senjata tajam berupa kelewang sembari melakukan pengancaman kepada peserta aksi. "Siapa yang berani mendekat akan ditembak, sambil mencopoti beberapa atribut aksi. Sewaktu-waktu OTK itu akan kembali lagi dan melakukan hal sama, bahkan mungkin dilakukan dengan cara-cara lebih sadis lagi," kata Muhrizal Syahputra, Koordinator Kontras Sumut.
(dat17/wol/antara)

 

 

WARTA KARTUN

 

Comments

B
i
u
Quote
Code
List
List item
URL
Name *
URL
Code   
ChronoComments by chronoengine.com
Submit Comment