|
||||
| Ical: Jangan persoalkan etnis |
| Warta |
WASPADA ONLINE JAKARTA - Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, menyatakan bahwa kini bukan saatnya lagi mempersoalkan dikotomi etnis Jawa atau pun non-Jawa dalam konteks kepemimpinan nasional.Bagi Ical, panggilan Aburizal, melalui Sumpah Pemuda tahun 1928, seluruh etnis di Nusantara telah sepakat menjadi satu bangsa, yakni bangsa Indonesia. "Sumpah Pemuda sudah mengatakan, satu nusa, satu bahasa, satu bangsa, bangsa Indonesia. Kenapa mesti mundur lagi ke belakang [dengan] ada Jawa dan non-Jawa," ujarnya kepada wartawan, seusai acara ramah-tamah dengan masyarakat Mojokerto, Jawa Timur, tadi malam. Menurut Ical, selain alasan sudah tidak relevan dengan semangat kebangsaan, masalah Jawa atau non-Jawa sesungguhnya lebih kepada karakter dan kepribadian dari masyarakatnya. Baginya, yang disebut Jawa adalah njawani atau berperilaku sesuai tradisi dan kebudayaan serta menerapkan nilai-nilai luhur dan norma yang berlaku di dalam masyarakat Jawa. "Ada orang Jawa, tapi tidak njawani. Kalau menjadi orang Jawa, itu takdir. Kalau njawani, itu pilihan," terang Aburizal, yang pada pekan lalu dianugerahi gelar sebagai Warga Kehormatan Warok Ponorogo. Dengan berbagai pertimbangan itu, mantan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat itu menegaskan, dalam konteks Indonesia, kini sudah seharusnya tidak ada lagi istilah Jawa atau non-Jawa. (dat17/viva/media) |




JAKARTA - Ketua Umum Partai Golkar, Aburizal Bakrie, menyatakan bahwa kini bukan saatnya lagi mempersoalkan dikotomi etnis Jawa atau pun non-Jawa dalam konteks kepemimpinan nasional.
Comments